Aksi Kecil Menjaga Bumi

Oleh: Rahma Nurfatta Azzahidi (Siswa SDN 1 Pangkalanbaru)

 

“Besok aku harus bangun pagi-pagi untuk membantu ibu di pasar,“ gumam Dino dalam hati. Dino Adalah anak yang pintar dan rajin. setiap hari dia membantu ibunya berjualan di pasar. Saat Dino sedang membantu ibunya dia melihat Lisa membuang sampah sembarangan. Padahal di pasar itu sudah disiapkan tempat sampah.

Lalu Dino mendekati Lisa dan menasihati Lisa untuk tidak membuang sampah sembarangan.

Lisa berkata, ”mengapa kita harus menjaga kebersihan bukankah itu tugas petugas kebersihan, bukan tugas kita.”

Dino menjawab, ”kebersihan adalah tugas kita semua dan dimulai dari kita sendiri dan membuang sampah sembarangan bisa merusak lingkugan, timbul penyakit, menyebabkan banjir dan muncul bau tidak sedap serta lingkugan menjadi kotor.”

Dino megajak Lisa untuk membersikan sampah yang berserakan. Lisa menyapu sedangkan Dino mengambil sampah dan memasukannya ke tong sampah. Tak lama kemudian datang petugas kebersihan dan melihat mereka bergotong royong. Dino dan Lisa membantu memasukkan sampah ke dalam truk sampah. Mereka bahagia karena perkerjaan cepat selesai. Sebagai ucapan terima kasih petugas kebersihan itu memberikan mereka es lilin sebagai hadiah.

Kesokan paginya Dino berangkat sekolah dengan ceria dan semangat. Di perjalanan dia melihat sungai di mana sungai tersebut tempat ia bermain dan mandi. Sekarang sungai tersebut tersebut sangat kotor, sungai itu sering disebut sebut sungai cikar karena memiliki air yang jernih dan bersih serta memiliki pemandagan yang indah. Sekarang sungai tersebut penuh dengan sampah mengapung, warna airnya coklat keruh dan ikan mati. Dino melanjutkan perjalanan ke sekolah.

Sesampainya di kelas Dino menceritakan keadaan sungai cikar kepada Galuh dan teman-teman.

“Hei Galuh hari ini aku melihat sungai tempat kita bermain sangat kotor padahal aku ingin mengajak kalian berenang di sana dan bermain air!”

Teman teman menjawab, “benarkah Dino? Wah kita tidak punya tempat bermain lagi karena sungai cikar sungai satu-satunya di desa ini apa yang harus kita lakukan?”

Lisa menjawab, “bagaimana sore ini kita bersama-sama membersikan sungai itu, pasti menyenangkan. Aku akan megajak orangtuaku untuk membantu kita.”

Galuh, Dino dan teman-teman setuju dengan ide tersebut.

“Wah ide bagus, aku juga akan megajak ayah dan ibu juga.

Sore harinya Galuh, Lisa, Dino dan teman teman pergi ke sungai cikar bersama orang tua mereka. Mereka membawa sapu, parang, tong sampah dan alat-alat kebersihan untuk membersikan sungai. Suasana di sungai cikar menjadi hangat dan ramai. Mereka saling membantu dan bergotong royong. Ada yang menyapu dan ada yang mengambil sampah dan membakarnya. Ada yang merapikan tanah di dekat sungai agar mengalir lebih deras. Ada juga warga desa lain yang lewat dan juga iku membantu. Tak terasa gotong royong selesai sebelum matahari terbenam. Sungai cikar kembali ramai.

“Aku tidak sabar besok pagi mandi di sini lagi,” ujar Dino kepada teman teman.

“aku juga. Kita janjian besok sore di sini saja,” ujar Galuh.

“Baiklah,” kata teman-teman.

Dari kejahuan terlihat ibu Lisa memangil. “Anak-anak, ke sini! Ibu punya teh dan pisang goreng, mendekatlah!”

Mereka berlari dengan girang ke arah ibu Lisa. Mereka makan pisang goreng dengan lahap dan rasa puas sambil melihat pemandagan sungai cikar. Tak lupa mereka memasang papan bertuliskan JAGA BUMI, JANGAN KOTORI SUNGAI CIKAR. Hari mulai gelap mereka pulang beramai-ramai ke rumah masing masing. (BP/ KM)*

 

Catatan: Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kecamatan Pangkalanbaru Tahun 2026 Cabang Menulis Cerita. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *