Cahaya Resam Di Balik Teras Akek

Oleh: Qhiara Aisha Zafira Brata (Siswa SDN STKIP Muhammadiyah Bangka Belitung)

 

Matahari baru saja naik sepenggalah menyebarkan warna keemasan di atas atap-atap  di desa kaki Bukit Mangkol. Di teras belakang yang teduh akek, Aris duduk bersilah di atas tikar pandan. Tangan tua yang keriput namun kokoh terlihat terampil memegang sebilah sebiluh kecil. Di hadapannya, tumpukan serat tanaman resam yang sudah kering berwarna coklat tua mengkilap, tertumpuk rapi.

“Kek, kenapa akek harus repot menganyam resam?’’ tanya Bagas sambil menghampiri kakeknya. Di tangan Bagas terdapat sebuah gawai pintar yang ia gunakan untuk bermain gim.

“Di pasar sekarang banyak yang jual topi dan kopiah kain yang lebih murah, kek. Tidak perlu lama-lama menunggu kering seperti tanaman ini.”

Akek Aris hanya tersenyum tipis. Mata yang teduh menatap Bagas dari balik kacamata tua.

“Bagas, kopiah Resam bukan hanya sekadar penutup kepala biasa tapi di setiap lilitannya terdapat nafas bangka dan kesabaran yang kita tanam.’’

Bagas mengernyitkan dahi. Ia mematikan gawai dan duduk di samping akek, ia mencium aroma tanah dari serat resam yang baru diambil dari pinggir hutan.

“Kesabaran bagaimana, Kek?”

Akek mengambil sehelai serat resam yang sangat halus, setipis helai rambut namun sangat kuat.

“Resam ini tanaman liar yang tangguh di tanah desa kita. Untuk jadi satu kopiah yang bagus kita harus sabar dalam, menyisutnya, menjemurnya, hingga menganyam berhari-hari. Jika Akek berhenti dan kamu lebih asyik bermain benda yang ada di tangan kamu itu maka suatu saat nanti orang Bangka akan lupa bagaimana rasanya memakai mahkota dari tanah mereka sendiri.”

Bagas terdiam. Ia melihat jari-jari akek menari-nari, memasukkan satu per satu serat resam seolah-olah sedang memainkan alat musik tanpa suara.

“Boleh Bagas mencoba Kek, tapi Bagas takut putus,” tanya Bagas ragu.

“Tentu saja, dak usah takut, sini duduk lebih dekat!” Ajakan akek dengan penuh semangat.

Akek mengajari Bagas langkah-langkah dasar. Awalnya tangan Bagas kaku. Serat resam itu sering kali melintir karena Bagas terlalu terburu-buru. Namun akek masih sabar mengajari bagas.

“Gas, sabar itu kuncinya, seperti orang tua kita dulu mencari bijih timah dan menanam lada. Semua itu butuh proses. Jika kamu terlalu terburu-buru, anyaman resam akan renggang dan tidak elok dipandang.”

Satu jam berlalu. Bagas mulai menikmati setiap tarikan serat resam. Ia merasakan tekstur serat yang sangat halus dan dingin di jemarinya. Keasyikan itu membuat dunianya yang tadinya hanya sekadar layar gawai kini menjadi jalinan seni yang nyata.

“Lihat Kek, Bagas bisa membuat pola lingkaran!’’ Seru Bagas bangga.

Meskipun hasilnya tidak sebagus bikinan akek, pola sudah menunjukan bentuk.

“Bagus sekali. Pacak juga kamu!” Puji akek sambil menepuk bahu Bagas.

“Kamu tahu, di luar sana banyak orang yang mulai rindu barang yang dibuat dengan sepenuh hati. Produk ramah lingkungan mereka menyebutnya. Jika kamu bisa menjaga ilmu ini, tradisi kita tidak akan terkubur oleh plastik.’’

Bagas mulai memikirkan sesuatu yang baru.

“Kek bagaimana anyaman resam ini kita modifikasi. Tidak hanya sekadar kopiah dan tas. Tapi mungkin pelindung gawai atau gantungan kunci yang unik.”

Mata akek Aris berbinar secerah langit di atas Bukit Mangkol. Itulah yang akek Aris harapkan menjaga tradisi bukan berarti kita menolak zaman. Membawa jati diri ke tempat yang lebih tinggi.

Sore itu, teras rumah akek Aris menjadi saksi ikatan baru. Bagas tidak lagi melihat serat resam itu sebagai tanaman pengganggu hutan tapi baginya sejarah yang menyatukan diri dengan tanah kelahiran.

Saat matahari mulai terbenam dan menyisakan warna jingga di cakrawala, Bagas berhasil membuat gelang kecil dari anyaman resam. Ada rasa bangga yang menyelinap di dadanya. Rasa bangga lebih besar dari pada hanya sekadar memenangkan pertandingan di dunia maya.

“Besok ajari Bagas cara membuat motif yang lebis susah ya, Kek!’’ pinta Bagas penuh semangat. Akek mengangguk mantap. Selama hutan masih hijau dan selama masih ada anak muda yang mau menyentuh tanah. Bagas tersenyum tipis, sambil menggunakan gelang yang di buatnya. Bagas berjanji akan mengajak teman-temannya melihat akek menganyam resam dan Bagas akan memberi tahu bahwa kerajinan Bangka Belitung itu hebat. (BP/ KM)*

 

 

Catatan: Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kecamatan Pangkalanbaru Tahun 2026 Cabang Menulis Cerita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *