Karya: Yanto In Action
Kita merangkak di kegelapan malam,
hati remuk, dunia sempit menusuk dada.
Tangan meraih langit, air mata jadi senjata,
“Ya Rabb, selamatkan!” jerit yang retak nada.
Tapi angin hembus, beban ringan sedikit,
kita bangun, lari ke gemerlap dunia fana.
Sibuk mengejar bayang emas yang rapuh,
Allah? Ah, sekadar tamu saat badai datang.
Sepertiga malam Dia tunggu setia,
kursi tahta kosong, doa kita jarang singgah.
Kita pilih bantal empuk, mimpi manis palsu,
lupakan yang cipta napas di dada yang sesak.
Dosa bertumpuk seperti gunung tak tergoyah,
kelalaian kita tumpah, tapi nafas tetap panjang.
Bukan karena layak, bukan karena pintar,
Rahmat-Nya saja yang tahan derita kita yang dungu.
Sampai kapan datang hanya saat retak?
Hancur baru ingat, lapang lalu lalai lagi.
Kuasa palsu kita bangun di istana pasir,
ombak iman datang, runtuh semuanya.
Bangunlah, jiwa yang suka lupa janji!
Jadikan Dia pusat, bukan pelabuhan darurat.
Sebelum hari akhir remuk abadi,
datanglah sekarang, saat hati masih utuh rapuh.
Jangan biarkan rahmat jadi sia-sia,
kesempatan ini bukan hak, tapi karunia pinjam.
Kita bukan raja, Dia-lah yang Maha Pengasih,
kembali sebelum terlambat, sebelum pintu tertutup.
Ya Rabb, ampuni hamba yang suka lalai,
ajari kami datang bukan saat butuh saja.
Buat hati ini rumah-Mu yang abadi,
bukan penginapan sementara saat badai menderu.
TOBOALI,16 Februari 2026
