Legenda Potongan Rambut Batin Tikal 

Fhoto ilustrasi by AI

Oleh : Kulul Sari

 

Bekaespedia.com, Gudang–Simpang Rimba — Kabut tipis masih menggantung di lereng Bukit Nenek ketika seorang tokoh sakti yang dikenal dengan nama Batin Tikal perlahan menapaki jalan setapak menuju puncak. Angin berembus lembut, menggoyangkan rerumputan dan tumbuhan liar yang tumbuh di sepanjang jalan.

Tidak seorang pun tahu apa yang sedang bersemayam dalam pikirannya saat itu. Namun, langkah Batin Tikal tampak mantap. Seolah-olah ia sedang menuju suatu tempat untuk meninggalkan sebuah pesan yang kelak akan menjadi bagian dari kisah dan ingatan masyarakat.

Sesekali ia menghentikan langkah dan memandang alam di sekelilingnya. Dari sisi barat, di antara rerimbunan pepohonan, tampak hamparan alam yang membentang jauh hingga ke arah laut di Kampung Permis.

Hari itu Batin Tikal naik seorang diri ke puncak Bukit Nenek.

Sesampainya di atas, ia memilih sebuah batu besar untuk tempat duduk. Dalam keheningan puncak bukit, ia duduk termenung. Pandangannya menerawang jauh ke hamparan hutan dan langit yang seakan tidak bertepi.

Rambutnya yang panjang dan gimbal terurai hingga menyentuh punggung.

Tiba-tiba Batin Tikal mengambil sesuatu dari balik pinggangnya. Bibirnya bergerak perlahan, membaca kalimat yang tidak diketahui oleh siapa pun. Setelah itu, dengan tenang ia memegang rambut panjangnya dan mulai memotongnya.

Helai demi helai rambut jatuh di atas batu dan tanah di puncak Bukit Nenek.

Anehnya, setelah selesai memotong rambut, Batin Tikal tidak mengumpulkan ataupun membawa pulang potongan-potongan tersebut. Ia membiarkannya tetap berada di tempat itu.

Padahal, bagi masyarakat, rambut Batin Tikal bukanlah rambut biasa. Rambut tersebut dipercaya memiliki karomah dan menjadi bagian dari kesaktian yang melekat pada dirinya.

Sebelum meninggalkan puncak Bukit Nenek, Batin Tikal mengepalkan tangannya. Ia kemudian mengucapkan sebuah kalimat yang kelak dipercaya sebagai pesan sakral.

“Ku biarkan potongan rambutku berada di sini. Suatu saat nanti, hanya dari keturunanku yang bisa mengambil potongan rambut ini.”

Setelah mengucapkan pesan tersebut, Batin Tikal meninggalkan puncak Bukit Nenek.

 

Rambut yang Tak Mampu Dipotong

Waktu terus berjalan. Hari berganti bulan, bulan berganti tahun, dan tahun berubah menjadi masa yang panjang.

Konon, potongan rambut yang ditinggalkan Batin Tikal tidak sekadar menjadi benda mati. Rambut-rambut itu dipercaya seolah-olah menyatu dengan bebatuan di puncak Bukit Nenek. Bahkan, dari waktu ke waktu, keberadaannya tampak seperti terus tumbuh dan memiliki kehidupan sendiri.

Orang-orang yang mendaki Bukit Nenek mulai melihat dan memperhatikan keberadaan rambut tersebut.

Nama Abok Baten, sebutan masyarakat terhadap Batin Tikal, pun kembali menjadi buah bibir. Kisah tentang sosoknya telah diwariskan dari generasi ke generasi, bahkan menjadi cerita yang kerap dituturkan orang-orang tua kepada anak-anak mereka menjelang tidur.

Bagi masyarakat, Abok Baten bukan sekadar tokoh masa lalu. Ia dikenal sebagai sosok yang taat beribadah, memiliki keberanian, serta diyakini mempunyai kesaktian yang luar biasa.

Kabar tentang keberadaan potongan rambut Batin Tikal pun menyebar dari satu kampung ke kampung lainnya.

Sebagian masyarakat meyakini bahwa sehelai rambut peninggalan Batin Tikal memiliki keberkahan dan dapat menjadi perlindungan bagi pemiliknya. Keyakinan tersebut kemudian membuat beberapa orang datang ke puncak Bukit Nenek dengan harapan dapat membawa pulang sedikit dari peninggalan sang tokoh.

Namun, apa yang mereka temukan justru berada di luar dugaan.

Berulang kali orang mencoba mengambil potongan rambut tersebut. Ada yang menggunakan gunting, tetapi gunting itu tidak mampu memotong sehelai rambut pun.

Ada pula yang datang membawa parang tajam. Hasilnya tetap sama.

Bahkan, pernah ada seseorang yang mencoba menggunakan parang khusus untuk menyadap air kabung. Alat yang dikenal sangat tajam itu biasanya mampu membelah bagian pohon dengan mudah. Namun, ketika digunakan untuk memotong rambut tersebut, hasilnya tetap nihil.

Rambut itu tetap utuh.

Tidak tersentuh.

Seolah-olah ada kekuatan yang tidak kasatmata menjaganya.

Singkat cerita, tidak ada satu pun benda tajam yang mampu memotong rambut tersebut. Tidak seorang pun berhasil mengambilnya, bahkan hanya secuil.

 

Ketika Keturunan Batin Tikal Datang

Kisah tentang kegagalan orang-orang tersebut akhirnya sampai ke telinga Abok Bujang Gading, yang dikenal sebagai cucu Batin Tikal. Selain dikenal sebagai keturunan Batin Tikal, Abok Bujang Gading juga dipercaya memiliki kesaktian.

Mendengar cerita tentang potongan rambut yang berada di puncak Bukit Nenek, ia pun memutuskan untuk datang dan mencobanya sendiri.

Setibanya di puncak, Abok Bujang Gading, yang juga dikenal dengan sebutan Bujang Gedeng, langsung menghampiri tempat potongan rambut tersebut berada.

Masyarakat yang menyaksikan kedatangannya menunggu dengan penuh rasa penasaran. Mereka ingin melihat apakah Bujang Gading akan mengalami nasib yang sama seperti orang-orang sebelumnya.

Namun, sesuatu yang berbeda justru terjadi.

Tanpa mengerahkan tenaga dalam ataupun menunjukkan kesaktian apa pun, Abok Bujang Gading mengucapkan:

“Bismillahirrahmanirrahim.”

Kemudian ia membungkuk, memungut dan mengambil potongan rambut tersebut.

Dengan mudah, Abok Bujang Gading memungutnya, olah-olah rambut itu memang telah menunggu kedatangan orang yang memiliki hak untuk mengambilnya.

Peristiwa tersebut membuat masyarakat yang menyaksikannya semakin percaya terhadap pesan Batin Tikal yang pernah diucapkan di puncak Bukit Nenek.

Bagi mereka, pesan tersebut bukan sekadar ucapan biasa. Kisah itu kemudian dipandang sebagai bagian dari warisan leluhur yang mengandung makna tentang hubungan antara seorang tokoh dengan keturunannya.

Potongan rambut yang selama bertahun-tahun tidak mampu dipotong oleh benda tajam, akhirnya dapat diambil oleh keturunan Batin Tikal sendiri.

Cerita tentang Batin Tikal dan potongan rambutnya tetap menjadi bagian menarik dari khazanah cerita rakyat dan warisan lisan masyarakat Bangka Selatan.

Wallahu a‘lam bissawab.

 

* Dikisahkan berdasarkan penuturan Rudi Umar Ali Bursa. Menurut Rudi, kisah tersebut ia peroleh dari cerita Abok ‘Ain, mantan Penghulu Desa Gudang pada tahun 1987.

 

* Catatan: Kisah ini kami tulis dengan gaya bertutur dan disajikan sebagai bagian dari dokumentasi warisan budaya lisan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *