Ayo Jaga Warisan Masa Lalu! Konservasi Bukit Batu Kepale dan Bukit Nenek Jadi Langkah Menyelamatkan Jejak Peradaban 3.000 Tahun Yang Lalu

Bekaespedia.com, Gudang-Simpang Rimba,- Di tengah ancaman kerusakan lingkungan dan lunturnya kepedulian terhadap situs sejarah, upaya menjaga warisan alam dan budaya kembali digaungkan melalui

kegiatan konservasi di kawasan Bukit Batu Kepale dan Bukit Nenek, pada Jum’at (22/5/2016).

Kegiatan ini bukan sekadar perjalanan menembus alam, tetapi juga sebuah ajakan nyata kepada masyarakat untuk ikut merawat jejak peradaban yang telah bertahan ribuan tahun.

Bukit Batu Kepale dan Bukit Nenek menyimpan nilai sejarah yang tak ternilai.

“Diwilayah perbukitan yang berada di wilayah kita ini menyimpan jejak masa lalu yang perlu kita jaga. Pada masa penjajahan, Batin Tikal bersama pejuang-pejuang lainnya, bukit permisan ini merupakan tempat pertahanan”, jelas Datok Kulul Sari, ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Negeri serumpun sebalai kabupaten Bangka Selatan, ketika menyampai materinya.

“Dibukit Batu Kepale, menyimpan jejak manusia purba. Hal ini nyata terukir di goresan batu granit ini”, imbuhnya

Setidaknya, sudah beberapa kali dilakukan penelitian dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Goresan cadas yang ditemukan di lokasi bukit Batu Kepale diperkirakan telah berusia sekitar 3.000 tahun.

Temuan bersejarah ini masih terus diteliti lebih lanjut guna mengungkap lebih dalam kehidupan manusia pada masa lampau yang pernah meninggalkan jejak di kawasan Permisan.

Fakta ini menjadikan Bukit Batu Kepale dan Bukit Nenek bukan hanya sekadar bentang alam biasa, melainkan ruang sejarah terbuka yang menyimpan pesan penting tentang peradaban masa lalu. Karena itu, menjaga kawasan ini menjadi tanggung jawab bersama.

Demi menjaga kelestarian lingkungan dan memastikan pengalaman eksplorasi yang berkualitas, peserta kegiatan dibatasi hanya 30 orang yang berasal dari berbagai daerah seperti Pangkalpinang, Sungailiat, Belitung, hingga Toboali. Pembatasan ini dilakukan agar aktivitas eksplorasi tidak berdampak buruk terhadap ekosistem maupun situs budaya yang ada di lokasi.

Kegiatan konservasi ini juga memperoleh dukungan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Selatan (BKSDA Sumatera Selatan).

Koordinator, Ganang Ardis Elfiando bersama Ketua Pokdarwis Bukit Nenek, Edo Sanjaya, serta dukungan dari Andre Z, Ketua Komunitas Kelekak Bangka Kecamatan Mendo Barat, menjadi bukti bahwa pelestarian alam dan budaya membutuhkan gerakan bersama. Tidak cukup hanya mengagumi keindahan alam atau bangga terhadap sejarah leluhur, tetapi juga diperlukan tindakan nyata untuk melindunginya dari kerusakan dan kepunahan.

Melalui kegiatan ini, diharapkan kesadaran masyarakat semakin tumbuh terhadap pentingnya menjaga kelestarian alam sekaligus merawat warisan budaya yang diwariskan nenek moyang.

Bukit Batu Kepale memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata berbasis konservasi dan edukasi yang tidak hanya menghadirkan keindahan, tetapi juga edukasi sejarah dan nilai-nilai kearifan lokal.

Sudah saatnya masyarakat ikut ambil bagian. Sebab menjaga Bukit Batu Kepale, Bukit Nenek dan bukit Permisan bukan hanya tentang melestarikan alam, tetapi juga menyelamatkan identitas dan jejak sejarah untuk generasi mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *