Laporan : Belva
Bekaespedia.com, Mentok, Bangka Barat — Pagi itu, langit Teluk Rumbia masih berwarna abu-abu. Embun menggantung di daun bakau, angin laut mengirim aroma asin yang mengingatkan orang pada masa lalu masa ketika perahu-perahu tua di muara ini masih berlayar dengan gagah, sebelum akhirnya terbaring lelah di tepian air hijau. Namun, Jumat (24/10/2025) itu, suasana berbeda. Di bawah tenda-tenda hijau, kehidupan kembali berdenyut.
Aroma gorengan dan kopi robusta berpadu dengan suara tawa. Anak-anak berpakaian olahraga kuning-hijau menari di bawah langit yang pelan-pelan cerah, mengikuti irama senam sehat. Para ibu tersenyum, para pemuda Karang Taruna memandu dengan semangat. Di meja-meja sederhana, tangan-tangan perempuan sibuk melayani pembeli menyodorkan pempek, sambal cumi, dan sirup herbal laut, seperti menyodorkan sepotong kehidupan yang manis setelah masa suram.
Di tengah keramaian itu, Bozem Teluk Rumbia bukan lagi sekadar ruang kosong di peta pesisir Bangka Barat. Ia menjelma menjadi nadi baru, tempat ekonomi rakyat dan pariwisata tumbuh bersama dalam satu tarikan napas gotong royong.
“Kalau dulu laut ini hanya tempat kapal menambatkan jangkar,” kata Aldi, Ketua Karang Taruna Kelurahan Tanjung, sambil menatap perahu-perahu yang diam di tepian, “sekarang tempat ini jadi jangkar harapan masyarakat.”
Di belakang kata-kata sederhana itu, ada perjuangan yang panjang tentang pemuda yang menolak diam, tentang komunitas kecil yang menolak dilupakan. Bersama pemerintah daerah dan PT Timah Tbk, mereka menggelar Bazar UMKM yang lebih terasa seperti pesta kebersamaan daripada sekadar kegiatan ekonomi. Ada tawa, ada musik, ada darah yang mengalir di mobil donor PMI, sebuah simbol bahwa kehidupan di pesisir ini benar-benar berdetak kembali.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Bangka Barat, Fachriansyah, berdiri di antara warga, bukan sebagai pejabat yang memberi sambutan, tapi sebagai bagian dari semangat itu sendiri.
“Kami melihat semangat masyarakat dan pemuda Tanjung ini luar biasa,” ujarnya lirih namun penuh makna. “Mereka tidak hanya menghidupkan ekonomi lokal, tapi juga menanamkan rasa memiliki terhadap pariwisata daerah. Pemerintah akan terus mendukung agar Teluk Rumbia menjadi destinasi unggulan berbasis masyarakat.”
Suaranya menyatu dengan debur air yang pelan menepuk perahu kayu tua. Mungkin, laut juga mendengar. Mungkin, perahu-perahu itu tersenyum dalam diam.
Teluk Rumbia hari itu adalah cerita tentang tangan-tangan muda yang menolak menyerah pada nasib. Di tempat yang dulu hanya dihuni sunyi, mereka menanam tawa. Di muara yang dulu menua, mereka menumbuhkan harapan.
“Wisata bukan sekadar tempat indah,” ujar Fachriansyah kemudian. “Ia adalah kisah manusia di dalamnya. Dan Teluk Rumbia hari ini menulis satu bab penting yaitu bab tentang gotong royong, pemuda, dan kebangkitan Bangka Barat dari pesisir.”
Menjelang siang, matahari menembus awan, menyentuh wajah-wajah yang lelah tapi bahagia. Di ujung dermaga, seorang anak kecil berlari membawa balon biru. Ibu-ibu masih menawar harga sambal, bapak-bapak bercanda soal laut yang pasang. Dan di antara tenda-tenda sederhana itu, ada sesuatu yang jauh lebih berharga daripada uang dan barang dagangan yakni keyakinan bahwa kebahagiaan bisa tumbuh dari tangan sendiri.
Bozem Teluk Rumbia kini bukan sekadar tempat. Ia adalah puisi tentang kebangkitan. Tentang laut yang menua, tapi tak pernah kehilangan makna. Tentang pemuda yang percaya bahwa kampungnya masih punya masa depan.
Setiap laut menyimpan kenangan, setiap ombak membawa cerita. Di Bozem Teluk Rumbia, waktu seolah berhenti untuk sejenak memberi ruang bagi manusia yang berani bermimpi. Laut yang dulu sepi kini kembali bersuara, bukan hanya oleh gemericik air, tapi oleh semangat hidup yang baru.
Di sana, laut tidak lagi sekadar cermin langit, melainkan cermin hati manusia yang percaya bahwa perubahan bisa dimulai dari hal kecil yaitu dari senyum di tenda-tenda UMKM, dari tetes darah di mobil PMI, dari langkah kaki anak-anak di halaman pasir.
Barangkali, inilah makna sejati dari wisata bukan hanya tempat yang indah untuk dilihat, tetapi tempat di mana manusia belajar kembali mencintai tanah dan lautnya.
Dan ketika matahari sore nanti tenggelam di Teluk Rumbia, ia tak hanya meninggalkan cahaya di langit, tapi juga di dada setiap orang yang pernah menyalakan harapan di sini. Sebab, laut tak pernah benar-benar diam ia hanya menunggu manusia yang berani membangunkannya.
Bozem Teluk Rumbia kini hidup, dan bersama semangat pemudanya, ia berjanji akan terus bernafas dalam waktu.












