Penulis : Agus Bahtiar Kurniawan
Pagi yang berhias mendung membuat mataku yang lengket ini semakin berat untuk terbuka. Dengan terpaksa kupaksakan bangun karena hari ini mata kuliah Bahasa Inggris bertengger di jam pertama.Terbayang wajah judes Bu Dosen killer yang terkenal tega dan hobi marah-marah terutama pada mahasiswa. Dalam satu semester ini sudah empat kali aku kena semprot gegara urusan yang tak jelas dan remeh temeh. Bahkan hanya karena aku terlambat beberapa detik saja, bisa membuat Bu Dosen killer ngomel-ngomel tanpa rem. Mungkin karena wajahku lumayan hinnga membuat Bu Dosen Killer ingin selalu berinteraksi dengan aku. Itu yang selalu terpikir dalam benakku sekaligus untuk menghibur dan menerapi mental setiap akan berjumpa dengan singa betina itu. Bu Dosen Killer berusia sekitar 38 tahunan, seumuran dengan tanteku. Sebenarnya dia cantik sih. Jujur saja aku sering mencuri pandang saat dia mengajar di kelas. Bahkan sesungguhnya aku mengagumi saat dia berbicara dalam aksen Inggris Btritishnya. Keren dan indah sekali di dengar. Cuma mulutnya saat marah itu yang membuat mahasiswa tak tahan menelan ocehannya yang tajam bagai kulit landak menyangkut ditenggorokan. Mungkin itu juga yang membuat para lelaki enggan mendekatinya, karena hingga saat ini Bu Dosen Killer masih berstatus single.
Setelah mencuci muka dan membasahi rambut agar terlihat seakan-akan sudah mandi, kuikat rambut gondrongku dengan karet gelang warna merah bekas ikatan nasi bungkus dari warung Mbok Paijem yang ku beli kemarin siang. Kupakai kemeja yang bergantung di paku belakang pintu kamar kos. Celana kotor masih menumpuk di sudut ruangan pribadiku itu. Kukenakan lagi celana jeans yang tersisa dan sudah seminggu terakhir kupakai terus menerus. Aroma apek berbaur sedikit asam menyebar saat terkena hembusan angin. Maklum selain banyak acara di MAPALA, aku juga sibuk nongkrong, ngobrol, begadang dan ngopi di Base Camp seusai jam kuliah. Ku engkol starter kaki motor Honda CB 100 ku belasan kali.
Akhirnya…grrrreeennnggggg….grrrreeenggg…..greeeeng…..! suara keras berisik mucul dari knalpot pipa besi tanpa penyaring udara. Keras dan gahar membangunkan seluruh isi bumi yang masih bermalas-malasan pagi itu.
Tetanggaku yang sering bangun siang terpaksa bangun awal setiap senin pagi akibat suara berisik dari knalpot motor tua ku. Karena aku harus berangkat jam tujuh tepat. Akibat ada mata kuliah Bahasa Inggris yang dosennya sepeti singa kesurupan.
Jalanan masih sepi saat motor bisingku melintas ke arah selatan menuju kampus impian. Kupacu besi tua ini sebisa mungkin agar jam 07.30 sampai tanpa terlambat sedetikpun, karena bisa fatal akibatnya! Jujur aku agak trauma.
Bapak-bapak dan ibu-ibu pedagang mengayuh sepeda membawa setumpuk mimpi ke arah utara menuju kota mengadu nasib berkejaran dengan waktu sembari menangkis sengatan matahari dari arah timur. Begitulah perjuangan mereka setiap hari. Demi anak dan istri serta mungkin cucu-cucu mereka dirumah. Sore dibelai matahari barat, mereka pulang membawa hasil keringat dan sedikit barang kebutuhan untuk keluarga mereka tercinta. “Pasti sangat melelahkan dan membosankan” gumamku.
Tapi…itulah kenyataan hidup. Mereka rela mengayuh harapan berpuluh-puluh kilometer, demi bisa makan hari itu.
Dingin masih tetap menusuk rusuk walaupun matahari sudah merangkak naik menerpa wajahku. Separuh perjalanan menuju tujuan tampak jauh didepanku terlihat sebuah mobil Suzuki Katana biru dongker menyalakan lampu hazard dan menepi di sisi kiri jalan. Aku semakin mendekat dan memperlambat laju sepeda motorku.
“Mungkin saja mobil itu butuh bantuan”. Kataku dalam hati. Hingga saat tepat di samping mobil aku berhenti. Kulihat sosok yang tak asing sedang berjongkok memeriksa roda kanan depan yang terlihat kempes. Ya…aku tak salah lihat. Wanita ini adalah Bu Dosen Killer alias singa betina.. yang meresahkan para mahasiswa.
Ku tertegun sebentar, agak ragu dan turun dari sepeda motorku. Aku mendekat dan menyapa. “ Pagi Bu…., ada yang bisa saya bantu?.
“ Oh… pagi Gus, kamu rupanya, emh… ini, anu saya kempes..eh maksud Ibu ban mobil kempes.” jawab Bu Dosen Killer terkejut dan setengah gugup. Ternyata bisa gugup dan salah ngomong juga orang ini.
“Di mobil ibu ada ban serep?” tanyaku serius.
“Itulah Gus, ban serep ada tapi kempes juga, makanya Ibu jadi bingung” kata Bu Dosen Killer masih terlihat panik dan sesekali melihat jam di tangan kiri yang mulus terawat dan berbulu halus itu.
“Jarak ke kampus masih sekitar 5 kilometer lagi Bu, bagaimana kalau ibu terlambat? Apa kata para mahasiswa dan fans Ibu nanti? Pasti mereka kecewa, hehehe.. “ tanyaku setengah menggoda.
“ Ah… kamu bisa aja, mana ada orang yang nge fans sama Ibu-Ibu sepertiku ini ” kata Bu Dosen Killer sambil tersipu malu.
Aduh mak….ternyata tambah cantik kalau teripu-sipu dan pipinya memerah. “Ah..tidak!” Teriakku dalam hati sambil mencubit pipiku sendiri.
“ Jika Ibu tidak malu, boleh kok kalau mau membonceng motor tua saya” kuberanikan jiwa dan raga menawarkan diri membantunya.
Ibu Dosen Killer melihat jam tangannya lagi. “ Sekarang Jam 07.22 Gus, Ibu terlambat nih.. Boleh ya Ibu menumpang sampai kampus?” tanya Bu Dosen Killer sambil mengambil tas dan mengunci pintu mobil.
“ Silakan Bu, dengan senang hati” kataku meyakinkan Bu Dosen.
“ Makasih ya Gus…” Katanya agak lirih dan sedikit panik
Ku starter Besi tua bising dengan kakiku. Suara menggelegar berhamburan dari knalpot pipa tanpa saringan. Bu Dosen Killer membonceng dengan posisi miring dibelakangku. Jok motor yang sempit memaksaku dan memaksanya untuk duduk sangat berhimpitan tanpa jarak. Dekat Sekali. Ada perasaan berdesir dihatiku. Tapi segera kukibaskan rasa itu. Karena ini tidak mungkin. Walaupun sesungguhnya aku mengaguminya.
”Pegangan ya Bu ! ” Teriakku sambil memutar handel gas lebih dalam. Dia tersentak dan secara spontan Ibu Dosen Killer melingkarkan tangan lembutnya dipinggangku. Sambil sesekali mencubit pinggang Bu Dosen Killer berteriak “Pelan-pelan Gus. Ibu Takut Jatuh!”. Aku hanya sesekali meringis sambil menikmati kemenanganku pagi itu.
Sampai di parkiran kampus pukul 07.36 WIB. Wah… gawat terlambat 6 menit. Para mahasiswa yang melihat Bu Dosen Killer berboncengan denganku tak pelak langsung berkomentar;
“Wah…habis touring ya Bu? Asyik kayaknya, saking asyiknya sampai terlambat . Kata Widi mahasiswi kesayangan Bu Dosen Killer. Bu Dosen Killer hanya mengedipkan mata kirinya dengan penuh arti ke arah Widi.
“Gus! Siap-siap aja jadi ASDOS Bahasa Inggris hehehe” Celetuk Made kawanku dari Bali yang kebetulan satu Jurusan denganku, Seni Murni.
“Ah..kamu ngaco…bajigur! Iri bilang Bli…hahahaha.’ teriakku sambil kubumbui umpatan khas mahasiswa Seni Rupa Jogja saat itu.
Jam 14.00 semua mata kuliah selesai kuikuti. Hari ini melelahkan. Tapi ada semangat baru. Entah apa dan entah kenapa hari Senin ini tidak menyebalkan seperti Senin Senin sebelumnya. Bu Dosen Killer pun jauh lebih lembut saat mengajar di kelas. Senin yang indah “ I love Monday” bisikku dalam hati sembari tersenyum sendiri. Mungkin agak berlebihan. Dalam hatiku berharap kejadian pagi tadi bisa terulang. Bercanda dan memboncengkan Dosen Killer, yang biasanya galak seperti singa kesurupan. Tapi cantik. Hehe. (BERSAMBUNG)












