Dari Sang Jago Merah yang Membubung Rumah di Banyuasin, Harapan yang Tak Boleh Padam

 

Oleh : Belva

Bekaespedia.com, Banyuasin, Riau Silip — Sabtu sore, 16 Agustus 2025, pukul 15:30, langit Desa Banyuasin mendadak berubah kelabu. Asap pekat menyesaki udara, bercampur dengan jeritan panik dan teriakan warga yang berhamburan. Bukan hujan yang turun sore itu, melainkan api yang melahap habis rumah sederhana milik Yunain, warga RT 01.

 

Rumah yang selama ini menjadi tempat berteduh, penyimpan kenangan, dan saksi perjalanan hidupnya, kini tinggal puing arang dan seng yang tergeletak tak berdaya. Diduga korsleting listrik menjadi penyulut awal, sebuah percikan kecil yang menjelma amukan besar, melumat habis dinding kayu, atap seng, hingga tak tersisa sehelai pun kenangan yang utuh.

 

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, tetapi luka terdalam justru datang dari hal-hal yang tak kasat mata. Semua dokumen penting sertifikat rumah, BPKB, STNK motor hangus terbakar. Surat-surat yang seharusnya menjadi pegangan masa depan, kini hilang ditelan bara.

 

Di hadapan reruntuhan itu, Yunain hanya bisa pasrah. Ia menatap kosong ke arah puing-puing rumahnya, lalu berucap lirih:

“Saya hanya ingin kembali punya tempat berteduh. Semoga pemerintah dan masyarakat mau membantu agar kami bisa bangkit lagi.”

 

Api memang menghapus satu rumah, tetapi solidaritas membangkitkan harapan. Hampir 50 lebih warga bergegas datang, membawa ember, menimba air dari sumur, hingga menggunakan teng semprot rumput. Peluh bercampur asap, jeritan bercampur semangat: semua bergerak dalam satu tujuan—menyelamatkan desa dari jilatan api yang ganas.

 

Apa yang tidak dimiliki warga dalam bentuk peralatan modern, mereka ganti dengan kekuatan hati. Apa yang kurang dari selang panjang pemadam, mereka gantikan dengan ember yang berpindah tangan ke tangan. Dari situ kita belajar: musibah bisa meluluhlantakkan rumah, tapi tidak akan pernah memadamkan semangat gotong royong.

 

Kini, setelah api padam dan hanya asap tipis yang tersisa, pertanyaan besar muncul: di mana peran pemerintah?

 

Sudah seharusnya pejabat daerah tidak hanya datang ketika kamera wartawan menyorot, atau sekadar mengucapkan kata simpati dalam pidato. Musibah ini nyata, luka ini sungguh ada. Bantuan darurat, pembangunan kembali rumah, dan penggalangan dana sosial bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban moral.

 

Yunain tidak meminta istana, ia hanya memohon tempat berteduh. Ia tidak meminta emas, ia hanya mengharap secuil perhatian dari mereka yang berkuasa. Musibah ini mestinya menjadi alarm, bahwa pejabat sejati bukan hanya pemimpin di podium, tetapi penolong ketika rakyatnya kehilangan tempat tidur.

 

Dari abu yang masih mengepul di Banyuasin, kita diingatkan: hari ini musibah menimpa Yunain, besok bisa jadi menimpa siapa pun di antara kita. Maka, mari bersama-sama meringankan beban ini. Uluran tangan masyarakat, sekecil apa pun bentuknya, akan menjadi cahaya yang menuntun korban kembali bangkit.

 

Semoga dari puing-puing yang hangus, lahir rumah baru yang penuh doa. Semoga dari luka ini, lahir solidaritas yang lebih kokoh. Dan semoga para pemimpin yang sedang duduk nyaman di kursinya, tidak menutup mata terhadap api yang membakar hati rakyatnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *