Oleh : Indra Pirmana
Pagi itu, Indra, Ziaudin, dan Topan tiba di sebuah wisata Pantai Batu Belimbing. Langit tampak cerah, tetapi angin laut berembus cukup kencang. Di hadapan mereka, batu-batu raksasa mirip belimbing berdiri kokoh di antara pasir putih. Suara deburan ombak terdengar berulang-ulang, berpadu dengan kicauan burung yang sesekali melintas di atas kepala.
“Kita harus segera menemukan gua itu sebelum air laut pasang,” kata Indra sambil menunjuk deretan batu raksasa di dekat pantai.
Mereka pun berjalan menyusuri pantai. Jalan yang mereka lalui semakin sempit dan licin. Ziaudin beberapa kali hampir terpeleset. Ketika mereka memasuki celah di antara batu-batu besar, tiba-tiba suasana berubah hening. Tempat itu gelap dan sunyi. Hanya suara tetesan air yang terdengar dari dalam gua samping batu itu.
Topan menggenggam erat tali tasnya. Jantungnya berdebar ketika terdengar suara gemerisik dari balik bebatuan disamping pantai. Mereka berhenti sejenak dan saling berpandangan. Indra mengangkat senter dan perlahan mengarahkannya ke sumber suara.
Tiba-tiba seekor biawak keluar dari balik batu besar itu dan berlari menjauh. Mereka terdiam sesaat, lalu Ziaudin tertawa lega.
“Wah, hampir saja aku berteriak!” katanya.
Setelah menemukan ukiran kuno di dinding gua samping batu belimbing, mereka segera keluar. Cahaya matahari kembali menyambut mereka. Ketegangan yang sejak tadi menyelimuti perjalanan perlahan berubah menjadi rasa lega dan gembira. Mereka pun kembali menyusuri pantai sambil menikmati pemandangan yang penuh bebatuan yang mirip belimbing dengan warna yang indah.
Kutipan Cerpen
Payung, 14 September 2026












