Dari Sajadah ke Masa Depan: 295 Santri Tempilang Mengukir Harapan Bangka Barat

Penulis: Medi Hestri, Belva Al Akhab dan Satrio

Bekaespedia.com, Tempilang,-Di antara lantai dingin yang diselimuti sajadah hijau dan gema ayat suci yang bergetar pelan di udara, ratusan anak berseragam biru duduk bersila, membawa satu hal yang tak terlihat oleh mata adalah masa depan. Sabtu (4/4/2026), di ruang utama Masjid Al Hidayah Tempilang, sebuah peristiwa sederhana menjelma menjadi momentum besar yang tak hanya menguji hafalan, tetapi juga mengukuhkan arah peradaban.

Munaqosah TKA/TPA yang digelar oleh LPPTKA-BKPRMI Kecamatan Tempilang hari itu bukan sekadar agenda tahunan. Ia berubah menjadi panggung strategis tempat di mana masa depan Bangka Barat dirumuskan dalam bahasa iman, disiplin dan harapan.

Di tengah panggung itu, berdiri sosok yang tidak hanya hadir, tetapi menguasai makna momentum yaitu H. Yus Derahman.

Kehadiran Yus Derahman bukan sekadar formalitas birokrasi. Ia hadir sebagai simbol kepemimpinan yang menyentuh akar terdalam masyarakat yaitu spiritualitas.

Dengan langkah tenang namun penuh wibawa, ia menyusuri barisan santri, menyapa dengan pandangan yang hangat namun tegas. Dalam momen itu, ia tidak lagi sekadar Wakil Bupati. Ia menjelma menjadi figur ayah bagi ratusan anak yang sedang menapaki jalan menuju cahaya.

“Ini bukan hanya tentang membaca Al-Qur’an, tetapi tentang bagaimana kita membentuk manusia yang hidup dengan nilai-nilai Al-Qur’an,” tegasnya.

Kalimat itu bukan sekadar pidato. Ia adalah deklarasi arah pembangunan. Sebuah pesan bahwa di tangan kepemimpinan Yus Derahman, Bangka Barat tidak hanya dibangun dengan beton, tetapi dengan iman.

Sebanyak 295 santri hadir, duduk bersila dalam ketenangan yang sarat makna. Anak-anak perempuan dengan hijab biru tampak serius, bibir mereka bergerak pelan mengulang hafalan. Anak-anak laki-laki menatap ke depan dengan tekad, seolah ingin membuktikan bahwa mereka adalah generasi yang siap mengambil peran.

Di sisi ruangan, para ustadz dan ustadzah menjadi saksi perjalanan panjang mereka. Pena yang mereka genggam bukan sekadar alat tulis, tetapi alat ukur masa depan.

Di atas semua itu, kehadiran Yus Derahman menjadi energi yang menghidupkan ruang.

Ia tidak berdiri jauh dari rakyat. Ia duduk dekat, berbicara langsung, menyatu dengan denyut kehidupan masyarakat. Inilah wajah kepemimpinan yang dirindukan yaitu kepemimpinan yang hadir, mendengar dan menggerakkan.

Dalam pidatonya, Yus Derahman menegaskan bahwa pembangunan sejati tidak dimulai dari proyek besar, tetapi dari manusia yang berkarakter.

Ia menyebut para ustadz dan ustadzah sebagai “arsitek peradaban,” dan para orang tua sebagai “penjaga doa yang tak pernah lelah.”

Pernyataan ini bukan tanpa dasar. Penelitian dari Kementerian Agama Republik Indonesia menunjukkan bahwa pendidikan Al-Qur’an sejak usia dini berperan besar dalam membentuk karakter moral, kedisiplinan dan empati sosial anak.

Dalam jurnal Pendidikan Islam Kontemporer (2021) disebutkan.
“Internalisasi nilai Al-Qur’an sejak dini menjadi fondasi utama dalam membangun generasi yang berintegritas.”

Dengan menjadikan nilai-nilai ini sebagai pijakan, Yus Derahman secara tidak langsung sedang membangun fondasi ideologis bagi masa depan Bangka Barat.

Seorang ibu di sudut ruangan tak mampu menyembunyikan air matanya saat anaknya mulai membaca ayat pertama. Itu bukan sekadar haru terpaksa itu adalah akumulasi harapan, doa dan pengorbanan.

Seorang ustadzah tersenyum kecil, matanya berbinar melihat anak didiknya melangkah satu tahap lebih maju. Di wajah-wajah itu, terlihat jelas bahwa munaqosah adalah lebih dari sekadar ujian.

Ia adalah titik temu antara cinta, pendidikan, dan masa depan.

Menurut UNESCO, keterlibatan keluarga dalam pendidikan berbasis nilai spiritual secara signifikan meningkatkan keberhasilan anak secara akademik dan emosional.

Hari itu, Tempilang bukan hanya mengikuti teori tetapi ia membuktikannya.

Di balik suasana yang khidmat, tersirat pesan politik yang kuat. Kehadiran Yus Derahman bukan hanya simbol dukungan, tetapi juga sinyal arah kebijakan.

Di tengah keterbatasan fasilitas dan dukungan anggaran yang masih menjadi tantangan bagi banyak TPA, kehadiran langsung Wakil Bupati menjadi bentuk pengakuan bahwa sektor ini tidak lagi dipinggirkan.

Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa ketimpangan pendidikan non-formal masih menjadi pekerjaan rumah di wilayah pedesaan.

Namun dengan pendekatan yang ditunjukkan Yus Derahman adalah turun langsung, mendengar, dan memberi perhatian untuk publik melihat adanya harapan baru.

Ia tidak hanya hadir sebagai pemimpin hari ini, tetapi sebagai arsitek masa depan.

Tidak dapat disangkal, momentum ini memperkuat posisi Yus Derahman sebagai figur politik yang lengkap:

Pemimpin yang hadir di tengah rakyat

Tokoh religius yang peduli generasi Qur’ani

Visioner yang membangun dari akar moral

Strategi ini sejalan dengan temuan dalam jurnal Political Communication Review (2020).
“Kehadiran pemimpin dalam ruang budaya dan religius memperkuat legitimasi emosional dan kedekatan dengan masyarakat.”

Di Tempilang, semua elemen itu berpadu sempurna.

Saat acara ditutup dengan ucapan Bismillahirrahmanirrahim, gema takbir kecil mengalun, mengisi ruang dengan harapan.

Anak-anak berdiri, sebagian tersenyum lega, sebagian masih memeluk mushaf mereka dengan erat seolah memegang masa depan mereka sendiri.

Di bawah kubah Masjid Al Hidayah Tempilang, sebuah narasi besar sedang ditulis.

Bahwa Bangka Barat tidak hanya sedang membangun, tetapi sedang menanam.

Menanam nilai.
Menanam iman.
Menanam generasi.

Di tengah proses itu, nama Bangka Barat tidak lagi sekadar wilayah, tetapi menjadi simbol harapan.

Sementara H. Yus Derahman berdiri sebagai penjaganya untuk mengarahkan, menguatkan dan memastikan bahwa masa depan itu benar-benar tumbuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *