DI BALIK PUSARA, SAYANG TAK SUDAH!

Dwikki Ogi Dhaswara

Bekaespedia.com_Tatkala embun masih bertengger di pucuk ilalang dan angin sepoi membawa harum tanah basah, tampaklah seorang perempuan tua berusia 70 tahun duduk menyendiri di sebuah pemakaman yang masih baharu. Hatinya sarat beban yang tiada tertimbang oleh timbangan dunia.

Di hadapan sebuah pusara yang tanahnya masih lembut dan basah, ia termenung. Makam itu dipenuhi bunga-bunga harum, melur, kenanga, dan mawar yang gugur dari tangan kasih.

Nisan yang tegak di kepala pusara hampir tiada kelihatan, tertutup hamparan bunga yang menabur wangi duka.

Perempuan tua itu, dengan hijab dan tangan bergetar menyentuh kelopak-kelopak bunga, lalu rebahlah air matanya.

Dalam sendu itu, ingatannya terpantul jauh ke masa silam.

Ia mengingat dirinnya semasa muda, Nakiya, gadis Kampung Sabang berwajah manis, mata jernih bagaikan telaga.

Ketika itu, nampak seorang jejaka berwajah tirus, sorot matanya lembut nan gagah, dialah Aiman.

Alkisah, dalam ingatannya, terbentanglah masa-masa indah bersamanya.

Aiman sering melewati rumahnya mencari alasan, kadang untuk membantu, kadang untuk mencuri pandang. Dan hati Nakiya, yang lembut bagai kapas, mulai tersangkut pada tatapan jejaka itu.

Ingatannya pun berlangsung jauh ketika Aiman dengan keberanian yang dikumpulkan dari seluruh langit, datang melamar.

“Nakiya… sudikah kiranya dinda menjadi penyeri hidupku, menjadi teman sekapal dalam lautan hidup yang luas ini?” Tanya Aiman.

“Jika itu takdir dari Yang Maha Penyayang, maka diriku setuju menjadi sandaran kanda.” Jawab Nakiya.

Maka berlangsunglah pernikahan mereka dengan penuh syukur, diiringi bau wangi daun pandan dan asap kayu dari dapur rumah mereka.

Hari demi hari mereka lalui dalam kasih mesra.

Aiman bekerja sebagai penangkap ikan, pulang membawa cerita tentang laut yang bergelombang. Nakiya menanti dengan secangkir teh panas dan senyum yang tiada pernah pudar.

Mereka dikaruniai lima orang anak, dan rumah kecil mereka dipenuhi gelak tawa. Segalanya suka dan duka, mereka pikul bersama.

Aiman berkata di suatu malam, “Adinda, tiada yang lebih berarti, kecuali melihat masa tua kita bersama, aku harap nantinya, akulah yang terlebih dahulu dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, biar aku yang akan menunggumu di sana.”

Nakiya membalasnya, “Kanda, aku belum sanggup mendengar itu, jika nanti usia kita memutih bersama, itulah bahagia sebenarnya.”

Dan benar, mereka menua bersama. Rambut memutih, langkah perlahan, namun cinta semakin tebal.

Kini, di pemakaman itu, perempuan tua itu tersenyum di antara tangisnya. Namun sesaat kemudian ingatannya terhenti.

Ada seseorang berjalan mendekat. Langkahnya sangat dikenali, langkah yang telah ia dengar puluhan tahun, langkah yang dahulu selalu kembali pulang ke rumah.

Seorang lelaki tua berusia 70 tahun datang ke pusara itu. Tubuhnya bongkok, namun wajahnya menyimpan cahaya kasih yang dahulu memenangi hatinya.

Di tangannya terdapat setangkai melur dan mawar segar. Lelaki itu duduk di tempat Nakiya duduk, dan saat ia duduk, tubuhnya menembus tubuh Nakiya.

Nakiya terdiam, ia memandang kulit tangannya sendiri yang tembus oleh cahaya pagi.

Ia bukan lagi manusia. Ia sudah kembali kepada alam ruh. Dan makam di hadapannya… itulah pusaranya sendiri.

Mata Nakiya membesar saat menyadari kebenarannya.

Nakiya berbisik dengan suara yang pecah, bagai asap yang tak berdengung.

“Kanda… apakah kau melihatku disini?”

Aiman meletakkan bunga itu perlahan-lahan ke atas pusara, mengusap bunga-bunga lain yang telah layu. Ia membersihkan nisan dan memindahkan bunga yang menutupi nama itu.

Tampaklah ukiran nama:

N A K I Y A

Aiman menunduk, bahunya bergetar, air matanya jatuh dengan setiap tetesannya ke tanah basah.

“Dinda Nakiya… kanda datang lagi seperti biasa. Walaupun dinda tiada lagi, kanda tetap merasa dinda di sisi kanda.”

Nakiya berbisik, meski Aiman tak dapat mendengar.

“Kanda… dinda ada di sini. Dinda rindu… rindu segala yang pernah kita lalui.”

Ia mencoba menyentuh bahu suaminya, tetapi tangannya menembus tubuh itu, laksana kaca tertembus oleh cahaya pagi. Ia menangis tanpa suara, hanya angin yang merasai getarnya.

Aiman tersenyum pahit, menyentuh nisan itu dengan lembut-lembut.

“Dinda… jika umur kanda telah sampai, kanda mohon agar dinda menanti di pintu sana. Jangan biarkan kanda berjalan seorang diri dalam gelap.”

Nakiya kembali berbisik pada angin, “Kanda… dinda akan menanti, tapi biarlah kanda hidup dahulu menyudahkan takdir.”

Aiman bangkit perlahan, menatap pusara isterinya dengan cinta yang tak pernah sudah, lalu berlalu meninggalkan makam itu.

Ingatan Nakiya kembali terbuka, kali ini lebih tajam, lebih jelas daripada sebelumnya. Seolah pintu waktu retak, mempersilahkan ia melihat sekali lagi hari yang paling menyayat hati dalam hidupnya.

Ia mengingat dirinya terbaring di biliknya yang sederhana. Langit-langit rumah itu tampak jauh, sukar dipandang oleh mata yang terselubung kabur.

Aiman duduk di sisinya, menggenggam tangannya yang semakin dingin. Di sekelilingnya, anak-anak mereka berdiri, mata mereka merah menahan tangis.

Aiman membelai pipinya perlahan, “Dinda… kanda di sini, jangan tinggalkan kanda.”

Nakiya dalam ingatan itu tersenyum lemah, “Kanda.. hidup kita sudah panjang. Jangan risaukan dinda lagi.”

Anak-anak mereka pun mendekat, memeluk ibu yang terbaring.

Matanya semakin berat, seperti kelopak dipenuhi oleh pasir waktu. Kesadarannya redup… namun sebelum gelap menyapa, ia berbisik sekali lagi.

“Jaga diri kalian… nanti kita bersua lagi di hujung jalan sana.”

Aiman menunduk di sisinya, memeluk tubuh isterinya yang kurus. Anak-anak merangkul ayah mereka, namun tiada satu pun yang dapat menutup luka yang terbuka.

Ruh Nakiya yang kini menyaksikan kenangan itu, menangis lagi, walau tangisnya tiada bersuara.

Angin menyapu lembut bunga-bunga di atas makam itu.

Di bawah sinar pagi, Ruh Nakiya pun semakin memudar, hanya menyinari nama Nakiya yang bersinar sayu di nisannya.

Akan tetapi, cinta mereka tetap hidup lebih lama daripada usia tubuh, tanpa berkesudahan.

 

 

Toboali, 20 November 2025

Exit mobile version