Oleh: Aqilla Dhia Fenumika (Siswa MTs Nurul Falah, Airmesu Timur)
Pelajaran IPA Pak Ratno terasa seperti selamanya di kelas 12.3. Jam telah menunjukkan pukul setengah 11 yang berarti telah masuk jam istirahat pertama, namun kelas ini belum kunjung keluar, terlihat setengah dari murid-murid menaruh kepala mereka di atas meja masing-masing dan tampak dari mereka tak ada satupun yang berniat membujuk guru tersebut untuk berhenti, sebab terkenal kiler dan mulutnya yang ampun pedasnya.
“Huh lame ge lah pelajaran sikok ne, urang kelaper nya!” Gerutu Nefry dalam hati, gadis asal Bangka ini tak sabar ingin mengenyangkan perutnya yang sedari tadi keroncongan.
“Baiklah anak-anak, pelajaran kali ini bapak cukupkan sampai di sini dulu, jangan lupa dengan tugas yang bapak beri tadi! Di kumpulkan hari Jum’at depan, jika ada yang lupa atau semacamnya awas! Terima konsekuensinya, bapak tidak menerima alasan apapun! Assalamualaikum,” ancam guru itu sebelum ia akan meninggalkan kelas.
“Wa’allaikumussalam,” jawab beberapa murid yang beragama Islam, sisanya memberi anggukan kecil serta ada yang tak merespon. Tanpa basa-basi, murid-murid pergi meninggalkan kelas dan menyisahkan beberapa orang
“Gila sih, gak ngotak tu guru, sakit kuping gue dengerin ocehannya!” Celoteh Tyifa sembari meregangkan otot-ototnya yang tegang akibat duduk terlalu lama, perempuan ini asli Jakarta.
“Lah pon, sini biar aku donor aja telinga kamu sama orang lain, banyak lho orang yang butuh telinga,” cecar Nefry main-main diiringi tawa ringan dari bibirnya, ia teman sebangku Tyifa.
“Ihh! Paan sih, Aku juga masih butuh telinga!” Ocehnya dan menghadiahi tatapan tajam pada lawan bicaranya itu
“Woi woi, dah lah, ke kantin kito” Lerai Gharsya dengan logat Jambinya yang terdengar kental, ia menepuk ke dua bahu temannya dan membuat mereka menoleh beberapa detik lalu berdiri.
“Iyaa yok!” Jawab dua gadis itu serentak, mereka bertiga berjalan meninggalkan kelas menuju kantin.
“Eh Naf, Tyi Awak beli bakso dulu, nanti kalo udah panggil lagi, awas lho!” Perkataan Gharsya dibalas anggukan oleh Nefry namun tidak dengan Tyifa, ia tampak sedikit kebingungan dengan kata gue.
“Rawa beli bakso dulu?” Tanya Tyifa polos dan mendapatkan kekehan dari dua gadis di depannya.
“Maksud gua itu, saya! aduhhh, kudet, kudet!” Jawab Nefry mewakili Gharsya.
“Udahlah ah! Buru! Nanti jam istirahatnya udah mau habis!” Pernyataan dari Gharsya membuat mereka mempercepat proses jajannya. Sekarang, Gharsya dan Nersya berada di tempat jualan minuman.
“Bang, es tehnya, manis satu!” Nersya membuat pesanan pada penjual, tapi tampaknya Gharsya mengira bahwa kata manis ialah sebutan untuk si bang penjual.
“Kamu panggil dia manis?” Suara Gharsya yang terdengar jelas membuat Nefry menoleh dan memelototi perempuan itu “Apasih kamu, gila ya?” Celoteh Nerfy geram dengan gigi dirapatkan, sekarang terlihat abang penjual itu terkekeh kecil setelah mendengar pernyataan yang salah dari Gharsya, akhirnya pesanan Nerfy selesai.
“Nih, makasih manis” Gurau penjual itu sembari menyerahkan pesanan pada Nefry, gadis itu menerimanya dengan sedikit senyum malu-malu, lebih tepatnya malu-maluin.
“500 ribu kan bang?” Nefry mengambil selembar uang berwarna oren kekuning-kuningan dari saku bajunya sebelum menyerahkannya.
“Makasih,” Ucap Nefry dan setelahnya di balas anggukan kecil dari si penjual sebelum pergi dan menuju kelas mereka kembali. Gharsya yang melihat kejadian itu hanya tertawa-tawa tidak jelas, mereka bertiga berkumpul di pojok kelas mereka sambil memakan belanjaan yang mereka beli masing-masing.
“Eh woi, tau ndak kalian? Tadi Nefry manggil abang-abang yang jualan di depan itu pakai sebutan manis!”
Pernyataan dari Gharsya membuat Nerfy menyikut lengan Gharsya dan tampak Tyifa terkejut.
“Gila! Berani banget lo! Abang-abang penjual es depan pager itu ya?” Ucap Tyifa tak percaya.
“Ih! Gak loh! Si Gharsya tuh salah ngartiin e, aku yakin di bahasa mereka tuh pengucapannya beda!” Elak Nefry, ia tak sudi dituduh seperti itu.
“Eh, iyo kayaknya, Awak tadi juga kayak salah dengar.”
Seketika setelah mendengar pernyataan itu, tanpa ragu Nersya memberinya cubitan di lengan Gharsya.
“Woi, Sakit!” Dengan cepat ia menarik lengannya, Tyifa yang melihatnya hanya tertawa.
“Makanya jangan sembarangan!! Mentang-mentang bahasamu gitu!” Celoteh Nefry, Gharsya hanya cengengesan.
“Haahhh!! Malu-maluin!”
“Heheh, maaf yo” Suara canda dan tawa terdengar jelas dari pojokan itu. 4 sahabat yang berbeda-beda bahasa ini memang tak ada habisnya. (BP/ KM)*
Cerpen ini merupakan karya peserta Lomba Menulis Cerpen dalam rangka memperingati Bulan Bahasa yang diselenggarakan oleh MGMP Bahasa Indonesia, Bangka Tengah di Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, 23 Oktober 2025.












