Dentingan Nada Dambus di Desa Kota Kapur

Oleh : Saufa Zaida (Siswa SD Negeri 29 Mendobarat)

 

Namaku Saufa. Aku tinggal di sebuah Desa bernama Kota Kapur, sebuah desa kecil di pelosok Bangka yang sering disalahartikan sebagai kota karena namanya.

Desaku adalah ruang di mana sejarah dan budaya hidup berdampingan.

Di tanah ini ditemukan prasasti Kota Kapur, jejak masa Kerajaan Sriwijaya yang tak lekang oleh waktu, namun bagi kami sejarah tidak hanya tertulis pada batu ia juga hidup dalam bunyi.

Bunyi itu adalah dambus. Bagi masarakat desaku, dambus bukan sekadar alat musik. Ia adalah napas budaya perpaduan nada, lagu dan gerak tari bedincak yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Namun kini, suara itu mulai memudar, terutama di telinga anak muda sepertiku.

Pada suatu pagi yang cerah, dunia terasa berjalan tidak seperti biasanya. Langit jingga telah menari di ufuk, seolah senja datang lebih awal untuk menyapa hari. Angin berembus pelan, membawa aroma laut dan tanah basah.

Di kejauhan, sesekali terdengar lirih dentingan dambus halus, nyaris hilang.

Namun tidak semua orang lagi mendengarnya.

Aku, Saufa, lebih akrab dengan musik dari ponselku daripada suara dambus yang dulu sering dimainkan kakek. Bagiku tradisi hanyalah cerita lama yang perlahan mudar.

Suatu sore aku bertanya, “Kakek kenapa masih memainkan itu?”

Kakek tersenyum, jemari tetap menari di atas senar.

“Karena di sinilah cerita kita hidup, Saufa.”

Aku mengangguk tetapi belum benar-benar mengerti.

Beberapa hari kemudian, guruku mengumumkan lomba bertema pelestarian budaya. Setiap siswa harus menampilkan karya yang mencerminkan identitas daerah. Aku bingung, aku tidak punya ide. Hingga suatu malam, turun hujan sangat deras. Listrik padam, sinyal hilang dan dunia digitalku seketika lenyap. Dalam keheningan itu sebuah suara muncul. Lembut, dalam dan penuh kerinduan.

Aku mengikuti suara itu. Di ruang tamu kulihat kakek memainkan dambus dengan mata terpejam. Nada-nadanya mengalir hangat seperti cerita yang akhirnya menemukan jalan pulang.

“Apa yang kakek rasakan saat memainkan itu?” tanyaku pelan.

Kakek membuka mata. Aku seperti pulang ke kenangan yang hampir hilang. Malam itu aku benar-benar mendengarkan bukan dengan telinga, tetapi dengan hati.

Sejak saat itu, aku mulai belajar. Jemariku kaku, nadanya berantakan. Aku sempat nyerah.

“Susah, Kek. Aku tidak bisa.”

Kakek menepuk bahuku.

“Kamu bukan tidak bisa, kamu hanya belum terbiasa mendengarkan dengan hati. Semua butuh waktu dan proses!”

Aku mencoba lagi. Hari demi hari. Perlahan aku mulai memahami bahwa dambus bukan hanya bunyi tetapi cerita tentang kebersamaan, tentang sejarah, tentang jati diri yang tak boleh hilang.

Aku mengajak teman-temanku. Awalnya mereka menolak.

“Kuno!” kata mereka.

Aku tersenyum.

Kalau bukan kita, yang menjaga siapa lagi, nanti yang bilang kuno justru tidak tahu asal-usulnya.

Sedikit demi sedikit, mereka tertarik. Kami membentuk kelompok kecil, ada yang menari bedincak, ada yang menulis cerita, dan aku memainkan dambus.

Hari perlombaan tiba. Di atas panggung kami tampil sederhana namun penuh makna. Petikan dambus mengalun, mengiringi tarian dan kisah tentang desa kami, tentang laut, tentang leluhur, tentang tradisi yang hampir hilang.

Penonton terdiam. Beberapa orang tua menitikkan air mata. Ketika penampilan usai, tepuk tangan bergemuruh memenuhi ruangan.

Malam itu aku pulang dengan hati yang berbeda. Di teras rumah aku kembali memainkan dambus. Kali ini, nadanya hidup bukan hanya dari jari, tetapi dari hati.

Aku mengerti sekarang menjaga budaya bukan sekadar merawat tradisi, tetapi menjaga identitas dan jati diri.

Di desa Kota Kapur, suara dambus mungkin pernah meredup, namun selama masih ada yang mau belajar dan mencintai nadanya tidak akan pernah benar-benar hilang.

Di tangan generasi muda sepertiku, tradisi itu menemukan napas baru lebih segar, lebih kuat, dan siap hidup lebih lama. (BP / KM)*

 

Catatan : Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kecamatan Mendobarat Tahun 2026.

Exit mobile version