Penulis: Media Hestri, Belva Al Akhab dan Satrio
Bekaespedia.com, Tempilang,- cahaya obor menyala satu per satu, membentuk barisan panjang yang bergerak perlahan di gelap malam. Dari halaman Masjid Jami’ Al Fallah, ratusan warga Desa Penyampak berjalan serempak, mengumandangkan takbir, menyusuri rute yang telah menjadi saksi tradisi tahunan yaitu pawai obor malam Idul Fitri 1447 Hijriah.
Sekitar 200 peserta ikut ambil bagian dalam kegiatan yang dimulai pada Jumat malam (20/03/2026) pukul 20.00 WIB. Pawai ini mengambil titik awal dari jembatan desa, melintasi Simpang 4 Tikungan Penyampak, Gang Betung, hingga berakhir di Lapangan Bola Gorip. Kegiatan berlangsung tertib dengan pengamanan dari personel Polsek Tempilang dan Babinsa TNI AD.
Di tengah barisan warga, Kepala Desa Penyampak, Dodi, S.H., tampil bukan hanya sebagai pejabat administratif, tetapi sebagai figur yang mengikat makna tradisi dengan kesadaran kolektif masyarakat.
“Pawai obor dan takbir keliling ini adalah bagian dari kebudayaan kita. Ini bukan hanya perayaan, tetapi juga cara kita menjaga nilai kebersamaan dan spiritualitas dalam menyambut hari kemenangan,” ujar Dodi dalam sambutannya, Jum’at (20/03/2026).
Ia juga menyisipkan pesan yang sarat kepedulian, menegaskan pentingnya kehati-hatian dalam euforia.
“Saya menghimbau kepada seluruh peserta agar waspada terhadap api obor. Jangan dibuang sembarangan, dan jangan berlebihan memainkan kembang api, terutama yang menimbulkan suara keras. Kita harus menghormati warga lain, termasuk yang sedang sakit dan para lansia,” tegas Dodi.
Malam itu, Desa Penyampak tidak hanya terang oleh obor, tetapi juga oleh semangat warganya. Anak-anak berjalan di samping orang tua mereka, menggenggam obor dengan hati-hati. Para pemuda mengatur ritme langkah, sesekali melantunkan takbir yang menggema ke langit.
Rudi (24), salah satu peserta, mengaku bahwa pawai obor adalah momen yang selalu ia nantikan.
“Setiap tahun kami ikut. Rasanya ada kebanggaan tersendiri. Ini bukan sekadar jalan malam, tapi perjalanan bersama sebagai warga desa,” katanya.
Sementara itu, Nurhayati (41), warga yang menyaksikan di pinggir jalan, merasakan suasana yang berbeda.
“Melihat anak-anak ikut pawai obor itu haru. Tradisi ini membuat kami merasa lebih dekat satu sama lain. Ada rasa aman juga karena pemerintah desa dan aparat ikut mengawal,” ujarnya.
Dalam kajian sosiologi, fenomena seperti pawai obor merupakan bentuk ritual kolektif yang memperkuat solidaritas sosial. Émile Durkheim menyebutnya sebagai collective effervescence yaitu ledakan emosi bersama yang menciptakan ikatan kuat dalam komunitas.
Hal ini diperkuat oleh berbagai penelitian dalam jurnal Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies, yang menyebutkan bahwa tradisi takbiran di Indonesia adalah bentuk akulturasi antara nilai Islam dan budaya lokal yang memperkuat identitas sosial masyarakat.
Dalam konteks Penyampak, obor bukan hanya api, melainkan simbol cahaya iman. Rute yang dilalui bukan sekadar jalan desa, tetapi jalur memori kolektif yang terus dihidupkan dari generasi ke generasi.
Meski berlangsung meriah, kegiatan ini tidak lepas dari potensi risiko. Penggunaan api terbuka, kepadatan peserta, serta potensi gangguan suara menjadi perhatian utama.
Dodi, S.H., secara terbuka mengakui hal tersebut.
“Kami tidak ingin tradisi ini justru membawa dampak negatif. Karena itu, kami bekerja sama dengan aparat keamanan untuk memastikan kegiatan berjalan aman dan tertib,” ujar Dodi.
Pengamanan oleh tiga personel kepolisian dan satu Babinsa menjadi bagian dari strategi pengendalian. Ini menunjukkan bahwa di balik perayaan, terdapat sistem yang bekerja untuk menjaga keseimbangan antara euforia dan keselamatan.
Apa yang terjadi malam itu bukan hanya ritual budaya, tetapi juga panggung kepemimpinan. Kades Penyampak memanfaatkan momentum ini untuk membangun kedekatan emosional dengan masyarakat.
Dalam perspektif komunikasi politik, ini merupakan bentuk soft power leadership yaitu membangun pengaruh melalui empati, kehadiran dan komunikasi yang menyentuh.
“Saya ingin masyarakat merasakan bahwa pemerintah desa selalu hadir bersama mereka, bukan hanya saat ada masalah, tetapi juga dalam momen kebahagiaan,” ungkap Dodi.
Narasi ini menjadi bagian dari strategi membangun public trust, di mana kepercayaan masyarakat tumbuh dari pengalaman langsung melihat pemimpinnya hadir dan peduli.
Ketika pawai berakhir di Lapangan Bola Gorip, satu per satu obor mulai padam. Namun cahaya yang mereka tinggalkan tidak benar-benar hilang. Ia berpindah ke dalam ingatan, menjadi bagian dari cerita kolektif masyarakat Penyampak.
Malam itu, desa kecil ini tidak hanya merayakan Idul Fitri. Ia merayakan dirinya sendiri sebagai komunitas yang hidup, yang menjaga tradisi dan yang terus bergerak bersama.
Di tengah cahaya itu, sosok kepala desa berdiri bukan sekadar pemimpin administratif, tetapi sebagai penjaga makna, perawat tradisi dan pengikat kebersamaan.
Pawai obor pun usai. Namun cahayanya akan terus hidup di jalan desa, di hati masyarakat dan dalam narasi kepemimpinan yang perlahan, namun pasti, sedang dibangun.
