Oleh : Indra Pirmana
Saat senja, semuanya mulai redup
hiasan bintang berkedip penuh keemasan,
bulan sedikit terang dalam menampakan sinarnya.
Pagi ini, saat matahari keluar dari sarang,
semuanya menunjukan dunia.
Aku goreskan di secarik kertas sebagai bukti.
Aku dan sastra sudah mendarah daging.
Untaian huruf, kata, kalimat,
dan paragraf menjadi sebuah bukti.
Aku dan sastra tetap abadi.
Kau adalah tempat aku bersandar, meluapkan saat bimbang!
Kau adalah tempat aku bersandar, meluapkan saat duka!
Kau adalah tempat aku bersandar, meluapkan saat bahagia!
Kau adalah tempat aku bersandar, meluapkan saat rindu!
Kau adalah tempat aku bersandar, meluapkan saat penuh harap!
Melalui tinta yang tak pernah lenyap.
Aku dan sastra,
menari bersama larik, bait, dan diksi
dihiasi majas merangkai kisah.
Kau aku jadikan pedoman
tempat aku mencari ketenangan,
melihat cinta sastra bersemi
kadang hilang terbawa angin.
Kalau sampai usiaku dimakan waktu,
akan kubiarkan, goresan tintaku abadi di secarik kertas.
Aku dan sastra, sebagai jendela masa depan.
Puisi ini mencerminkan sastra bagian dari ekspresi perasaan, pikiran, bahwa penulis dan sastra sudah menyatu. Namun kadang terang kadang redup, tetapi sampaikapan pun goresan tinta akan dikenang walaupun penulisnya sudah wafat. (BP/ KM)*
