Bekaespedia.com, Bangka Barat, – Di sebuah ruangan sederhana di Perpustakaan Daerah Kabupaten Bangka Barat, suara tawa, diskusi, dan pertanyaan kritis para pelajar terdengar silih berganti, Selasa (19/5/2026). Tidak ada kemewahan panggung besar. Tidak ada sorotan lampu megah. Namun dari ruang kecil itulah, sebuah kegelisahan besar tentang masa depan generasi muda di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sedang dibicarakan dengan serius.
Di tengah dunia digital yang bergerak terlalu cepat, generasi muda hari ini hidup di persimpangan zaman. Mereka tumbuh bersama media sosial, dibesarkan oleh algoritma, dikelilingi banjir informasi dan perlahan mulai memasuki era ketika mesin bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan juga penentu arah kehidupan manusia.
Bagi sebagian anak muda, teknologi menjadi harapan. Namun di sisi lain, teknologi juga diam-diam melahirkan ancaman baru dalam produk hoaks, ujaran kebencian, manipulasi informasi, krisis identitas, hingga lunturnya nilai kebangsaan.
Kekhawatiran itulah yang menjadi latar lahirnya kegiatan bertema “Literasi Digital sebagai Penguat Wawasan Kebangsaan Anak Muda” yang digelar Perpustakaan Daerah Kabupaten Bangka Barat bersama Rumah Literasi dan Edukasi Mimbar Kewarasan.
Sekitar 100 siswa-siswi tingkat SLTA sederajat hadir dalam kegiatan tersebut. Mereka tidak hanya datang untuk mendengar ceramah, tetapi diajak memahami realitas besar yang sedang mengubah kehidupan generasi mereka.
Di ruang itu, para pelajar berbicara tentang media sosial yang semakin sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Mereka membahas tentang konten provokatif yang mudah menyebar, tentang informasi palsu yang sering dipercaya tanpa proses verifikasi, hingga tentang AI yang kini perlahan masuk ke ruang belajar, pekerjaan, bahkan cara manusia berpikir.
Bagi generasi muda hari ini, dunia digital bukan lagi masa depan. Dunia digital adalah kehidupan mereka saat ini.
Hadir sebagai narasumber, Anggota DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Elvi Diana, menilai bahwa generasi muda saat ini sedang menghadapi tantangan kebangsaan yang jauh berbeda dibanding generasi sebelumnya.
Jika dahulu ancaman datang melalui konflik fisik dan perebutan wilayah, maka hari ini ancaman hadir melalui ruang digital yang nyaris tidak memiliki batas.
Menurutnya, perang informasi kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat, terutama generasi muda yang sangat dekat dengan media sosial dan teknologi digital.
“Penting anak muda, generasi muda, anak-anak siswa SMA harus menjadi agen informasi dan agen perubahan untuk teknologi ini. Anak-anak SMA yang ke depan akan menjadi generasi emas tahun 2045 sangat membutuhkan kemampuan melek teknologi AI dan menggunakan teknologi informasi dengan baik dan benar untuk hal-hal yang positif,” ujarnya.
Elvi Diana menyebut bahwa literasi digital hari ini bukan sekadar kemampuan menggunakan internet atau mengoperasikan teknologi. Lebih dari itu, literasi digital adalah kemampuan memahami informasi secara kritis, menjaga etika dalam ruang digital, dan mempertahankan identitas kebangsaan di tengah derasnya pengaruh globalisasi.
Ia mengingatkan bahwa AI dan media sosial dapat menjadi alat pembangunan apabila digunakan secara bijak. Namun sebaliknya, teknologi juga dapat menjadi alat penghancur karakter apabila generasi muda tumbuh tanpa pendampingan dan tanpa kesadaran kritis.
Di tengah derasnya arus konten digital, banyak anak muda kini hidup dalam ruang informasi yang penuh manipulasi. Mereka disuguhi potongan-potongan informasi cepat, opini yang dibentuk algoritma, hingga budaya viral yang sering kali mengabaikan nilai moral dan kebenaran.
“Akibatnya bisa fatal apabila tidak diantisipasi dari sekarang dan mereka tidak dilindungi serta diedukasi sejak dini. Bahaya dapat mengancam ketika teknologi informasi digunakan dengan niat jahat atau karena ketidaktahuan terhadap pengetahuan teknologi itu sendiri,” tegasnya.
Fenomena itu terlihat nyata dalam kehidupan sehari-hari generasi muda. Informasi palsu dapat menyebar lebih cepat dibanding fakta. Konten provokatif lebih mudah menarik perhatian dibanding edukasi. Bahkan kebencian sering kali diproduksi secara masif melalui media sosial demi kepentingan tertentu.
Dalam situasi seperti itulah, literasi digital dinilai menjadi benteng baru bagi generasi muda untuk menjaga nalar kritis dan wawasan kebangsaan.
Pendiri Rumah Literasi dan Edukasi Mimbar Kewarasan sekaligus Duta Pemuda Kreatif Indonesia Kepulauan Bangka Belitung, Fakhrur Rozy, menilai bahwa generasi muda hari ini membutuhkan ruang edukasi yang tidak menggurui, tetapi mampu membuka kesadaran mereka terhadap tantangan zaman.
Menurutnya, anak muda saat ini hidup di era ketika siapa pun bisa menjadi produsen informasi. Namun tidak semua orang memiliki kemampuan menyaring dan memverifikasi informasi yang mereka konsumsi setiap hari.
“Alhamdulillah kegiatan kita berjalan lancar dan sekitar 100 orang sudah teredukasi perihal melek digital berbasis wawasan kebangsaan,” ujarnya.
Ia mengatakan bahwa gerakan literasi digital harus dibangun secara kolektif antara komunitas, keluarga, sekolah dan pemerintah daerah agar generasi muda tidak tumbuh di ruang digital yang liar dan kehilangan arah.
“Ini merupakan bentuk upaya kolaborasi dari komunitas dan pemerintahan daerah untuk membentuk ekosistem anak muda yang lebih mampu memilah dan memilih informasi,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bangka Barat, Farouk Yohansyah, menilai perpustakaan kini harus mengambil peran baru di tengah perubahan sosial akibat perkembangan teknologi.
Menurutnya, perpustakaan tidak lagi cukup hanya menjadi ruang membaca buku, tetapi harus hadir sebagai ruang dialog, ruang berpikir kritis, sekaligus ruang pembentukan karakter generasi muda.
“Perpustakaan saat ini tidak hanya menjadi tempat membaca buku, tetapi juga menjadi ruang edukasi publik dalam membangun karakter generasi muda. Literasi digital menjadi sangat penting agar anak-anak muda mampu menghadapi perkembangan teknologi dengan wawasan kebangsaan yang kuat,” ujarnya.
Farouk Yohansyah menilai tantangan terbesar generasi muda saat ini bukan hanya soal kemampuan teknologi, tetapi bagaimana menjaga identitas budaya dan rasa cinta terhadap bangsa di tengah arus globalisasi digital yang semakin agresif.
Hal senada juga disampaikan Kepala Bidang Pembinaan Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bangka Barat, Eka Octawianto. Ia mengatakan bahwa perpustakaan harus mampu beradaptasi dengan dunia anak muda yang sangat dekat dengan internet dan media sosial.
“Generasi muda saat ini sangat dekat dengan dunia digital. Karena itu, perpustakaan harus hadir melalui program-program yang relevan, edukatif, dan mampu membangun pola pikir kritis serta wawasan kebangsaan,” jelasnya.
Menjelang akhir kegiatan, suasana diskusi semakin hidup. Para siswa mulai berbicara tentang keresahan mereka terhadap masa depan di era AI. Sebagian mengaku takut pekerjaan manusia suatu saat tergantikan mesin. Sebagian lainnya khawatir media sosial membuat generasi muda semakin mudah terpecah oleh perbedaan pendapat dan propaganda digital.
Namun dari ruang kecil itu pula muncul harapan baru.
Bahwa di tengah derasnya gelombang teknologi dan banjir informasi, generasi muda Bangka Barat sedang belajar menjadi lebih dari sekadar pengguna internet. Mereka sedang belajar menjadi generasi yang mampu berpikir kritis, menjaga persatuan, memahami teknologi secara bijak, dan tetap berdiri teguh menjaga identitas kebangsaan di tengah perubahan zaman yang terus bergerak tanpa menunggu siapa pun.












