Batin Tikal, Rambut Keramat dan Ingatan Kolektif Orang Bangka

Laporan: Abok Amang

Bekaespedia.com, Indralaya -Palembang,- Bagi masyarakat Bangka, nama Batin Tikal bukan sekadar tokoh masa lalu. Ia adalah simbol perlawanan terhadap penjajahan dan ketidakadilan, sekaligus penjaga marwah orang Bangka di masa awal kekuasaan kolonial Belanda.
Sejarawan Bangka Belitung, Datok Akhmad Elvian DPMP, menjelaskan bahwa pada awal pemerintahan Belanda di Pulau Bangka, Batin Tikal berkedudukan di Distrik Toboali. Wilayah kekuasaannya terbagi dalam tiga depati, yakni Depati Permisang, Depati Balar, dan Depati Pako.
“Wilayah Bangkakota dan sekitarnya pada masa itu berada di bawah kekuasaan Batin Tikal melalui Depati Permisang,” tulis Datok Akhmad Elvian dalam bukunya “Batin Tikal Pejuang dari Kampung Gudang (bagian satu).
Sosok Batin Tikal dalam ingatan masyarakat, kerap dilekatkan dengan kisah rambutnya yang dianggap memiliki kekuatan simbolik dan spiritual. Kepercayaan terhadap rambut “keramat” ini telah menjadi bagian dari tradisi turun-temurun warga Desa Gudang dan sekitarnya.
Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Kabupaten Bangka Selatan, Kulul Sari, menilai kepercayaan tersebut sebagai cara masyarakat menjaga memori kolektif tentang perjuangan leluhur.
“Kami memandangnya bukan semata benda yang dijaga keturunannya, tetapi sebagai pengingat bahwa Batin Tikal pernah berjuang mempertahankan tanah dan marwah orang Bangka,” ujarnya, Selasa (10/2/2026)
Menurut Kulul, sudah selayaknya perjuangan Batin Tikal mendapat pengakuan lebih luas. Ia berharap suatu hari nanti Batin Tikal dapat diusulkan dan diangkat sebagai pahlawan, mengingat jejak perjuangannya tidak hanya berdampak lokal, tetapi juga nasional.
Upaya menghidupkan kembali ingatan tentang Batin Tikal juga terus dilakukan melalui jalur akademik dan seni.
Dr. Rita Zahara Rebuin menyebut pihaknya berencana mengangkat kisah Batin Tikal dan tokoh-tokoh pejuang Bangka lainnya ke layar lebar.
“Kami akan terus berusaha mengingatkan publik tentang ketokohan Batin Tikal sebagai pejuang,” katanya.
Melalui riset ilmiah, cerita lisan, dan ekspresi seni, kisah Batin Tikal kini menjelma menjadi jembatan antara masa lalu, masa kini dan masa depan.
Rambut yang dahulu dipercaya sakti, hari ini menjadi simbol ingatan kolektif, identitas budaya, dan kebanggaan orang Bangka yang tak pernah padam.
Dan rambut Batin Tikal hingga saat ini masih tersimpan rapi di keturunannya di desa Gudang, dan beberapa keturunannya di Bangka

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *