Tragedi Hadiah Ulang Tahun

Oplus_131072

Oleh : Aqiila Humairah (Siswa SDN 13 Koba)

 

Di sebuah desa pesisir timur yang tenang di Bangka, hiduplah seorang anak laki-laki bernama Sarman. la siswa kelas 5 SD yang akan berulang tahun ke-10, 1 hari lagi. Pagi itu, kabut tipis masih menyelimuti pepohonan bakau. Sarman terbangun karena suara gesekan kayu yang khas di dapur. Itu adalah suara ayah yang sedang memeriksa sungkur kesayangannya.

Sungkur adalah alat tangkap tradisional berbentuk segitiga dengan bingkai kayu dan jaring halus di tengahnya. Ayah Sarman seorang penyungkur ulung. Setiap hari, ayah masuk ke muara sungai atau tepian pantai untuk mencari ikan-ikan kecil atau udang demi sesuap nasi dan biaya sekolah Sarman. Selain itu, ayah Sarman juga punya sirok yang ia pasang tidak jauh dari pantai. Sirok juga alat tangkap tradisional yang terbuat dari anyam resam dan berfungsi seperti pagar laut. Ikan-ikan yang terjebak biasanya saat air laut pasang, tidak bisa keluar lagi. Nelayan tinggal menangkap ikan-ikan, kepiting atau udang menggunakan jaring tangguk.

Sarman telah ditinggal sang ibu saat ia duduk di kelas 2. Walaupun demikian, ia tidak kekurangan kasih sayang dari ayah dan keluarganya.

“Ayah, air pasang, ya?” tanya Sarman sambil mengucek mata.

Ayah tersenyum, garis-garis di wajahnya yang legam karena matahari tampak jelas.

“Ya Man, air sedang bagus. Ayah mau berangkat sekarang supaya bisa dapat banyak udang. Kamu mau kado apa untuk ulang tahunmu besok?”

Sarman terdiam. Sebenarnya, ia sangat ingin sebuah tas sekolah baru. Tasnya yang sekarang sudah banyak jahitan dan warnanya sudah pudar. Resletingnya juga sudah rusak, hanya mengandalkan peniti yang sudah berkarat. Tapi Sarman tahu, mencari uang dengan menyirok dan menyungkur itu melelahkan.

“Tidak usah kado, Yah. Yang penting ayah pulang dengan selamat saja!” jawab Sarman tulus.

Ayah mengusap kepala Sarman. “Doakan Ayah ya, Nak!”

Ayah berjalan menyusuri jalan setapak menuju muara sungai. Bahunya memikul sungkur yang cukup besar. Sesampainya di tepi air, ayah mulai menurunkan alatnya. Cara menggunakan sungkur tidaklah mudah. Ayah harus masuk ke dalam air setinggi pinggang lalu mendorong bingkai kayu itu ke dasar pasir sambil berjalan perlahan.

Sret… Sret…Sret…

Setiap langkah terasa berat karena tekanan air. Terkadang kaki ayah menginjak karang tajam atau ranting pohon bakau bahkan pecahan beling yang tersembunyi di bawah lumpur. Tak jarang kaki ayah berdarah. Peluh mulai bercucuran meski angin laut bertiup kencang.

Setiap beberapa meter, ayah mengangkat sungkurnya ke permukaan. “Yah, baru dapat sedikit!” gumam ayah melihat hanya ada beberapa ekor udang kecil yang melompat-lompat di jaring.

Ayah tidak menyerah. Di rumah, ada harapan yang harus ia penuhi. la kembali mendorong sungkurnya. 1 jam, 2 jam, hingga matahari tepat di atas kepala. Kulit punggung ayah terasa perih tersengat panas. Namun jemarinya tetap kokoh memegang gagang kayu sungkur itu.

Tiba-tiba, langit berubah mendung. Angin bertiup lebih kencang dari biasanya. Gelombang mulai naik. teman-teman penyungkur lainnya mulai menepi.

“Ayo pulang, Bang. Cuaca buruk!” teriak salah satu tetangga dari kejauhan.

Ayah menoleh ke langit. la teringat tas sekolah Sarman yang sobek. “Satu kali dorongan lagi!” bisik ayah pada dirinya.

Ayah kembali mendorong sungkurnya lebih dalam ke area yang banyak ditumbuhi akar bakau. Kakinya gemetar menahan arus yang mulai kuat. Saat ia mengangkat sungkurnya untuk terakhir kalinya, matanya berbinar. Dari balik jaring halus itu ada puluhan ekor udang galah besar yang terjebak, serta beberapa ekor ikan kakap putih yang tersesat.

“Alhamdulillah!” Ayah segera membawa hasil tangkapannya ke pinggir sebelum hujan turun dengan daras.

Hujan tak menyurutkan semangat ayah Sarman. Ayah menghampiri sirok. Pasir pantai masih basah karena hujan. Sesekali ayah berhenti untuk minum. Rezeki memang takkan ke mana.

Hasil sirok ayah lumayan. Ikan-ikan dan kepiting serta udang dikumpulkan di dalam wadah yang hampir penuh.

Sesampainya di pasar desa, hasil tangkapan ayah sangat diminati. Udang galahnya yang besar-besar dan ikan-ikan yang masih segar. Sore itu, ayah pulang dengan kantong baju sedikit lebih berat dari biasanya. Sebelum pulang ke rumah, ia singgah ke sebuah toko perlengkapan sekolah di pasar.

Perjalanan pulang melewati jalan beraspal dan hutan kecil. Hujan turun dengan intensitas lebat. Naas, musibah itu terjadi. Ayah Sarman diserempet mobil berukuran berat bermuatan besar. Truk itu meninggalkan korban begitu saja. Tak ada saksi mata di lokasi kejadian. Sesaat jenazahnya ditolong oleh pengendara yang lewat dan segera dibawa ke rumah sakit terdekat.

Malam harinya, hujan turun membasahi atap seng rumah mereka yang bocor di sana sini. Sarman belajar di bawah lampu minyak yang remang-remang ketika polisi mengetuk pintu.

“Assalamu’alaikum. Apakah benar ini rumah nak Sarman?”

Belum sempat Sarman menjawab, Sarman sudah merasakan kejanggalan.

“Mohon maaf nak Sarman, ayah nak Sarman manjadi korban tabrak lari. Kini jenazahnya sedang menuju ke sini.

Seketika Sarman ambruk. Saat siuman, banyak pelayat yang datang. Sarman masih belum percaya dengan apa yang ada di hadapannya.

“Nak Sarman, kami turut berdukacita. Bungkusan plastik ini kami temukan di samping ayahmu di rumah sakit. Kata dokter bungkusan ini dibawa oleh orang-orang yang mengantar ayahmu ke rumah sakit.”

Tangan Sarman bergetar hebat. Pelan-pelan ia buka bungkusan itu. Sebuah tas biru tua dengan merek yang masih menempel. Hadiah tas ulang tahun seperti yang dijanjikan ayah.

Air mata Sarman tumpah. Sesekali ia menyambut tangan dari para pentakziah. Dunianya benar-benar hancur. Hari yang seharusnya bahagia menjadi dukacita.

“Ini perjuangan ayahku, ayahku mungkin hanya seorang nelayan kecil. Tapi ayah ingin aku sekolah setinggi langit agar nanti tidak merasakan perihnya air laut setiap hari seperti ayah.” batin Sarman sambil memeluk tas biru tua itu.

“Terima kasih ayah, Sarman janji akan belajar rajin meski ayah sudah tiada!” janjinya.

Sarman beruntung memiliki keluarga yang mendukung sekolahnya. Dengan usaha keras, keluarga dari pihak ayah dan ibu menyekolahkan Sarman sampai perguruan tinggi. Jalanan berlobang dan terjal ia hadapi. Entah berapa doa dan air mata yang mengiringi perjuangannya.

Saat ia lelah, ia teringat akan sungkur. Setiap kali melihat sungkur yang bersandar di dinding rumah. Ia tidak melihatnya lagi sebagai alat pencari ikan biasa. Ia melihatnya sebagai simbol kasih sayang seorang ayah yang tak pernah surut meski diterjang ombak setinggi apa pun.

***

Sarman mengingat peristiwa 15 tahun silam. Saat ia berulang tahun ke-10. Hadiah tas baru dari ayah hasil menyungkur dan sirok yang justru diiringi dengan kedatangan jenazah sang ayah. la menatap muara sungai sambil duduk pada buritan perahu yang sering digunakan nalayan untuk turun melaut. Pandangan ia buang jauh sejauh masa lalu dan masa depan yang akan ia hadapi. Sesekali air sungai menghempas lembut kapal nelayan.

“Aku bersyukur, alam memberikan keberkahan pada kampungku. Hutan mangrove itu menjadi benteng bagi nelayan-nelayan. Ternyata benar kata Pak Guru Mukhlis dulu jika kita menjaga alam, maka alam akan memberikan hasil terbaik bagi manusia!” batin Sarman. Rasa bangga menyeruak di hatinya. Rimbunnya hutan itu memberikan dampak positif bagi masa depannya dan generasi lainnya.

“Walaupun ayah sudah tiada, aku harus menjaga hutan itu dengan mengajarkan kepada peserta didikku untuk terus menjaga hutan mangrove dan tidak membuang sampah di sungai maupun di laut!” pikirnya lagi.

Kini Sarman telah menjadi abdi negara dengan ijazah sarjana pendidikan. Ia juga aktif mengelola organisasi kemasyarakatan dengan melakukan penghijauan. Tak jauh dari tempat tinggalnya, ribuan bibit yang ia semai bersama anggota komunitas pencinta lingkungan. Sudah ratusan bahkan ribuan bibit yang ia dan teman-teman tanam sebagai bentuk aksi nyata peduli lingkungan. Tak jarang komunitas peduli lingkungan milik Sarman menjadi rujukan komunitas lain untuk berguru. Yang membanggakan, ia memperoleh hadiah kalpataru dari presiden yang diserahkan langsung oleh presiden di negara istana.

“Kalpataru ini untuk ayahku, sang pahlawan yang telah mengantarkanku sampai pada titik ini!” sambutan Sarman sambil mengangkat piala prestisius tersebut saat memberikan sambutan di hadapan presiden dan para menteri. (BP / KM)*

 

Catatan : Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kecamatan Koba Tahun 2026. Juara 1 tingkat kecamatan dan kabupaten. Mewakili Bangka Tengah ke tingkat nasional melalui babak penyisihan. Memperoleh juara 2 pada babak penyisihan degan selisih 1,40 poin dari juara 1. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *