Oleh : Marwa Ashabil Jannah (Siswa SDN 7 Namang)
Namaku Marwa, aku siswa kelas lima SD yang tinggal di Desa Bukit Kijang.
Desaku memang tidak besar tetapi memiliki cerita yang berarti bagi kami. Sejak kecil, aku sering mendengar cerita dari kakek tentang asal usul desa kami. Kata kakek, dulu tempat ini bernama Dusun Batu Kijang. Nama itu diambil dari sebuah batu yang mirip seperti kijang. Batu itu tidak berada di atas bukit seperti yang dibayangkan orang-orang. Batu itu berada di pinggir daerah kubur, bukan tepat di dalamnya, tetapi di sampingnya. Di tanah yang agak tinggi dan ditumbuhi rumput.
Suatu sore, kakek mengajakku pergi melihat batu itu. “Ini dia batu kijang,” kata kakek.
Aku memperhatikan dengan seksama. Dari samping batunya benar-benar mirip seperti kijang yang sedang berdiri. Aku merasa kagum. “Mengapa batu ini penting, Kek?” tanyaku.
Kakek menatapku dengan lembut.
“Karena dari sinilah nama desa kita berasal. Ini adalah bagian dari cerita jati diri kita.”
Sejak saat itu, aku merasa batu itu sangat istimewa.
Di desaku, kami juga masih menjaga tradisi salah satunya nganggung. Setiap ada acara tertentu warga membawa makanan di dalam dulang, lalu, semua warga berkumpul di masjid atau balai desa, semua orang duduk bersama berbagi makanan, dan bercanda penuh kehangatan. Ibu selalu berkata, “Nganggung bukan cuma makan bersama tetapi, juga menjaga kebersamaan.”
Namun, suatu hari aku merasa sedih saat bercerita kepada teman tentang batu kijang, ada yang bilang, “Ah, Itu cuma batu biasa!” dan ada juga lebih sibuk bermain ponsel daripada mendengar ceritaku. Aku pulang dengan perasaan kecewa. Malam itu, aku duduk di teras bersama kakek.
“Kek mengapa ya teman-temanku tidak peduli dengan cerita desa kita?” tanyaku.
Kakek menatapku dengan lembut.
“Karena mereka belum benar-benar mengenalnya, kalau tidak diceritakan lama-lama mereka akan lupa.” Kata-kata kakek membuatku berpikir. Aku tidak mau cerita desaku hilang, aku tidak ingin tradisi kami dilupakan.
Keesokan harinya, aku punya ide. Aku mengajak beberapa temanku melihat batu itu secara langsung.
“Ayo ikut aku biar kalian tahu mengapa desa kita punya nama bukit kijang!” ajakku.
Awalnya mereka ragu tetapi akhirnya mereka mau ikut. Kami berjalan bersama menuju pinggir daerah kubur itu. Suasananya tenang, angin bertiup pelan, dan rumput bergoyang perlahan. Saat mereka melihat batu itu, “Eh benar ya, mirip kijang!” kata salah satu dari mereka. Aku tersenyum bangga.
Aku mulai menceritakan asal usul desa kami seperti yang diceritakan kakek kepadaku. Kali Ini mereka mendengarkan dengan serius. Sejak saat itu mereka mulai tertarik
Beberapa hari kemudian, ada acara nganggung. Aku mengajak mereka ikut. Kami membantu membawa dulang bersama orang tua. Kami duduk bersama warga dan menikmati kebersamaan itu.
“Seru juga ya!” kata temanku. Aku merasa sangat senang.
Saat itu aku sadar, menjaga tradisi tidak harus dengan hal yang besar. Kita bisa mulai dengan hal kecil seperti mendengarkan cerita, menceritakan kembali, dan ikut melakukannya. Sekarang, saat aku melewati batu di pinggir daerah kubur itu, aku berhenti sejenak. Aku tidak lagi melihat sebuah batu, aku melihat sejarah desaku. Aku melihat kebersamaan dan tradisi yang harus dijaga, dan dalam hatiku aku berjanji akan menjaga cerita ini agar batu kijang tidak menjadi batu biasa dan tradisi agar tetap hidup. Dari Sekarang hingga nanti untuk generasi yang akan datang. (BP / KM)*
Catatan : Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kecamatan Namang Tahun 2026.












