Karya: Nayla Inara Febria (Siswa SDN 5 Koba)
Namaku Alya, aku tinggal di desa yang dijuluki desa bersih dan asri. Desaku memiliki bukit-bukit hijau, pepohonan rimbun, serta sungai-sungai yang mengalir berwarna kebiruan. Namun, suatu hari aku melihat dari jendela kamarku. Aku melihat salah satu bukit desa yang mulai gundul.
Dan juga dari kejauhan, aku melihat alat-alat berat dan sekumpulan orang dewasa di sana. Dalam hatiku, aku berkata, “sepertinya ada yang tidak beres di atas bukit!”
Esoknya di sekolah, aku dan teman-temanku belajar tentang bencana alam: apa penyebab dan akibatnya.
“Oke, anak-anak. Hari ini kita belajar tentang tanah longsor: apa penyebab dan apa akibatnya?” Kata Guruku.
Kami menjawab serentak, ”Baik, Bu.”
“Baiklah, kita mulai ya!” sambung Ibu Guru.
Ibu Guru pun menjelaskan tentang tanah longsor, lalu bertanya, ”Nah, ada yang tahu apa penyebabnya?”
Seisi kelas hening, karena belum tau tetapi ada satu murid yang menunjuk tangan yaitu Lana. Lana adalah temanku yang suka belajar tentang bencana alam. Ia juga anak yang rasa ingin tahunya besar.
“Saya, Bu!” kata Lana dengan percaya diri.
“Oke, Lana, apa jawabannya?” tanya Ibu Guru.
“Jadi penyebab salah satunya adalah penggundulan hutan, Bu” jawab Lana.
Setelah mendengar jawaban Lana, aku teringat kepada bukit yang hampir gundul itu, karena aku ingin tahu di sana ada apa, jadi aku ingin berdiskusi dengan dia.
Ibu Guru menjawab dengan senyum tipis, ”Oke, Lana, jawabanmu benar.”
“Baiklah, kita lanjut ya. Karena tadi Lana sudah menjawab salah satu penyebab tanah longsor adalah penggundulan hutan, sekarang Ibu mau tanya lagi kenapa penggundulan hutan bisa menyebabkan tanah longsor?” tanya Guruku.
Sekali lagi seisi kelas sunyi. Riri yang ranking 1 saja tidak bisa menjawab, lagi-lagi Lana yang menunjuk tangan untuk menjawab, ”Saya, Bu!”
Ibu Guru menjawab dengan wajah heran, ”Loh… loh… loh… kok Lana terus yang menjawab, yang lain bagaimana?”
“Kami, tidak tahu, Bu,” seru kami bersamaan.
“Ya sudah, Lana silakan jawab!” ucap Ibu Guru.
“Baik, Bu. Jadi jawabannya adalah karena hilangnya akar pohon yang berfungsi mengikat struktur tanah dan menyerap air hujan,” kata Lana.
Ibu Guru senyum lebar, ”Betul Lana!”
“Baik, kita lanjut ya!” seru Ibu Guru.
Tapi, tiba-tiba bel istirahat berbunyi dengan suara yang nyaring, “Kring… kring…”
“Karena, berhubung bel istirahat sudah berbunyi silakan istirahat ya, Nak!” ucap Ibu Guru.
Lalu, aku pun langsung menghampiri Lana.
”Lan, kemarin kan, aku melihat salah satu bukit desa, bukitnya udah mulai gundul gitu. Juga aku melihat ada alat-alat berat dan sekumpulan orang dewasa di atas bukit, aku ingin tahu di sana ada apa, tapi aku takut sendirian, jadi aku mau ajak kamu, kamu mau ikut gak?”
“Hmm… boleh!, kita pergi sore ya!” sahut Lana dengan semangat.
“Oke!” sambungku.
Sore hari pun tiba, kami pun mendaki bukit.
Tak lama kemudian, kami sampai di puncak bukit, benar saja seperti yang ku lihat kemarin di bukit ini hanya tersisa beberapa pohon dan tanaman kecil. Kami pun mencari alat-alat berat dan sejumlah orang dewasa itu.
Tiba-tiba, Lana menunjuk ke bawah tanah” Alya, lihat ada bekas lintasan alat berat!”
“Kamu benar, Lana ayo kita ikuti bekasnya!” ajakku.
“Ayo!” seru Lana.
Kami pun mengikuti bekas lintasan itu. Tak lama, kami pun menemukan alat-alat berat dan sekumpulan orang dewasa itu.
“Itu mereka!” ucap Lana.
“Benar, itu mereka. Kira-kira mereka apa kan bukit ini sampai hampir gundul?” tanyaku.
“Aku juga kurang tahu. Ngapain ya mereka?” tanya Lana.
“Oh, ya aku tahu, aku kan bawa ponsel, aku foto, lalu aku tunjukkan kepada Ayahku,” kataku.
“Ide, bagus Al, cepat foto sebelum mereka lihat!” jawab Lana lagi.
“Cekrek!” bunyi ponselku memotret.
Tiba-tiba, ”Hei! Kalian berdua!” ucap salah satu orang dewasa itu.
Jantungku berdetak kencang, ”Lan….lari!”
Orang dewasa itu, mengejar dari belakang.
Saat berlari, mendadak sandal jepit hijau kesayangan Lana terlepas.
”Alya, tunggu! Sandalku lepas!”
“Tinggalin sandalmu Lan! Kita dalam bahaya!” teriakku.
“T-tapi… sandalku… ya sudah lah, Alya tunggu!” seru Lana.
Kami berlari berkelok-kelok seperti ular, melewati batu-batu kerikil, dengan napas ngos-ngosan. Beberapa waktu kemudian, kami sampai di kaki bukit.
Di kaki bukit kami bersembunyi di pos ronda, kami bersembunyi di balik terpal hitam, walau agak sedikit bau. Dari balik terpal aku mengintip memastikan tidak ada lagi orang dewasa itu, saat merasa aman, aku pun memberitahu Lana.
“Lan! Kita selamat!”kataku dengan gembira sembari berloncat riang.
“Hah! Kita selamat! Baguslah,” seru Lana dengan napas ngos-ngosan tapi wajahnya bahagia.
Saat Lana berbicara aku teringat sandal jepit hijau kesayangannya.
”Lan… sandalmu…”
“Ah… tidak papa, nanti bisa beli baru,” canda Lana.
“Hahahahaha… kamu bercanda ya? Sandal jepit di rumahmu kan banyak, ya sudah yuk kita pulang!” ajakku.
“Haha… ayo!” sambung Lana.
Kami pun pulang ke rumah masing-masing.
Di rumah saat makan malam, aku menunjukkan foto itu kepada Ayahku.
”Ayah… difoto ini mereka sedang apa?”
“Mungkin, mereka sedang melakukan penebangan untuk membuat perkebunan sawit,” jawab Ayah.
“Yah… kenapa ditebang? Padahal dulu bukit ini salah satu bukit terbagus di desa!” keluhku.
Ayah tersenyum melihat wajahku yang cemberut.
“Ayah… tapi sawit bisa kan mengikat struktur tanah dan menyerap air hujan biar gak tanah longsor? Soalnya tadi aku belajar tentang tanah longsor di sekolah,” tanyaku agak panjang.
Ayah menjawab sembari mengelus pelan kepalaku.
”Alya… sawit bisa mengikat struktur tanah dan menyerap air hujan tapi tidak semaksimal pohon hutan.”
Setelah mendengar jawaban Ayah, aku langsung memikirkan cara agar penebangan pohon secara liar tidak terjadi lagi.
Esok di sekolah aku dan teman-temanku berdiskusi agar penebangan liar tidak terjadi lagi.
“Aku punya ide, kita buat video di hutan hijau dan di hutan yang gundul, lalu kita buat kata-kata, Ayo jaga bumi, jangan menebang pohon secara liar, setelah itu kita unggah di media sosial seperti Instagram, Tiktok, dan semacamnya,” kataku dengan penuh semangat.
Mendengar ucapanku, teman-temanku tersenyum, ”Idemu, bagus Al!”
“Apa perlu kita buat poster juga?” tanya Beni teman kelasku.
“Idemu juga bagus Beni!” kataku gembira.
“Kita buatnya sepulang sekolah, ya!” ajakku.
“Oke!” seru teman-temanku kompak.
“Kring… kring…” bel tanda pulang sekolah berbunyi. Semua siswa berlarian keluar sekolah, aku pun juga karena tak sabar membuat video da poster. Selang beberapa waktu akhirnya aku sampai rumah, dengan cepat aku mengganti baju. Kemudian aku berpamitan kepada Ibu.
“Ibu aku minta izin. Aku mau ke rumah Lana,” ucapku.
“Iya, Nak,” jawab Ibu.
Setelah berpamitan aku langsung berlari menemui teman-temanku, sebelum memulai kami menunggu teman yang belum datang.
Setelah semua hadir, kami membagi kelompok kerja, ada yang membuat video dan juga ada yang membuat poster. Kelompok pembuat poster membuat poster bertuliskan,”Hutan gundul, bencana timbul”, “Jaga bumi, jaga masa depan”, dan “Stop penebangan liar”.
Sedangkan aku masuk ke pembuatan video, seperti yang ku katakan tadi kami membuat video di hutan yang gundul dan di hutan yang hijau di salah satu bukit desa.
Yang menjadi juru kamera adalah Beni ”1… 2… 3… mulai” ucapnya.
Beberapa jam berlalu akhirnya video dan poster kami selesai, video diedit oleh Lana. Setelah selesai lalu kami unggah di media sosial seperti Tiktok, Instagram, dan media sosial lainnya.
Seminggu kemudian saat kami melihat videonya ternyata banyak yang menyukai, banyak komentar yang bagus walau ada juga yang tidak suka bahkan mengatai kami.
“Al… lihat ada yang tidak suka!” cemberut Lana.
“Biarkan saja dia, gak usah dipedulikan!” jawabku dengan tegas.
Walaupun kami menyadari usaha kami ini belum tentu bisa menggerakkan hati banyak orang untuk terus menjaga lingkungan, tetapi setidaknya kami sudah berusaha.
Kegiatan kami ini, didengar Ibu Kepala sekolah. Ibu Kepala sekolah suka dengan kegiatan kami yang positif. Karena hal itu kami di tunjuk menjadi duta peduli lingkungan.
Mulai sekarang aku tahu, dengan cara menjaga pohon dari penebangan liar, membuat bumi menjadi terjaga dari bencana banjir dan tanah longsor. Jadi mulai sekarang yuk, jaga bumi kita!. (BP/ KM)*
Catatan: Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kecamatan Koba Tahun 2026 cabang menulis cerita.*












