Oleh: Meilanto
Qeis, Zia dan Fawwas adalah tiga anak kecil yang masih saudara. Ayah Qeis dan Fawwas adalan kakak kandung dari ibu Zia. Qeis dan Zia seumuran. Mereka lahir pada tahun yang sama, hanya berbeda bulan. Zia lahir bulan Februari dan Qeis lahir bulan November. Mereka duduk di kelas 2 SD. Fawwaz adik Qeis. la berumur 4 tahun 3 bulan.
Saat itu sedang liburan sekolah semester satu. Libur sekolah bertepatan dengan masa panen raya warga Namang.
“Ayah, ayo kita ke Namang mumpung sudah libur!” ajak Qeis setelah sarapan.
“lya, Yah! Fawwaz juga mau ke ikut abang ke Namang. Sudah lama kita tidak ke Namang,” sambung Fawwaz.
“Iya deh, nanti kalau sudah mandi kita ke Namang. Ayah juga mendengar kabar di Namang sedang panen padi sawah. Nanti kita bisa bermain di sawah,” jawab Ayah,
“Yeee!” seru Qeis dan Fawwaz bersamaan, Keduanya berjingkrak-jingkrat sambil mengepalkan kedua tangannya ke atas.
“Ke sawah…ke sawah…ke sawah!” kedua kakak beradik itu sangat senang. Masa liburan kali ini akan diisi dengan bermain di sawah Namang.
Motor berwarna hitam itu sudah menyala. Siap membawa Qeis, Fawwaz dan Ayah ke Namang.
Tak lupa Ayah menggunakan helm dan jaket. Begitu pula dengan Qeis dan adiknya. Perjalanan ke Namang membutuhkan waktu 10 menit. Tak lupa Ayah membawa baju ganti untuk Qeis dan Fawwaz.
“Asalamualaikum, Zia,” sapa Qeis turun dari motor dan mengucapkan salam.
“Waalaikumussalam. Wah, ternyata ada Qeis. Ibu, ada Qeis!” kata Zia memberitahu sang ibu yang berada di dapur.
“Ayo masuk!” ajak Zia. Di belakang Qeis, Ayah dan Fawwaz juga masuk ke rumah.
“Zia, kami mau ke sawah, melihat orang sedang panen padi! Kamu mau ikut?” tanya Ayah.
“Mau,” jawab Zia pendek.
Motor diarahkan ke areal persawahan, Ayah bermotor dengan santai, memberikan kesempatan kepada anak dan keponakannya melihat aktifitas warga.
Gunungan jerami padi yang telah dirontokkan menjadi pemandangan yang menarik. Ayah menghentikan laju motor saat tiba di sawah Paman Mudir.
Qeis, Zia dan Fawwaz turun dari motor dan langsung berlari menuju gunungan jerami. Mereka bertiga bermain perosotan dan sesekali saling lempar jerami. Gelak tawa mereka saat jerami menempel di rambut dan baju.
Melihat batang padi yang masih tersisa, Ayah teringat masa kecilnya membuat terompet dari batang padi. Ayah meminjam pisau milik paman. Diambil beberapa batang padi. Terompet itu panjang sekitar 10 cm. Bagian pangkal pada bagian buku, ditoreh sedikit sekitar 1 cm.
“Sepppp…seppp.sepppp!” suara terompet buatan Ayah.
“Ayah, buatkan juga terompet untuk kami!” pinta Qeis.
Ayahpun membuat terompet. Mereka bermain terompet sampai air liur muncrat dari bibir dan terompet patah.
“Qeis, Zia, Fawwaz, jasa petani luar biasa, ya. Dari mereka kita bisa makan nasi setiap hari. Ayo kita hargai jerih payah mereka dengan cara tidak membuang nasi!” (BP/ KM)*
Catatan: Cerpen anak ini telah dibukukan dalam antologi Cahaya Bintang 35 Cerita Anak Inspiratif Seri Antologi Cernak Serumpun Sebalai oleh Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2023.












