Oleh : Cecillia (Siswa SDN 15 Koba)
Halo Teman-Teman! Perkenalkan nama aku Cecillia aku biasanya dipanggil Cecil, aku bersekolah di SDN 15 Koba kelas V.a. Kehidupanku dipenuhi dengan buku pelajaran dan latihan vocal di kamar. Aku mempunyai mimpi besar, aku ingin menjadi seorang idol yang bersinar di atas panggung.
Pahlawan hebatku adalah Ayah Athan. Beliau adalah seorang petani sawit, meskipun lokasi perkebunan yang jauh ayah selalu pulang seminggu sekali. Aku selalu merindukan langkah kakinya di hari Sabtu. Ayah selalu bekerja keras demi mencukupi kebutuhan aku dan kak Earline di rumah.
Meskipun setiap hari ayah harus bergelut dengan teriknya sinar matahari dan kulitnya mulai menghitam dan tangannya menjadi kasar, ayah tidak pernah mengeluh bekerja keras demi menghidupi anak-anaknya. Setiap ayah pulang di hari Sabtu, aku selalu memeluknya dan Ayah bertanya “Bagaimana latihan vokalnya, Cecil?”
Di sisi lain ada Ibu Afen yang selalu menjaga dan mencukupi kebutuhan kami di rumah dan mendidik kami dengan ketegasan dan kasih sayang. Ibu mengajari kami bahwa kasih sayang bukan berarti memanjakan. Ibu selalu mendidik kami dengan tegas, cinta dan kasih sayang.
Pada suatu hari aku terlalu asyik menirukan koreografi idol favoritku di ruang tengah. Tanpa sengaja gerakanku menyenggol vas keramik kuno milik ibu. “Prang!” Aku terkejut dan mencoba menyembunyikan pecahan itu di bawah meja lalu berharap agar ibu tidak menyadarinya.
Tentu saja ibu segera menyadarinya, lalu Ibu berkata dengan tegas, “Cecil, kesalahan bisa dimaafkan tapi kebohongan tidak bisa dimaafkan,” lalu aku tersadar bahwa aku harus bertanggung jawab atas seluruh kesalahan yang telah aku buat.
Lalu Kak Earline menghampiriku dan menenangkanku. “Cil, menjadi idol itu butuh mental yang kuat, Cil,” ucap Kak Earline menenangkanku. Semua itu membuatku tahu bahwa Kak Earline, ayah, dan ibu selalu ada di sisiku dan selalu membantuku dalam menyelesaikan masalahku.
Pada suatu malam aku tidak sengaja mendengarkan percakapan ayah dan ibu di teras rumah.
“Kita harus lebih berhemat lagi, aku ingin Cecil masuk ke les vokal itu,” ucap ayah. Aku menyadari bahwa ayah dan ibu ingin mengirimku ke les vokal yang cukup jauh dari Koba.
Lalu aku menghampiri mereka dan memeluk mereka dan serta berjanji bahwa aku akan belajar lebih giat lagi untuk mencapai cita-citaku dimasa depan nanti. Lalu ibu memelukku erat dan mencium lembut keningku.
“Ayah dan ibu selalu mendukungmu, Cecil.”
Semenjak janji itu, aku mulai belajar lebih giat lagi untuk membanggakan ayah, ibu, dan Kak Earline, dan aku akan membuktikan bahwa aku bisa menjadi idol pada suatu hari nanti berkat dukungan ayah, ibu, dan kak Earline. Semua dukungan itu membuat aku mulai berusaha menjadi yang terbaik dalam mengejar cita cita.
Lalu aku tahu bahwa setiap pahlawan tidak selalu memiliki kekuatan. Pahlawan hebatku adalah Ayah Athan yang bekerja keras di ladang sawit dan ibuku yang mendidikku dan kak Earline dengan ketegasan dan kasih sayang yang di berikan kepadaku. Kak Earline yang selalu mendukungku dalam mengejar cita-cita. (BP/ KM)*
Catatan: Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kecamatan Koba Tahun 2026 cabang menulis cerita.












