Adventure Puan Sihir Es

Oleh:Dani Afandi (Siswa SMPN 3 Satu Atap Lubukbesar)

 

Dahulu kala, di galaksi yang jauh, terdapat sebuah dunia mistis yang diselimuti awan keemasan dan penuh misteri. Hiduplah seorang penyihir tua legendaris bernama Rintaro. la memiliki sebuah sekolah sihir bernama Wistoria yang terletak di atas gunung yang tinggi tempat berlatih sihir bagi para pengelana.

Di sebuah kelas di Wistoria ada seorang anak perempuan berambut perak keabuan bernama Elis. Dia adalah murid terbaik di Wistoria dengan sihir es yang menonjol di antara murid yang lainnya. Dengan tekad yang tak tergoyahkan bercita-cita menjadi penyihir seperti Rintaro.

Suatu malam yang gelap, kekuatan jahat yang dikenal sebagai pelumpuh magis menyusup ke Wistoria. Dengan sunyi yang menakutkan berjalan menuju ruangan rahasia, pelumpuh magis menghancurkan tujuh bola sakral dan tertawa puas atas kekacauan yang dibuatnya.

Rintaro yang merasakan fondasi kekuatannya mulai hancur segera berlari ke balai Astaka tempat bola sakral berada, dengan nafas terengah-engah. la menyaksikan sosok berjubah hitam tertawa menyeringai atas malapetaka yang dibuatnya. Saat pelumuh magis mengincar tiga bola tersisa yang melayang, tiba-tiba satu bola sakral berwana biru menuju Rintaro, pelumpuh magis menuju Rintaro. Dengan marah ia meminta paksa bola sakral dari genggamannya. Pelumpuh magis menyiksa Rintaro dengan brutal, Rintaro yang tak berdaya karena sihirnya hilang hanya pasrah sambil berteriak.

“Tolonggggg!” teriak Rintaro kesakitan.

Elis yang kebetulan berada di dekat balai Astaka mendengar suara Rintaro dan menghampirinya. la melihat Rintaro yang sedang disiksa dengan sigap dia mengeluarkan sebuah angin topan es menerbangkan pelumpuh magis menjauh. Dia berlari menuju Rintaro dan menyembuhkannya dengan sihir penyembuhnya. Rintaro bangun dan berkata.

“Kenapa sihirmu masih ada anak muda?” heran Rintaro.

“Sihirku anugerah dari dewa es bukan anugerah dari sepuluh bola sakral itu,” jawab Elis.

Rintaro langsung paham kalau hanya Elislah bisa yang menyelamatkan dunia mistis dari kehancuran.

“Kau tahu anak muda anugerahmu sangat luar biasa, tapi lihatlah di sekeliling kita ketujuh bola sakral telah hancur membuat seluruh sihir di dunia ini lumpuh, dan hanya kaulah yang menyelamatkanya, sebelum ia kembali,” ujar Rintaro tua.

“Guru, ini sebuah kehormatan bagiku, aku tidak akan mengecewakanmu,” jawab Elis.

“Terimalah bola sakral yang bisa melacak dua bola yang terbangkan tadi,” kata Rintaro.

“Ehh, maaf guru, aku akan mengembalikannya ke tempatnya lagi,” jawab Elis berlari membawa bola sakral pelacak.

la mulai meninggalkan Wistoria dan mulai bertualang menaiki sapu terbangnya, terbang di udara mencari bola sakral. Saat berada di atas hutan yang lebat, sapu terbangnya kehabisan sihir dan jatuh menuju hutan. la menerobos pepohonan dan mendarat di atas goblin hijau.

Eh, apa ini, menjijikan!” Elis terkejut.

“Hei penyihir, apaan kau ini, mendarat di atas mangsaku!” kata seorang samurai Perempuan berzirah biru.

“Maafkan aku, samurai!” Jawab Elis sambil menundukkan kepala.

“Tidakkkk, kau memancing kawanan goblin!” ujar Samurai sambil menyiapkan pedangnya.

Mereka berdua dikepung oleh goblin raksasa bersenjatakan kapak. Samurai memegang tangan Elis dan berlari kabur. Sampainya mereka lolos dari segerombolan goblin, Samurai membuka zirah di kepalanya dan terlihat perempuan berambut hitam dan mata berwana merah.

“Apa-apaan kau ini, jatuh dari atas dan memancing goblin raksasa itu!” ujar Samurai.

“Maafkan aku, tiba-tiba sapu terbangku tidak ada sihir dan jatuh, sekarang aku tersesat!” kata Elis.

“Iya, ini adalah hutan para goblin yang berbahaya dan buas!” jawab Ruka.

Ikuti aku jika ingin keluar dari sini.” Mereka berdua berjalan menelusuri hutan goblin dan melihat goblin berkumpul di bawah bola sakral.

“Itu bola sakral, kita harus mengambilnya, Samurai!” kata Elis.

“Bola sakral? baiklah kita ambil, sepertinya itu berharga bagimu,” jawab Samurai.

Samurai mengalihkan perhatian goblin dan berlari, sementara Elis mengambil bola sakral gama yang berarti genggaman.

“Samurai aku sudah mendapatkanya!” teriak Elis.

“Baiklah goblin mari kita akhiri ini!” jawab samurai berlari ke goblin.

Dia loncat ke arah goblin sambil mengeluarkan pedangnya menebas kepala goblin, kepala goblin terlepas dan berceceran darah.

“Hebat samurai, kalo kamu bisa mengalihkan semua goblin, kenapa kita lari di awal?” Kata Elis.

“Biar seru aja, sekarang ayo kita keluar dari hutan ini!” Samurai sambil memegang tangan Elis.

Sampainya mereka di keluar hutan goblin, mereka melihat padang rumput yang luas dan hijau.

“Penyihir perkenalkan namaku Ruka, maukah kau menjadi temanku?” ujar Ruka sambil menjulurkan tangan.

“Namaku Elis, tentu saja mau!” jawab Elis sambil bersalaman.

“Aku akan bertualang Ruka, mencari satu bola sakral lagi!” kata Elis.

“Boleh aku ikut?”

Bola sakral? Heran Ruka.

“Tentu saja, bola sakral itu sumber energi sihir di dunia mistis yang sekarang lumpuh.” Kata Elis menjelaskan.

“Ohh, aku akan menjagamu teman,” jawab Ruka.

Mereka berdua menaiki sapu terbang dan terbang di atas padang rumput yang hijau.

Elis mengingat dirinya saat di Wistoria, ia selalu dijauhi teman sekelasnya karena sihir es yang dianggap aneh, tapi sekarang ia menemukan teman yang menerima dirinya apa adanya.

Saat terbang di udara tiba-tiba bola pelacaknya bersinar, menuju ke wilayah para iblis berada.

Dia terbang ke bawah bersama Ruka. la dan Ruka turun di wilayah para iblis. “Hati-hati Elis, aku merasakan aura membunuh yang kuat disini!” ujar Ruka.

Mereka berdua menjelajahi wilayah para iblis dan melihat pelumpuh magis mengambil bola sakral gamiat yang berati kegelapan. Elis menyerang pelumpuh magis, membuat bola gamiat terbang ke arahnya. Topeng pelumpuh magis hancur dan terlihat perempuan berambut cokelat dan mata berwarna ungu gelap.

“Ana, di sini kau rupanya, aku akan menghabisimu!” Kata Ruka dengan penuh amarah.

“Haha, bocah dari klan samurai dan penyhir lemah,” jawab Ana nada mengejek.

Ruka langsung menyerang Ana dengan brutal, “akan ku balaskan dendam klan ku.” la terus menyerang Ana dengan brutal. Ana yang merasa bosan segera mengakhiri pertarungan dengan menghempaskan Ruka ke tanah. Saat Ruka terpojok tiba-tiba waktu membeku. la melihat ke arah Elis.

“Gawat, aku melupakan penyihir itu!” ujar Ana ketakutan.

“Hebat, Elis,” kata Ruka.

“Sekarang akhiri pertarungan Ruka,” jawab Elis.

Ruka menebas kepala Ana, dan berbisik dalam hati ini untuk klan ku. Ruka berlari datang ke arah Elis sambil memeluknya.

“Aku harus pergi Elis, kita berpisah di sini!” kata Ruka sambil menangis.

“Iya sampai jumpa Ruka,” jawab Elis sedih.

Ruka berlari kencang ke arah utara sedangkan Elis terbang menuju barat. Elis telah tiba di Wistoria. Rintaro menyambutnya dengan senang. Rintaro meletakan bola sakral di tempatnya dan sihir di dunia mistis kembali lagi. Di depan semua siswa, Elis dijuluki sebagai Puan Sihir Es dan diberikan tugas menggantikan kedudukan Rintaro. Sedangkan Ruka memimpin klan samurai menggantikan ayahnya. Di malam yang gelap, Ruka dan Elis menatap bulan yang sama dan berharap akan bertemu lagi. (BP/ KM)*

 

 

Cerpen ini merupakan karya peserta Lomba Menulis Cerpen dalam rangka memperingati Bulan Bahasa yang diselenggarakan oleh MGMP Bahasa Indonesia, Bangka Tengah di Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, 23 Oktober 2025. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *