Cahaya di Rumah Dinas Wakil Bupati: Safari Ramadhan Baznas Bangka Barat Sebagai Aksi kemanusiaan Di Mentok

Penulis: Belva Al Akhab dan Satrio

Bekaespedia.com, Mentok,-Angin laut dari Selat Bangka berembus pelan ketika azan Magrib baru saja tenggelam di langit Mentok. Di halaman rumah dinas Wakil Bupati Bangka Barat, lampu-lampu temaram menggantung seperti bintang yang turun ke bumi. Malam Ramadhan itu bukan sekadar pertemuan pejabat dan masyarakat. Ia adalah peristiwa kecil dalam ekologi kemanusiaan ketika zakat bergerak dari angka menuju martabat.

Di tengah suasana itu, 25 warga menerima bantuan. Tidak besar jumlahnya, tetapi cukup untuk membuat dapur kembali berasap, obat bisa dibeli, dan cucu-cucu tidur dengan perut kenyang. Di balik angka, ada cerita nelayan tua yang jaringnya robek, janda penjual kue yang kehilangan pembeli, buruh kebun yang tak pernah mengenal cuti.

Ketua BAZNAS Bangka Barat, Drs. Lili Suhendra NATO, menyebut Safari Ramadhan bukan sekadar agenda tahunan.

“Kami ingin zakat tidak hanya menjadi kewajiban agama, tetapi menjadi gerakan pemulihan martabat manusia. Ketika masyarakat melihat kerja nyata, di situlah kepercayaan tumbuh,” katanya.

Dalam model jurnalisme yang memandang krisis sosial sebagai bagian dari ekosistem kehidupan zakat di Mentok bukan hanya kegiatan amal. Ia adalah upaya merawat keseimbangan sosial, seperti hutan yang dijaga agar sungai tidak kering.

Di Indonesia, zakat telah lama dipandang sebagai instrumen pengentasan kemiskinan oleh BAZNAS RI. Dalam literatur seperti Zakat dalam Perspektif Pembangunan Nasional, zakat disebut sebagai mekanisme redistribusi ekonomi berbasis iman.

Peneliti ekonomi Islam Didin Hafidhuddin menulis:

“Zakat memiliki potensi sebagai sistem jaminan sosial yang mampu mengangkat martabat kaum miskin.

Di Mentok, teori itu menjadi wajah manusia. Seorang nenek yang menerima bantuan berkata lirih, “Alhamdulillah… masih ada yang ingat kami.”

Kalimat itu adalah statistik paling jujur tentang keberhasilan program sosial.

Dalam era skeptisisme publik, lembaga zakat dituntut bukan hanya bekerja, tetapi membuktikan. Kinerja menjadi penting bukan sebagai pembuktian kosong, tetapi sebagai transparansi yang terlihat.

Wakil Ketua bidang pengumpulan, H. Hasyim Baharudin, menegaskan.

“Kepercayaan masyarakat adalah napas lembaga zakat. Kami ingin setiap rupiah yang dititipkan kembali sebagai senyum bagi mustahiq.” tegasnya.

Sementara Wakil Ketua distribusi, Wasis Utama Edi, menyebut BAZNAS hadir untuk mereka yang luput dari bantuan negara.

“Dalam efisiensi anggaran, BAZNAS menjadi pelengkap negara.” tuturnya.

Hal itu sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat tentang peran zakat dalam kesejahteraan sosial.

Dalam laporan media nasional seperti Kompas dan Tempo, transparansi lembaga zakat disebut sebagai faktor utama membangun kepercayaan publik. Safari Ramadhan BAZNAS Bangka Barat menjadi panggung pembuktian kecil dari teori besar itu.

Seorang nelayan tua berkata bantuan itu akan memperbaiki mesinnya. Seorang ibu berkata ia bisa membeli susu cucunya. Seorang buruh berkata ia bisa membayar listrik.

Di situlah citra BAZNAS Bangka Barat dibangun bukan dari baliho, tetapi dari napas lega orang miskin.

Wakil Ketua keuangan, H. Zumrowi Achyar, mengajak masyarakat memperkuat infak dan zakat.

“Ramadhan adalah madrasah empati.” ajaknya.

Wakil Ketua administrasi, H. Nurzali Hamid, menambahkan bahwa BAZNAS terbuka bagi mustahiq dengan SOP transparan.

“Kepercayaan publik lahir dari ketepatan distribusi.” tambahnya.

Jurnalistik sering menulis bahwa krisis lingkungan tidak bisa dipisahkan dari krisis sosial. Kemiskinan membuat hutan ditebang, sungai diracuni, tanah ditinggalkan. Dalam perspektif itu, zakat adalah intervensi kecil yang menjaga keseimbangan agar manusia tidak harus merusak alam demi bertahan hidup.

Di Mentok, zakat menjadi benih kecil peradaban.

Ketua BAZNAS Bangka Barat, Lili Suhendra, menutup acara dengan kalimat yang pelan namun tajam.

“Jika zakat dikelola dengan hati, Ramadhan tidak hanya mengenyangkan perut orang miskin, tetapi juga membersihkan jiwa orang kaya.” tutupnya.

Malam itu, Mentok tidak hanya menyaksikan pembagian bantuan. Ia menyaksikan bagaimana lembaga zakat membangun legitimasi melalui empati, bagaimana pencitraan lahir dari kerja nyata, bagaimana pembuktian berubah menjadi pendidikan publik.

Karena citra terbaik sebuah lembaga bukanlah spanduk di jalan raya, tetapi doa orang miskin yang diucapkan pelan sebelum tidur.

Di rumah dinas itu, di bawah langit Ramadhan, BAZNAS Bangka Barat menyalakan cahaya kecil sebagai cahaya yang mungkin tidak mengubah dunia sekaligus, tetapi cukup untuk menuntun manusia menemukan kembali sesamanya.

Exit mobile version