CHAIRUL, SI PEMUDA DUSUN DI WISMA RANGGAM

Penulis: Meilanto

 

Chairul adalah pemuda dusun yang berusia 20 tahun. Ia tinggal di dusun yang terisolir. Jauh dari dari kesan pembangunan. Dusun itu belum terjamah aliran listrik, rumahpun masih rumah panggung. Jarak satu rumah dengan rumah lainnya berjauhan.

Akses masuk ke dusun hanya bisa melalui anak sungai. Itu satu-satunya. Sekolahpun hanya ada sekolah dengan kelas jarak jauh yang menginduk ke desa. Jarak ke desa membutuhkan waktu sekitar dua jam perjalanan.

Sebagai seorang pemuda yang putus sekolah, Chairul belum sekalipun menginjakkan kaki ke ibukota kecamatan apalagi kabupaten. Jiwa mudanya terkungkung dalam lingkaran kampung yang jauh dari keramaian. Jiwa mudanya berontak. Kepada siapa ia harus mengadu, tak ada suara yang mendengar. Suara rintihan, doa dan curahan hatinya ditelan hutan rimba. Hutan yang suatu hari nanti berganti dengan jejeran kelapa sawit milik perusahaan besar dan milik bangsa asing berduit.

Hari itu, dusun tempat tinggal Chairul didatangi salah satu tim sukses pasangan calon bupati dan wakil bupati. Sebagai tokoh pemuda di dusunnya, Chairul pun angkat bicara mengenai keadaan dusun kecilnya.

“Bapak-bapak yang terhormat, sudah sekian puluh tahun dusun kami ini tidak pernah tersentuh pembangunan. Setiap menghadapi pilkada, dusun kami selalu didatangi tim sukses. Janji tinggal janji. Mana janji yang dulu diucapkan?” tagih Chairul dengan suara keras dan lantang.

Tak ada satupun anggota tim sukses yang bersuara. Semua diam seribu bahasa. Bagi anggota tim sukses, pemuda tersebut sangat berbahaya. Maka mulut vokalnya harus dibungkam.

Rumah panggung Chairul didatangi sejumlah orang yang merupakan suruhan tim sukses salah satu pasangan calon bupati dan wakil bupati. Untuk meredam suaranya yang vokal itu, Chairul diajak ke ibukota Kabupaten, yaitu Mentok. Chairul dilayani oleh tim sukses dengan maksimal. Dibawa ke rumah makan elit, menginap di hotel berbintang, naik mobil mewah ber-AC dan tempat-tempat yang belum pernah dikunjunginya. Bagi Chairul, kunjungan itu sangat berkesan. Ia tampak terpesona melihat ibukota kabupaten. Umur telah menginjak diangka 20 tahun, baru kali ini ia menatap dunia luar.

Salah satu tempat yang dikunjunginya adalah Wisma Ranggam. Ia berjalan santai dan lugu. Anak dusun yang masuk kota. Ia memasuki Wisma Ranggam dengan langkah gontai. Sementara itu anggota tim sukses yang membawanya duduk-duduk santai sambil bercengkerama bersama teman-temannya di teras Wisma Ranggam. Sesekali mereka menghisap rokok yang tersulut di ujung jari. Asap rokok mengepul dihembuskan oleh bibir-bibir yang penuh janji dan kepalsuan terhadap rakyat kecil. Rakyat yang hakikatnya adalah pemilik suara yang bisa dibeli dengan harga yang murah.

Di pintu masuk Wisma Ranggam, Chairul melihat foto-foto berukuran besar. Ia berusaha mengeja huruf yang ditulis dibawah foto besar berbingkai tersebut. Foto pertama yang dibacanya adalah Ir. Soekarno. Chairul kesulitan mengeja tulisan itu. Bangku sekolah hanya dinikmatinya sampai kelas 4 SD.

Ditatapnya foto sang Putra Fajar tersebut. Foto ia tersenyum bangga saat perjuangan diplomasinya untuk negeri telah berhasil memproklamasikan kemerdekaan 75 tahun silam. Pesona dan aura Ir. Soekarno begitu kuat.

“Hei, anak muda, ke mana saja kamu selama ini, mengapa baru sekarang muncul ke sini?” tanya Bung Karno kepada Chairul.

“E…e…iya Pak, saya baru pertama kali ke sini. Dusun saya jauh Pak. Kami sulit keluar dari dusun. Gak ada akses jalan raya. Yang ada cuma,…” Chairul menggantungkan kalimatnya. Ia tergagap. Merasa malu menceritakan keadaan yang sebenarnya kepada sosok bersahaja itu.

“Ayo anak muda, ceritakan, apa yang terjadi dengan dusunmu?”

“Saya malu, Pak. Saya hanya lah anak dusun yang jauh dari keramaian kota.” curhatnya.

“Ayolah anak muda, jangan sungkan-sungkan, ceritakan apa yang terjadi dengan dusunmu. Perjuangan yang telah kami lakukan untukmu wahai anak muda!”

“E….e…iya Pak, saya akan ceritakan yang sebenar-benarnya, tapi bapak janji tidak akan marah ya?”

“Hei anak muda, perjuanganmu tidaklah sesulit perjuangan yang telah kami lakukan. Kamu tinggal mengisi pembangunan sesuai dengan bidang dan kemampuanmu sendiri, sampai disini mengerti anak muda?”

“Siap mengerti Pak.”

“Nah sekarang ceritakan apa yang terjadi dengan dusun tempat tinggalmu?”

“Dusun tempat tinggal saya dan penduduk lainnya berada jauh dari hutan. Penduduk dusun bekerja hanya sebagai petani ladang. Terkadang mencari kayu dan hasil hutan lainnya. Madu, lilin, rotan, daun-daun dan tanaman herbal lainnya. Akses jalan hanya bisa dilalui dengan anak sungai. Butuh waktu dua jam. Harus mendayung perahu untuk sampai ke desa induk. Jalan raya melewati darat belum ada Pak.” curhat Chairul.

“Ouw begitu, terus bagaimana kamu, hei anak muda bisa hadir di Wisma Ranggam ini!”

“Saya dibawa tim sukses salah satu pasangan calon bupati dan wakil bupati jalan-jalan ke kota Muntok ini, Pak!”

“Lantas kamu diam?” Chairul terdiam. Merenungi kalimat-kalimat yang meluncur dari bibir sang proklamator.

“Saya juga tidak tahu Pak?”

“Anak muda, kalau kamu mau tahu, kamu dibawa ke sini untuk menyumbat mulut vokalmu itu supaya tidak terlalu vokal terhadap pemerintah. Suara demokrasi telah disumbat. Siapa yang berduit, mereka yang menang. Suara masyarakat telah dibeli. Dibeli dengan 5 Kg beras, kopi, gula, sarung, baju kaos murahan dan sedikit uang.

Chairul tidak mengerti sama sekali apa yang disampaikan oleh Bung Karno.

Baginya menginjakkan kaki di ibukota suatu kebanggaan tersendiri. 20 tahun seperti katak dalam tempurung.

“Hei anak muda, mengapa kamu hanya diam saja?”

Tiba-tiba Bung Karno meneteskan air mata. Disapunya air mata supaya tidak diketahui oleh Chairul. Pemuda kampung tepatnya pemuda dusun terpencil yang baru sekali ini menginjakkan kaki di Muntok.

“Anak muda,” suara Bung Karno serak, “teruskan perjuanganmu, Nak. Jalanmu masih panjang. Masih sangat panjang. Ayo berjuang, Nak. Berjuanglah untuk mengisi pembangunan. Minimal untuk dusunmu sendiri. Pulang dari ruanganku ini, tataplah dunia luar. Jangan kau sesali keterkungkungan duniamu. Tanah kelahiranmu menantikan kiprahmu. Ingat pesanku, kalau kamu sudah berbuat sesuatu untuk tanah kelahiranmu, jangan lantas berpuas diri. Teruslah membangun, membangun dan membangun. Isi kemerdekaan yang telah kami perjuangkan dengan kegiatan-kegiatan positif. Sekali lagi, tanah kelahiranmu menantimu”.

Chairul mendengar nasihat Bung Karno dengan seksama. Kalimat-kalimat yang mampu menyihir ruang bahwa sadar seorang pemuda dusun. Diresapinya kalimat nasihat dengan hatinya yang paling dalam.

“Baik Pak, saya akan berbuat sesuatu untuk tanah kelahiran saya.”

Chairul meninggalkan ruangan Bung Karno. Ia terus berjalan menelusuri setiap ruangan di Wisma Ranggam. Tepat di pintu sebuah kamar, dilihatnya sebuah foto besar berbingkai. Ia bersusah payah mengeja tulisan dibagian bawah foto tersebut. “H. Agus Salim”, tulisan yang tertera pada foto itu. Dalam foto tersebut, sang kakek menggunakan tutup kepala seperti kopiah. Berwarna coklat. Janggut putih melancip ke bawah. Diperhatikannya lekat-lekat foto itu. Aura seorang pemimpin yang agak pendiam, berpostur tubuh agak kecil tampak sekali dalam dirinya. Beliau sebagai menteri luar negeri yang ikut diasingkan Belanda ke Bangka. Sebelum diasingkan ke Bangka, H. Agus Salim ikut ditawan Belanda saat Agresi Militer Belanda II pada waktu ibukota Yogyakarta sebagai ibukota Republik Indonesia dikuasai Belanda. Para pemimpin bangsa diasingkan dengan alasan polisionil. Sebelum diasingkan ke Bangka, H. Agus Salim dan Ir. Soekarno diasingkan ke Prapat dan kemudian ke Brastagi.

“Assalamu’alaikum anak muda, siapa namamu?”

“Wa’alaikumussalam. Chairul, Pak.”

“Mari merapat ke sini!”

Dengan langkah malu-malu, Chairul merapat ke arah foto H. Agus Salim. Foto itu seperti sedang berbicara dengannya. Aura seorang pemimpin besar yang bertubuh kecil.

“Hm…Chairul, ya…ya…berarti kebaikan. Nama yang bagus sekali anak muda.”

“Terima kasih Pak.”

“Mengapa kamu ada disini? Tidak kuliah?”

“E…e…” Chairul tergagap. “Jangankan mau kuliah Pak, SD pun cuma sampai

kelas 4!”

“Apa? apa aku tidak salah dengar?”

“Iya Pak. Bapak tidak salah dengar. Saya cuma sampai kelas 4 SD.”

“Kok bisa begitu, ya?”

“Tempat tinggal saya jauh dari desa Pak. Butuh waktu dua jam untuk sampai ke tempat tinggal saya. Akses jalannya hanya bisa dilalui dengan perahu, Pak. Maka dari itu, anak-anak di dusun saya semuanya putus sekolah, kami hanya membantu orang tua di kebun atau ke hutan, Pak.”

“Wah ini tidak bisa dibiarkan. Kemana pemimpinmu?”

“Pak, dusun saya hanya didatangi oleh tim sukses saat ada pemilu saja, selebihnya tidak pernah sama sekali. Janji-janji manis para tim sukses tidak pernah terealisasi. Janji mereka hanya menjadi pemanis bibir yang penuh kepalsuan. Bibir-bibir

yang busuk. Bibir yang mencuri suara rakyat. Suara rakyat dibeli dengan harga yang murah.” Chairul tampak bersemangat mencurahkan isi hatinya kepada H. Agus Salim.

Sama seperti Ir. Soekarno, ia tampak menitikkan air mata. Di sapunya air mata dengan punggung tangan kanannya. H. Agus Salim benar-benar terpukul. 75 tahun Indonesia merdeka, masih ada daerah yang terisolir, anak yang putus sekolah, pembangunan yang masih belum merata dan lain sebagainya.

“Chairul, kamu pulanglah Nak. Pulanglah ke dusunmu. Sampaikan ke wargamu, nanti saat pemilihan Bupati dan Wakil Bupati pilihlah yang benar-benar pro-rakyat.

Suara rakyat tidak perlu dibeli. Rakyat sudah cerdas memilih. Bukan Cuma sekadar janji kosong belaka.

***

Dari Wisma Ranggam, Chairul banyak belajar tentang arti pembangunan, tentang arti perjuangan yang telah dilakukan oleh para pemimpin bangsa. Di dusunnya ia berupaya mendekati warga agar jangan sampai suara-suara rakyat mau dibeli hanya dengan sembako.

Catatan: Cerpen ini ditulis tahun 2020 saat mengikuti lomba menulis cerpen tentang Kota Muntok dengan mengusung tema Pesona Muntok dalam rangka memperingati HUT kota Muntok ke 286 tahun 2020. Dan ini merupakan cerpen pertama yang penulis tulis dan ikutsertakan dalam lomba. (BP/ KM)*

Exit mobile version