Oleh: Zaira Nafeeza (MTs Nurul Falah Airmesu Timur)
Minggu merupakan hari yang banyak di nanti bagi sebagian orang, termasuk Neysha. Neysha, seorang pelajar SMA kelas akhir, memiliki paras yang cantik, berkulit putih dan baik hati. Bagi Neysha hari Mingu merupakan hari yang menyenangkan, walau hanya sesaat.
Neysha selalu mengawali pagi di hari libur dengan bangun pada pukul 09.25 pagi
“Hoamm… Rasanya melelahkan sekali, tapi saatnya mandi,” Neysha beranjak dari kasurnya guna mengambil handuk kemudian mandi. Usai Neysha mandi, ia membersihkan kasurnya karena berantakan, kebetulan Neysha adalah orang yang rajin ketika ada niat saja. Setelah membereskan kasur, ia pergi ke dapur untuk mengisi perut yang kosong.
“Masak mie aja kali ya, lagi kepengen!” Neysha mengambil sebungkus mie instan untuk direbus. Mie telah matang, ia pun segera meniriskan kemudian menuangkan bumbu.
“Siap santap!” Neysha pun melahap mie sampai habis.
Neysha telah menyelesaikan makannya, kemudian ia pergi ke kamar untuk kembali beristirahat. Neysha membuka ponselnya melihat keadaan grup yang sepertinya sedang ramai berbincang
“Apalah orang ni, ramai macam ni grup,” celoteh Neysha, ia kemudian membaca satu persatu chat yang ada di dalam grup. Sepertinya mereka sedang bertengkar tentang bahasa yang berbeda. Neysha mempunyai inisiatif untuk menyelesaikan masalah di dalam telepon, jadi ia memencet tombol telepon yang ada di grup itu. Satu persatu, orang-orang menjawab telpon dari Neysha
“Ngapa nya ikak beribut ne, dak leteh apa ikak ngetik panjang lebar, alung selesaiken di telepon, ken dak payah,” ucap Neysha
“Sok, bahasa orang tu dek jelas, mana Nia sok indo pulik, gelik ku nenger e!” Olivya membalas, salah satu teman Neysha.
Nia merupakan orang Jakarta yang bersekolah di pulau Bangka karena orang tuanya sedang ada pekerjaan di sana. Nia terbilang arogan karena sikapnya yang suka merendahkan orang lain.
“Bahasa Indonesia kan memang harus, bukannya Bahasa Bangka yang ga jelas itu!” Balas Nia ketus.
Neysha mencoba menenangkan mereka berdua yang sedang beradu mulut karena saling tak terima.
“Coba biasa aja, ga usah berantem kaya gitu, masalah bahasa aja di ributin!” Neysha mencairkan suasana
Tetap saja tak ada hasil, mereka tetap saling mengejek
“Ew, biarin, orang Olivya duluan yang mulai, nyalahin guwe lagi, malas ngomong sama kalian berdua, bye!” Nia mematikan telepon itu.
Tersisa Neysha dan Olivya, Neysha pun mencoba memenangkan amarah Olivya
“Ku males baca, ikak sebelum e ngapa nya pacak berantem?” Tanya Neysha bingung.
Terdengar suara tarikan napas dari Nia.
“Ntah nya tu, tiba-tiba bilang bahasa Bangka dek jelas, lah sek ku bales, nya dak terima sude e, bececoh lah kami abis tu, dakde yang nak ngalah!” Jelas Olivya pada Neysha
Neysha paham dengan permasalahannya.
“Kalau begitu kita selesaikan di kelas saja!” Neysha mematikan topik, tanpa suruhan, Neysha mematikan telpon itu.
Neysha menghempaskan tubuhnya ke atas kasur, ia merasa lelah untuk saat ini. Jadi ia memilih untuk tidur dan entah kapan ia akan bangun kembali, barangkali Neysha akan bangun di malam hari.
Sore hari memanglah indah, Neysha kembali bangun dari tidurnya
“Hoamm udah sore aja, Minggu memang cepat ya? Mana besok Senin, upacara pula, haduhh!” Neysha mengeluh sesaat, la beranjak dari kasur untuk keluar kamar mencari udara.
“Sore ke ni enak e ke pantai, tapi ko lom mandi,” pikirnya. Ia membuang jauh niat tadi. Ia rasa ia cukup di rumah saja sampai ada orang yang ingin mengajaknya ke suatu tempat. Neysha pergi ke ruang tv untuk duduk di sofa, sambil melihat-lihat sekeliling ruangan yang terlihat berbeda dari biasanya, tapi Neysha tak menghiraukan hal itu, ia memilih untuk duduk sambil memainkan ponselnya yang membosankan itu.
“Sepi banget ni chat, kaga ada gitu yang mau ngechat? Atau aku ga dibutuhin gitu? Uh!” Gumam Neysha. Berjam-jam Neysha hanya berbolak-balik dari aplikasi WhatsApp hingga Tiktok.
Waktu menunjukkan pukul 20.07, Neysha masih duduk di sofa itu tanpa mandi, hingga ia teringat akan sesuatu.
“PR Bahasa Indonesia sumpah? Kok lupa sialan!” Neysha beranjak dari sofa kemudian berlari menuju kamar untuk menyelesaikan PR-nya yang akan di kumpulkan besok pagi.
Neysha mengobrak-abrik meja belajarnya mencari buku tugas Bahasa Indonesia yang ada PR di dalamnya, akhirnya Neysha menemukan buku itu, ia langsung membuka lembar tugas berikut yang di berikan oleh gurunya.
“Tentang beragam Bahasa ini kan? Disuruh tulis contoh yang menyimpang doang.” Neysha segera menyelesaikan tugas itu dengan mudah, dikarenakan tadi pagi baru saja temannya mempermasalahkan masalah bahasa.
Neysha menyelesaikan tugas tersebut, kemudian menaruh bukunya ke dalam tas yang akan ia bawa besok pagi.
“Persiapan tidur, ngantuk banget woy.” Neysha membaringkan tubuhnya ke atas kasar yang empuk, kemudian ia tertidur tanpa memikirkan hal lain.
Pagi hari yang cerah, matahari juga telah masuk dari sela jendela milik Neysha yang sedikit terbuka, membuat hal itu membangunkan Neysha dari tidur lelapnya.
“Hoamm, terang banget dah,” Neysha mengeluh sebentar kemudian beranjak pergi untuk mandi.
Usai Neysha mandi, ia mempersiapkan alat-alat yang akan dia bawa sekolah. Saat selesai ia pun bergegas pergi tanpa sarapan, karena ia tahu bahwa sebentar lagi ia akan telat.
Neysha melajukan motornya dengan cepat sampai datang ke sekolah. Sampai di sekolah Neysha bergegas ke kelas, menaruh tasnya kemudian mencari keberadaan Nia dan Olivyaa. Neysha bertemu mereka berdua di depan gerbang. Setelah dari kelas, mereka sedang melanjutkan pertengkaran kemarin hingga banyak orang yang mengerumuni mereka. Neysha pergi ke lokasi guna melerai mereka berdua.
“Stop-stop, ngapain sih ribut-ribut? Ga ada guna nya tau ga?” Ucap Neysha tegas, semua orang kini melihat ke arah Neysha yang bersuara tadi.
Nia menyipitkan matanya melihat ke arah Neysha yang ikut campur dalam urusan mereka.
“Apasi lo, jangan ganggu deh, biar guwe selesai in sendiri!” Balas Nia tak suka
Neysha menarik napas panjang.
“Kalian itu bertengkarnya hanya hal yang sepele, karena perbedaan juga,” Neysha membalas ucapan Nia.
Nia pun pergi dari tempat kejadian perkara, karena dia tidak suka ada orang yang ikut campur dalam urusannya.
“Udah la Liv, biakla die nek ngape, saat ni nek upacara, yo ke lapangan!” Neysha menenangkan Olivya. Olivya menerima ajakan Neysha tadi kemudian mereka berjalan menuju lapangan.
Waktu berlalu hingga saatnya mereka memasuki pelajaran Ibu Nisa, Bahasa Indonesia. Ibu Nisa pergi memasuki ruang kelas.
“Pagi anak-anak!” Sapa Bu Nisa.
“Pagi juga Bu!” Balas orang-orang di kelas.
Bu Nisa terbilang guru yang baik, jadi tak sedikit orang yang menyukai Bu Nisa.
“Ada PR kumpulkan nanti kita bahas.
Semua orang beranjak dari kursi untuk mengumpulkan buku. Setelah buku selesai dikoreksi, mereka membahas masalah bahasa.
“Jadi pembahasannya, bahasa yang berbeda itu wajar ya, jangan ada yang saling mengejek antarsesama bahasa, hargai bahasa orang lain walaupun aneh sekali pun!”
Seisi kelas menoleh ke arah Nia.
“Ada yang suka ngatain bahasa orang lain?” Tanya Bu Nisa ramah.
Olivya mengangkat tangan.
“Ada Bu, Nia orangnya,” jawab Olivya ketus.
Tak terima, Nia pun menyambar omongan Olivya tadi.
“Ga ada ya, jangan sembarangan ngomong!” Balas Nia.
“Memang Nia, Bu, mereka tadi berantem, katanya Nia ngatain Bahasa Bangka itu aneh dan ga enak didengar gitu,” ucap salah satu murid yang melihat pertengkaran Nia dan Olivya tadi.
Bu Nisa tersenyum pada Nia.
“Nia, lain kali jangan begitu ya, Ibu tau kok kalau kamu orang kota yang menggunakan Bahasa Indonesia, tapi jangan pula kamu merendah bahasa orang lain yang menurutmu tak enak didengar, cukup bilang saja, jangan sampai kamu kata-katain begitu, kamu ga tau orang bisa aja sakit hati karena perkataanmu? Jangan begitu lagi ya, minta maaf dulu sama Olivya, jangan diulangi lagi!” Jelas Bu Nisa panjang lebar
Nia memutarkan bola matanya.
“Dih ogah, orang dia duluan,” balas Nia tak terima.
“Bagaimana Indonesia mau maju kalau bahasa berbeda aja dipermasalahin? Minta maaf dulu, urusan kaya gitu belakangan!” Ucap Bu Nisa tegas.
Nia pun beranjak dari kursinya menuju kursi yang diduduki oleh Olivya.
“Maaf udah ngatain lo tadi, makanya ngomong sama guwe itu pake Indo, jadi ga gue marahin lo!” Ucap Nia sembari menyodorkan tangan meminta maaf.
Olivya membalas sodoran tangan Nia.
“Nyalahin ku pulik lah? Barang ge basing ku nek makai bahasa apa!” Balas Olivya.
Nia meninggalkan kursi Olivya dengan kesal. Bu Nia kembali tersenyum
“Nah, jadi hargai ya bahasa-bahasa yang ada di Indonesia. Bahasa bukan hanya satu di sini, tapi beragam, jadi hargailah sesama oke!” Ucap Bu Nisa.
Seluruh kelas mengangguk. Jam pelajaran Bu Nisa sudah habis, ia pun pergi meninggalkan kelas.
Sepulang sekolah Neysha menghampiri Nia dan Olivya yang sedang berdua.
“Kayanya asik ni, udah berteman!” Ujar Neysha sembari tersenyum.
Mereka berdua tertawa.
“Gatau tuh Nia datang tiba-tiba nanyain cara pake Bahasa Bangka!” Jawab Olivya.
“Haha, ternyata Bahasa Bangka seru juga, Olivya ngajarinnya,” jawab Nia tersenyum. Neysha balas tersenyum.
“Ya udah, gini aja terus, ga usah berantem lagi, malu tau diliatin orang masalah Bahasa doang toh!” Balas Neysha dengan tertawa.
Mereka kini berteman tanpa membedakan sesama, mereka mengaggap hal ini sebuah perbedaan yang dapat menyatukan mereka menjadi utuh, seperti Bhinneka Tunggal lka, berbeda-beda tetapi tetap satu. Mempelajari bahasa yang tidak kita ketahui itu menyenangkan menurut mereka. (BP/ KM)*
Cerpen ini merupakan karya peserta Lomba Menulis Cerpen dalam rangka memperingati Bulan Bahasa yang diselenggarakan oleh MGMP Bahasa Indonesia, Bangka Tengah di Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, 23 Oktober 2025.












