Oleh: Nikita Ayatul Husna (Siswa SMPN 3 Pangkalanbaru)
Suasana SMP Nusantara kini tengah ramai karena hari ini sekolah mereka mengadakan bazar daerah yang mengangkat tema budaya daerah dari asal mereka masing-masing. Smp Nusantara adalah sekolah yang berisi anak-anak yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, mereka semua adalah anak-anak yang orang tuanya bekerja di pusat kota. Perbedaan bahasa dan suku sudah menjadi hal yang biasa di sana, namun walaupun seperti itu mereka sering bertengkar karena perbedaan pendapat dan bahasa.
“Selasa depan katanya bakal ada pertunjukan teater dari kelas sembilan, jadi kita harus menentukan tema untuk pertunjukan nanti,” ucap Sinta siswa kelas sembilan yang baru saja mendapatkan info kegiatan mereka kedepannya.
“Tadi aku sudah bertanya sama teman-teman, kebanyakan dari mereka setuju dengan tema bahasa daerah, jadi apa mungkin kita mengangkat tema itu?” Tanya Anggun, tadi sebelum mereka kembali ke tenda untuk menjaga makanan yang mereka jual. Anggun sempat bertanya ke teman-teman kelasnya tentang tema yang akan mereka gunakan untuk pertunjukan nanti. Kebanyakan dari teman-temannya memilih tema bahasa daerah, mengingat mereka semua berasal dari daerah yang berbeda-beda, mungkin akan mudah untuk dilakukan.
“Yakin? Nanti kalau ada pertengkaran bagaimana? Kamu tahu sendiri kan kadang-kadang teman-teman kita lebih mementingkan bahasa mereka sendiri ketimbang bahasa lainnya?” Tanya Sinta. Sinta tahu teman-temannya ini lebih memilih bahasa daerah mereka sendiri dan enggan mempelajari bahasa lain.
“Entahlah, nanti kita coba, kalau mereka bertengkar kita tinggal ganti temanya,” jawab Anggun.
Mereka akan memikirkan itu nanti, mereka sekarang fokus menjual berbagai macam makanan yang mereka dapatkan dari teman-teman kelasnya.
Kini anggun dan Sinta sudah berada di kelas, makanan yang mereka jual sudah habis tak tersisa dibeli oleh para tamu undangan, siswa-siswi dan para guru.
“Teman-teman, karena tadi kalian memilih tema bahasa daerah, aku dan Anggun ingin bertanya kepada kalian, kalian ingin mengambil bahasa apa sebagai isi dialog nanti?” tanya Sinta dengan suara lantang agar teman-temannya mendengar apa yang ia ucapkan.
“Bahasa Jawa,” jawab salah satu teman mereka yang ada di pojok kelas dan pernyataan itu disetujui oleh beberapa siswa yang berasal dari Jawa.
“Tidak ganti saja, tahun lalu saat pentas seni, kita sudah menggunakan budaya Jawa, sekarang giliran Bahasa Bali, dari tahun lalu bahasa Bali tidak pernah dipentaskan atau ditampilkan dalam pentas,” ucap seorang siswa yang berasal dari Bali.
“Bener!” jawab beberapa siswa yang setuju dengan pernyataan yang dilontarkan tadi.
“Bukannya Bali pada saat bulan lalu sudah ditampilkan, ya? Bukankah saatnya bahasa kami yang ditampilkan?” ucap seorang siswi yang tidak mau kalah dengan perdebatan itu.
Kini suasana kelas ramai, mereka sibuk dengan menentukan bahasa apa yang akan mereka gunakan nanti. Kata-kata ketidaksukaan mereka tentang pendapat yang dilontarkan oleh beberapa siswa terdengar. Anggun dan Sinta yang mendengarkan itu hanya saling pandang, bingung dengan situasi ini.
“Sudah jika kalian tidak setuju dengan bahasa Sunda, biarkan kami membuat pertunjukan kami sendiri, kami bisa membuat pertunjukan yang bagus dari pada kalian semua,” ucap salah satu siswa yang berdiri menatap kesal kepada semua orang di kelas.
“Silakan saja, kami juga akan membuat pertunjukan kami sendiri!” Jawab salah satu siswi, yang juga kesal dengan perdebatan yang tidak akan ada habisnya ini.
“Teman-teman, sudah jangan bertengkar, ayo kita diskusikan ini dengan baik, jangan gunakan emosi seperti ini,” Lerai Anggun, namun tidak ada yang mendengar, mereka sibuk dengan mereka masing-masing, sibuk menyalahkan dan menjelekan bahasa lain.
Anggun dan Sinta bingung harus bagaimana, teman-temannya tidak ada yang mau mendengarkan perkataan mereka.
“Ta, ini bagaimana? Aku tidak mau kelas kita terpecah belah seperti ini,” ucap Anggun dengan raut wajah bingung dan juga sedih.
“Aku juga tidak tahu,” jawab Sinta dengan sedih, menatap kelas mereka yang kini sepi karena satu-persatu teman-temannya meninggalkan kelas.
Hari demi hari berlalu, tidak ada perubahan yang terjadi di kelas ini, masih sama seperti kemarin, tidak ada tegur sapa yang biasa mereka lakukan setiap hari, tidak ada tawa yang menghiasi kelas saat jam kosong atau istirahat, mereka sekarang saling bermusuhan hanya karena hal kecil. Kelas di lantai dua itu akhir-akhir ini hening, hanya terdengar suara kipas angin yang tergantung di sini kanan dan kiri.
“Ira kamu tahu, sebenarnya aku sedih,” ucap Anggun kepada teman kelasnya. Ira yang masih mau berteman dengan mereka. Kini mereka berada di lantai satu di lapangan sepak bola, di bawah pohon mangga yang tumbuh tinggi menjulang menutupi sinar matahari di depan kantor guru.
“Sedih kenapa?” tanya Ira sembari memakan jajanan yang ia beli.
“Kelas kita saling bermusuhan, aku merindukan suasana kelas yang hangat dan penuh canda tawa,” jawab Anggun.
“Sebenarnya aku juga sama sepertimu, merindukan suasana kelas yang hangat, tapi mau bagaimana lagi? Mereka sudah terlanjur kesal dan mereka egois, jadi susah untuk mereka berbaikan seperti semula,” ucap Ira.
“Apa kita ganti saja temanya?” tanya Sinta.
“Percuma saja, mau kau ganti seratus kali pun akan mustahil, mereka akan tetap bermusuhan, ego mereka tinggi,” ucap Ira menatap Sinta.
“Lalu bagaimana?” tanya Anggun bingung.
Mereka diam, memikirkan cara yang terbaik agar teman-teman kelasnya mau berbaikan dan menjadi kelas yang hangat seperti biasanya. Segala ide bermunculan di otak Sinta, namun tidak ada satupun yang disetujui oleh Anggun dan Ira.
“Akhh…sudahlah biarkan saja mereka, terserah kelas kita nanti mau tampil atau tidak!” putus Sinta frustrasi.
“Kau menyerah? Semudah itu?” Tanya Ira, Sinta tidak menjawab. Tidak ada yang mau membuka suara setelahnya, suara angin dan obrolan siswa-siswi tidak memecahkan keheningan yang menyelimuti ketiganya.
“Aku punya rencana!” ucap Anggun yang akhirnya memecahkan keheningan di antara mereka.
“Apa?” tanya Ira dan Sinta secara bersamaan. Namun Anggun tidak menjawab, ia hanya tersenyum sebagai jawabannya membuat Ira dan anggun bingung dan saling pandang. Mereka mulai bangkit dan meninggalkan tempat itu.
Rencana Anggun mereka jalankan tanpa mengerti hal apa yang mereka lakukan karena sampai sekarang pun Anggun masih enggan memberi tahu hal apa yang muncul di otaknya.
“Nah yang terakhir kita tinggal buat dialog campuran menggunakan bahasa Jawa, Sunda, Bali, dan Minang, lalu setelah itu kalian bagikan,” ucap Anggun sembari menulis beberapa kata di kertas yang akan dijadikan dialog nanti.
“Tunggu…akankah kamu?” Tanya Ira yang sudah mengerti secara perlahan dengan rencana yang akan dilakukan Anggun.
“Ya kamu benar, aku akan membuat pentas seni menggunakan bahasa campuran, jadi mereka akan berbaikan dan berteman semula,” jelas Anggun, membuat Ira dan Sinta kagum dengan ide cemerlangnya.
Rencana itu mereka jalankan, meskipun tidak mudah, namun dengan keyakinan dan tekad secara perlahan mereka berhasil membagikan kertas itu kepada teman-temannya.
Latihan mulai mereka jalankan, meskipun tidak mudah karena masih ada saja yang bertengkar dan enggan berbaur dengan yang lainnya.
Berkat rencana Anggun kini suasana kelasnya kembali hangat meskipun masih ada suasana canggung yang menyelimuti, namun dengan perlahan mereka kembali menjadi satu kelas yang kompak dan penuh semangat.
Hari pentas dimulai, sembari menunggu kelas mereka dipanggil, Anggun kembali memastikan semua perlengkapan yang mereka gunakan tersedia dan dalam kondisi yang baik. Dan ia masih memiliki satu kejutan yang akan membuat semua orang senang, kejutan itu ia sembunyikan di balik kain hitam di belakang pintu masuk panggung.
“Dan ini dia, penampilan dari kelas sembilan A, silakan untuk kelas sembilan A untuk naik ke panggung!” ucap pembawa acara. Dengan perasaan yang penuh semangat dan jantung yang berdebar-debar satu-persatu dari mereka naik ke panggung.
Musik khas Jawa mengalun indah seiring langkah beberapa siswa yang berasal dari Jawa, pakaian adat yang berkilau terkena lampu panggung, wajah-wajah yang tersenyum bahagia, dan hiasan-hiasan lainnya menjadi pembukaan yang indah. Satu persatu mereka mulai naik dan menampilkan hal yang mereka bawa dari suku mereka. Dan dialog bahasa daerah mulai mereka ucapkan dengan fasih.
Sebagai penutup mereka kembali naik ke panggung dan mengucapkan terima kasih. Namun Anggun membawa sesuatu dari balik pintu, semua orang bertanya, hal apa yang dibawa Anggun naik? Akankah itu bagian dari pertunjukan? Tidak ada yang tahu.
“Sebagai penutup izinkan saya menampilkan sesuatu yang akan membuat kalian semua kagum!” Ucap Anggun memegang ujung kain hitam itu.
“Mari kita hitung bersama-sama!” instruksi Anggun. Semua orang yang menonton mulai bersama-sama menghitung mundur.
“Tiga…dua…satu…!”
Dan pada hitungan ke satu itulah membuat semua orang yang ada di sana tercengang, sebuah kertas besar berisikan semua bahasa yang ada di Indonesia. Ditulis menggunakan spidol warna-warni dengan rapi.
“Kita harus bisa menghargai semua bahasa yang ada di Indonesia,” ucap Anggun.
Dan musik gembira mulai terdengar, mereka mulai menari dan tersenyum bersama, menikmati momen yang tidak akan mereka bisa ulang di tahun-tahun berikutnya. (BP/ KM)*
Cerpen ini merupakan karya peserta Lomba Menulis Cerpen dalam rangka memperingati Bulan Bahasa yang diselenggarakan oleh MGMP Bahasa Indonesia, Bangka Tengah di Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, 23 Oktober 2025.












