Penulis: Medi Hestri, Belva Al Akhab dan Satrio
Bekaespedia.com, Tempilang,- Pagi itu, langit Tempilang masih menyisakan embun ketika gema takbir mengalun dari berbagai penjuru desa. Di halaman-halaman masjid, ribuan umat Muslim bersiap menunaikan Idul Fitri 1447 Hijriah. Namun di balik kekhusyukan itu, ada tangan-tangan yang bekerja dalam diam untuk menjaga, mengawasi dan memastikan setiap sujud berlangsung dalam rasa aman.
Sejak pukul 07.00 WIB, jajaran Polsek Tempilang telah bersiaga di berbagai titik. Pengamanan difokuskan pada masjid-masjid dengan jumlah jemaah terbesar, seperti Masjid Jami’ Desa Benteng Kota, Masjid Al Anshor, dan Masjid Al Hidayah. Setiap titik dijaga oleh lima hingga enam personel kepolisian, sementara masjid lainnya dipantau oleh Bhabinkamtibmas di desa masing-masing.
Kapolsek Tempilang, Muhammad Deni Irawan, menegaskan bahwa pengamanan ini bukan sekadar rutinitas, melainkan bentuk komitmen terhadap rasa aman masyarakat.
“Kami tidak hanya mengamankan kegiatan, tetapi menjaga ketenangan hati masyarakat dalam beribadah. Karena bagi kami, keamanan bukan hanya soal situasi, tetapi juga rasa,” ujar Deni Irawan, Sabtu (21/03/2026).
Ia menambahkan bahwa fokus pengamanan tahun ini disesuaikan dengan titik konsentrasi jemaah.
“Kami memetakan tiga masjid dengan jumlah jemaah terbesar sebagai prioritas pengamanan. Namun seluruh wilayah tetap kami pantau melalui Bhabinkamtibmas agar tidak ada celah gangguan,” jelasnya.
Di halaman masjid, anak-anak berlarian kecil, mengenakan pakaian terbaik mereka. Para orang tua duduk berbaris rapi, menanti dimulainya khutbah. Di antara kerumunan itu, personel kepolisian berdiri dengan sikap siaga tidak mencolok, namun hadir.
Mereka tidak bersuara, tetapi kehadiran mereka terasa.
Rahman (45), salah satu jemaah di Masjid Al Anshor, mengaku merasakan kenyamanan tersendiri.
“Kami bisa fokus ibadah. Ada rasa tenang karena tahu ada yang menjaga. Polisi sekarang tidak hanya tegas, tapi juga terasa dekat,” ujarnya.
Sementara itu, Aisyah (32), yang datang bersama keluarganya, melihat kehadiran aparat sebagai bagian dari harmoni.
“Ini bukan hanya soal keamanan, tapi juga kebersamaan. Polisi, masyarakat, semua seperti satu kesatuan di hari yang suci ini,” katanya.
Dalam kajian keamanan publik, pengamanan kegiatan keagamaan merupakan bagian dari “community policing” pendekatan yang menempatkan polisi sebagai mitra masyarakat. Konsep ini menekankan kehadiran aparat tidak hanya sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai penjaga harmoni sosial.
Penelitian dalam jurnal “Policing and Society” menyebutkan bahwa kehadiran polisi dalam kegiatan keagamaan dapat meningkatkan rasa aman sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian.
Sementara itu, dalam perspektif sosiologi yang dikemukakan oleh Émile Durkheim, ritual keagamaan seperti sholat Idul Fitri merupakan momen “collective effervescence” di mana masyarakat mengalami kesatuan emosional yang mendalam. Dalam konteks ini, pengamanan menjadi elemen penting untuk menjaga agar momen sakral tersebut tidak terganggu.
Meski berlangsung lancar, pengamanan sholat Idul Fitri bukan tanpa tantangan. Potensi kepadatan, gangguan keamanan, hingga kondisi darurat menjadi risiko yang harus diantisipasi.
Kapolsek Tempilang mengungkapkan bahwa persiapan telah dilakukan sejak jauh hari.
“Kami melakukan pemetaan wilayah, koordinasi dengan tokoh masyarakat, serta penempatan personel secara strategis. Semua ini dilakukan agar masyarakat bisa beribadah dengan tenang,” ungkapnya.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa pengamanan bukan hanya soal kehadiran fisik, tetapi juga perencanaan yang matang.
Apa yang dilakukan Kapolsek Tempilang bukan hanya tugas institusional, tetapi juga bagian dari narasi kepemimpinan.
Deni Irawan tampil sebagai figur yang tidak hanya tegas, tetapi juga humanis. Ia membangun citra sebagai pemimpin yang hadir, memahami, dan melayani.
“Kami ingin masyarakat melihat polisi sebagai bagian dari mereka. Karena keamanan terbaik adalah yang dibangun bersama,” ujarnya.
Dalam perspektif komunikasi publik, ini merupakan bentuk “public trust building”, di mana kepercayaan masyarakat dibangun melalui pengalaman langsung dan interaksi yang positif.
Ketika khutbah usai dan jemaah saling bersalaman, suasana hangat menyelimuti pagi itu. Tidak ada gangguan, tidak ada kegelisahan hanya kedamaian yang mengalir.
Namun di balik kedamaian itu, ada kerja yang jarang terlihat.
Polisi yang berdiri di sudut halaman. Personel yang mengatur arus kendaraan. Bhabinkamtibmas yang memantau desa-desa.
Mereka tidak meminta sorotan. Namun tanpa mereka, mungkin suasana tidak akan seutuh itu.
Pagi Idul Fitri di Tempilang pun menjadi lebih dari sekadar ibadah. Ia menjadi cermin tentang bagaimana keamanan, kepemimpinan dan kebersamaan dapat menyatu dalam satu momen sakral.
Di tengah itu semua, Kapolsek Tempilang berdiri bukan hanya sebagai aparat, tetapi sebagai penjaga sunyi yang memastikan setiap takbir, setiap doa dan setiap pelukan di hari kemenangan berlangsung dalam damai.
