Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim
Bekaespedia.com, Mentok,-Pagi Sabtu, 6 Maret 2026, halaman Masjid Agung Mentok perlahan dipenuhi langkah-langkah pelan para lansia, ibu-ibu dhuafa dan beberapa anak yatim yang datang dengan wajah tenang namun menyimpan harap.
Di bawah bayang kubah masjid tua yang telah lama menjadi saksi sejarah kota pelabuhan itu, kursi-kursi plastik tersusun rapi. Tongkat kayu bersandar di lutut para orang tua. Sementara di barisan depan, anak-anak duduk memegang map berisi berkas bantuan yang mereka jaga seperti sesuatu yang berharga.
Di tempat inilah, pagi itu, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Bangka Barat menyalurkan bantuan melalui program Jadub Berkah Bersama.
Sebanyak 99 mustahik terdiri lansia, fakir miskin, dhuafa dan anak yatim menerima bantuan zakat sebesar Rp150 ribu per bulan, yang dibayarkan sekaligus untuk tiga bulan.
Nilainya sederhana.
Namun di balik amplop kecil itu, terdapat sesuatu yang jauh lebih besar yaitu sebuah narasi tentang bagaimana zakat bekerja sebagai jembatan antara iman, solidaritas sosial dan pembangunan kemanusiaan.
Ketua BAZNAS Bangka Barat, Drs. Lili Suhendra Naro, berdiri di hadapan para penerima bantuan dengan suara tenang namun tegas.
Baginya, zakat bukan sekadar ritual ibadah yang berhenti di ruang doa.
Zakat adalah bahasa kepedulian.
“Zakat bukan hanya kewajiban spiritual. Ia adalah instrumen keadilan sosial yang menghubungkan kepedulian para muzaki dengan kebutuhan para mustahik,” ujarnya.
Dalam konsep filantropi Islam, zakat memang memiliki makna yang lebih luas dari sekadar pemberian.
Ia adalah mekanisme redistribusi kekayaan, sebuah cara masyarakat menjaga keseimbangan antara yang memiliki dan yang membutuhkan.
Program Jadub Berkah Bersama sendiri dirancang untuk menjangkau kelompok masyarakat yang sering kali berada di pinggiran sistem bantuan sosial.
Lansia yang hidup sendiri.
Dhuafa yang tidak memiliki penghasilan tetap.
Anak-anak yatim yang tumbuh tanpa penopang ekonomi keluarga.
Menurut Lili, jika seluruh kelompok program telah disalurkan, maka bantuan Jadub Berkah akan menjangkau sekitar 400 penerima manfaat di Bangka Barat.
Dalam beberapa tahun terakhir, lembaga zakat seperti BAZNAS semakin memainkan peran penting dalam membangun arsitektur solidaritas sosial di Indonesia.
Tidak hanya sebagai pengelola zakat, tetapi juga sebagai penghubung antara potensi ekonomi umat dan kebutuhan masyarakat rentan.
Di Bangka Barat, peran itu masih terus dibangun.
Wakil Ketua Bidang Pengumpulan BAZNAS Bangka Barat, H. Hasyim Baharudin, mengakui bahwa potensi zakat di daerah ini sebenarnya sangat besar.
Namun realisasinya masih jauh dari optimal.
“Jika dibandingkan dengan beberapa daerah lain di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang mampu mengumpulkan zakat lebih dari Rp 5 miliar per tahun, Bangka Barat bahkan belum mencapai Rp 1 miliar,” ujarnya.
Angka itu menunjukkan bahwa potensi solidaritas sosial masyarakat sebenarnya masih terbuka luas.
BAZNAS sedang berusaha membangun kesadaran tersebut terutama di kalangan aparatur sipil negara dan pelaku usaha.
Dalam pengelolaan dana zakat, satu hal yang menjadi fondasi utama adalah kepercayaan publik.
Wakil Ketua Bidang Keuangan BAZNAS Bangka Barat, H. Zumrowi Achyar, menegaskan bahwa seluruh dana zakat yang dikelola BAZNAS disalurkan secara transparan dan akuntabel.
“Dana zakat berasal dari amanah masyarakat. Karena itu pengelolaannya harus transparan dan tepat sasaran,” katanya.
Ia juga menepis rumor yang sempat beredar bahwa dana zakat digunakan untuk mendukung program pemerintah tertentu.
“Isu yang menyebut dana BAZNAS digunakan untuk program MBG pemerintah tidak benar. Penyaluran dana zakat sepenuhnya mengikuti program BAZNAS dan proposal masyarakat,” ujarnya.
Pernyataan ini menjadi penting, karena di tengah meningkatnya peran lembaga zakat dalam pembangunan sosial, kepercayaan publik adalah modal utama yang menentukan keberlanjutan lembaga.
Di sisi lain, Wakil Ketua Bidang Administrasi BAZNAS Bangka Barat, H. Nurzali Hamid, mengungkapkan bahwa jumlah permohonan bantuan dari masyarakat terus meningkat.
Permohonan itu datang dalam berbagai bentuk.
Biaya pengobatan.
Biaya pendidikan.
Bantuan hidup bagi keluarga miskin.
“Kami menerima banyak sekali proposal bantuan dari masyarakat,” ujarnya.
Kondisi ini menggambarkan satu realitas sosial yang sering tidak terlihat dalam statistik ekonomi.
Bahwa bagi sebagian masyarakat, bantuan sosial masih menjadi jaring pengaman terakhir ketika kehidupan berada di titik paling rapuh.
BAZNAS Sebagai Pengentas Nilai Kemiskinan
Dalam sambutannya, Wakil Ketua II BAZNAS Bangka Barat, Wasis Utama Edi, menegaskan bahwa peran BAZNAS bukan menggantikan negara.
Melainkan melengkapi ruang-ruang yang belum tersentuh bantuan pemerintah.
“BAZNAS hadir sebagai pelengkap bagi masyarakat yang belum tercover program pemerintah,” ujarnya.
Kolaborasi antara pemerintah daerah dan lembaga zakat, menurutnya, menjadi kunci untuk memperluas jangkauan bantuan sosial di masyarakat.
Dalam konteks pembangunan sosial, zakat sering dipandang sebagai energi moral masyarakat yang bergerak di luar struktur negara, tetapi bekerja untuk tujuan yang sama yaitu mengurangi kemiskinan.
Di antara para penerima bantuan, seorang nenek berusia lebih dari 70 tahun memegang amplop bantuan dengan tangan yang gemetar.
Di sebelahnya, seorang anak yatim duduk diam sambil memeluk map berisi berkas bantuan.
Bagi sebagian orang, Rp 450 ribu mungkin tidak berarti banyak.
Namun bagi mereka yang duduk di halaman masjid pagi itu, uang tersebut bisa berarti beras untuk beberapa minggu.
Atau obat yang selama ini tertunda.
Atau sekadar rasa bahwa mereka tidak sepenuhnya ditinggalkan oleh dunia.
Ketika kegiatan selesai, para penerima bantuan perlahan meninggalkan halaman Masjid Agung Mentok.
Sebagian berjalan dengan tongkat.
Sebagian menaiki sepeda motor tua milik keluarga.
Di belakang mereka, spanduk kegiatan masih tergantung di panggung.
Tulisan besar di atasnya berbunyi.
BAZNAS Hadir untuk Umat.
Kalimat itu sederhana.
Namun bagi BAZNAS Bangka Barat, kalimat tersebut adalah narasi pembangunan yang sedang dibangun perlahan bahwa zakat bukan sekadar dana ibadah.
Ia adalah energi sosial.
Ia adalah jembatan solidaritas.
Ia adalah cara masyarakat menjaga kemanusiaan di tengah dunia yang terus berubah.
Di halaman masjid pagi itu, zakat mungkin hadir dalam bentuk amplop kecil.
Namun bagi BAZNAS, ia adalah sebuah cerita panjang tentang bagaimana kepedulian bisa tumbuh menjadi kekuatan sosial yang menjaga martabat manusia.
