Oleh: Kaira Cendra Kirana (SMPN 3 Satu Atap Lubukbesar)
Pada siang hari itu, matahari di Palembang bersinar dengan sangat terik, panasnya terasa membakar kulit. Debu jalanan Pasar 16 Ilir berterbangan, bercampur dengan aroma rempah dan ikan asin yang khas membuat perut mereka keroncongan. Di dalam suasana pasar yang ramai, gaduh, dan penuh aktivitas, seorang gadis berjalan-jalan di sekitaran pasar itu sambil memegang peta digital di hpnya. Itulah Kirana, sahabat Rina dan Sasa yang berasal dari Jakarta.
Kirana datang ke Palembang untuk liburan semester. Rina dan Sasa menyambutnya dengan penuh semangat dan gembira. Rina dan Sasa sudah mempersiapkan rencana petualangan yang seru untuk memperkenalkan Kirana pada kota kelahiran Rina dan Sasa. Palembang, dengan banyak keunikan dan budayanya yang kaya selalu menjadi kebanggaan Rina dan Sasa.
Di Palembang banyak sekali tradisi seperti Sanjo, Rumpak-rumpakan, Rabo Kasan, dan ada juga tradisi kulineran yaitu Ngidang dan Ngobang. Tentunya tak lupa dengan tari tradisional Palembang, yaitu Tari Gending Sriwijaya.
Jakarta, kota asal Kirana juga banyak budaya. Salah satu budaya Jakarta ada tari tradisional yaitu Tari Topeng Betawi, dan juga makanan khas Jakarta seperti soto betawi dan kerak telor.
“Aduh, panasnya cuaca di sini. Beda banget sama cuaca di Jakarta.” Keluh Kirana sambil mengipasi wajahnya dengan tangan.
Rina dan Sasa tertawa. “Selamat datang di Palembang Kirana. Ini baru permulaan bagimu. Siap-siap tubuhmu basah dipenuhi keringat ya.” Ujar Rina.
Hari pertama, mereka langsung pergi ke pasar. Pasar 16 Ilir menjadi tempat pertama mereka kunjungi. Pasar itu adalah labirin kehidupan, tempat segala macam transaksi terjadi, tempat budaya dan transaksi bertemu. Terlihat di sekitaran pasar itu banyak sekali pedagang yang menjual beraneka macam ragam pangan, sandang, dan papan. Tentunya tak ketinggalan berbagai macam jenis makanan khas Palembang, seperti pempek, tekwan, dan pindang. Bahkan di salah satu sudut pasar bisa ditemukan penjual pempek curah yang terkenal di Palembang.
“Kita harus makan pempek yang paling enak di Palembang!” Ujar Kirana dengan bersemangat.
Rina dan Sasa tertawa. “Oke siap. Aku punya rekomendasi tempat penjual pempek yang sudah berdiri sejak puluhan tahun lalu.” Jawab Sasa dengan antusias.
Mereka langsung menuju ke tempat penjual pempek itu. Sesampainya di sana, mereka memesan berbagai macam jenis pempek, mulai dari pempek kapal selam, lenjer, hingga kulit. Kirana mencicipi satu persatu pempek itu. Matanya terpejam sejenak. “Ini… enak banget! Beda banget sama pempek yang dijual di Jakarta.” Gumam Kirana. “Cukonya juga beda. Di sini lebih segar, kental, dan pedasnya nampol.”
Rina dan Sasa tersenyum puas. “Tuh kan, kami bilang juga apa, pempek Palembang memang yang terbaik. Rahasianya diikan yang segar dan cukonya yang dibuat dengan resep turun temurun.” Jawab Rina.
Setelah mereka selesai makan pempek di tempat itu, mereka lanjut berkeliling pasar sambil melihat sekitaran pasar itu. Mereka melihat warung yang menjual beraneka macam kue, kemudian singgah untuk membeli. Kirana melihat kue yang dibungkus dengan daun pisang, bertanya kepada Rina dan Sasa. “Ini apa, Sasa, Rina?” Tanya Kirana sambil menunjuk kue itu.
“Itu kue gandus. Kamu cobain deh, pasti enak!” Kirana mencicipi kue itu dengan ragu, matanya langsung berbinar. “Wah, rasanya unik sekali! Gurih, manis, dan ada pedasnya juga.” Ucap Kirana sambil mengunyah kue itu.
Setelah mereka puas berkeliling pasar, mereka melanjutkan perjalanan ke Benteng Kuto Besak. Dari sana, mereka bisa menikmati pemandangan Jembatan Ampera yang megah dan indah. Di sekitaran pasar itu banyak sekali tempat bersejarah. Mereka langsung melihat landmark dari kota Palembang. Kirana yang melihat Jembatan Ampera itu terpukau dengan keindahan jembatan ikonik itu. Ampera sendiri merupakan akronim amanat penderitaan rakyat, melambangkan perjuangan rakyat Sumatra Selatan, khususnya Palembang pada zaman penjajah.
“Keren banget! Aku sering lihat difoto, tapi aslinya lebih memukau.” Ujar Kirana dengan nada kagum.
Rina dan Sasa tersenyum bangga, Sasa berkata, “Ampera memang kebanggaan Palembang. Dulu jembatan ini bisa diangkat loh untuk memberi jalan kapal-kapal besar yang lewat.”
Sore harinya, mereka menyusuri Sungai Musi dengan perahu. Angin sepoi-sepoi membelai wajah mereka, membawa aroma sungai yang khas. Mereka melihat rumah-rumah rakit berjejer di tepi sungai, menyaksikan aktivitas warga.
“Ini seperti dunia lain!” Gumam Kirana. “Jakarta tidak punya pemandangan indah seperti ini.”
Selama beberapa hari, Rina dan Sasa mengajak Kirana menjelajahi berbagai sudut kota Palembang. Bukit Siguntang yang menyimpan sejarah Kerajaan Sriwijaya, Pulau Kemaro yang penuh legenda, hingga kampung songket yang menawan. Rina dan Sasa ingin Kirana mengenal Palembang dari berbagai sisi, tidak hanya dari tempat-tempat wisata yang populer.
Kirana sangat semangat dan gembira mempelajari budaya Palembang. la selalu bertanya kepada Rina dan Sasa tentang adat istiadat, sejarah, dan bahasa daerah. Rina dan Sasa dengan senang hati menceritakan semua yang mereka tahu. Rina dan Sasa juga mengajarinya beberapa kosakata Palembang seperti, Cak mano kabarnyo?, Ay dak lemak, Pacak nian.
Selain menjelajahi tempat-tempat wisata dan mencicipi kuliner khas, Rina dan Sasa juga mengajak Kirana berinteraksi dengan warga lokal. Mereka mengunjungi rumah teman-temannya di kampung, ikut serta dalam acara hajatan, dan belajar membuat kain songket. Rina dan Sasa ingin Kirana merasakan kehangatan dan keramahan masyarakat Palembang.
Kirana sangat menikmati pengalaman-pengalaman baru ini. la merasa seperti menjadi bagian dari masyarakat Palembang. la juga belajar banyak tentang toleransi, keramahan, dan kehangatan. Kirana adalah orang yang mudah bergaul, la selalu berusaha untuk memahami perbedaan.
Namun, waktu liburan Kirana sudah mau selesai. Tak terasa tiba saatnya ia harus kembali ke Jakarta. Rina dan Sasa sangat sedih harus berpisah dengan Kirana. Selama ini, Kirana sudah menjadi sahabat terbaik Rina dan Sasa. Mereka sudah berbagi banyak cerita, tawa, dan pengalaman.
“Aku pasti akan merindukan Palembang.” Ujar Kirana saat mereka duduk bertiga di Jembatan Ampera pada malam perpisahannya. “Kota ini sudah membuatku jatuh cinta. Aku akan sering datang ke sini.”
Rina dan Sasa memeluk Kirana dengan erat. “Kami pasti juga akan merindukanmu, Kirana. Jangan lupakan Palembang ya, jangan lupakan pempek dan Sungai Musi.” Jawab Rina dan Sasa dengan merasa sedih.
“Tidak akan, Palembang akan selalu menjadi bagian dari hatiku, dan kalian juga. Aku akan membawa cerita tentang kota ini ke Jakarta dan mengajak teman-temanku untuk datang ke kota ini.” Ucap Kirana.
Mereka berjanji akan tetap menjaga persahabatan ini, meskipun jarak memisahkan. Mereka akan saling mengunjungi, berbagai cerita, dan mendukung satu sama lain. Persahabatan mereka adalah bukti bahwa jarak bukanlah penghalang untuk menjalin hubungan yang erat.
Beberapa tahun berlalu, mereka masih terus berhubungan dan mereka juga sering bertukar kabar melalui media sosial. Sesekali, Kirana menyempatkan diri untuk datang ke Palembang melakukan petualangan bersama. Setiap kali bertemu, mereka selalu mengenang masa-masa Indah yang mereka lalui bersama di Palembang.
Suatu hari, Kirana menghubungi Rina dan Sasa mengatakan bahwa ia akan pindah ke Palembang. Ayahnya mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan yang ada di Palembang. Rina dan Sasa yang mendengar kabar tersebut sangat senang. Akhirnya, mereka bisa tinggal di kota yang sama dan menghabiskan waktu bersama.
“Aku tidak sabar untuk memulai hidup di Palembang.” Ujar Kirana saat mereka bertemu di Palembang. “Aku ingin menjelajahi kota ini lebih dalam dan belajar banyak tentang budaya Palembang.”
Rina dan Sasa tersenyum lebar dan berkata, “Selamat datang kembali di Palembang, Kirana! Ayo kita mulai petualangan baru.”
Seperti Jembatan Ampera yang menghubungkan Seberang Ulu dan Seberang Ilir, persahabatan mereka menghubungkan dua kota, dua budaya, dan dua hati. Mereka yakin persahabatan itu akan abadi selamanya. Persahabatan yang tumbuh di bawah terik matahari Palembang, di tengah keramaian pasar, di tepi Sungai Musi yang beriak, persahabatan yang akan selalu dikenang. (BP/ KM)*
Cerpen ini merupakan karya peserta Lomba Menulis Cerpen dalam rangka memperingati Bulan Bahasa yang diselenggarakan oleh MGMP Bahasa Indonesia, Bangka Tengah di Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, 23 Oktober 2025.












