Puisi  

DPR di Persimpangan: Antara Tuntutan Rakyat dan Realitas Kinerja

Karya: Yanto In Action

 

Di singgasana kuasa, rakyat menggugat,

Tuntutan membara, keadilan berkarat.

Kinerja tergerus, janji mengkhianat,

DPR di persimpangan, martabat tercemar, mandat tersayat.

 

Kursi mewah, gaji menggunung tinggi,

RUU terbengkalai, aspirasi mati.

Rakyat tercekik, pajak menghimpit,

DPR di persimpangan, antara berbakti atau mengkhianati.

 

Gelombang amarah, bubarkan tirani,

Harapan direnggut, kebenaran sunyi.

Korupsi menggerogoti, aset dijarah,

DPR di persimpangan, antara berbenah atau menyerah.

 

Di antara tuntutan, suara keadilan bergema,

Di antara realitas, topeng kemunafikan terpampang nyata.

DPR terhuyung, dalam labirin dosa,

Antara nurani dan nafsu, di persimpangan nestapa.

 

Gedung rakyat, kini benteng kekuasaan,

Wakil rakyat, khianat pada amanah.

Kinerja membusuk, janji palsu,

DPR di persimpangan, antara sirna atau bermetamorfosa.

 

Tuntutan membakar, seperti bara dendam,

Realitas memilukan, bagai luka menganga.

DPR terbungkam, dalam kegelapan,

Antara kebangkitan dan kehancuran.

 

Di persimpangan takdir, DPR terperangkap,

Antara tuntutan rakyat, dan ambisi meruap.

Kinerja dihakimi, integritas diragukan,

Mampukah DPR menebus, atau terus terpuruk?

 

Rakyat berteriak, DPR membisu,

Tuntutan keadilan, terus menghantu.

Di persimpangan harapan, masa depan kelabu,

DPR memilih, antara abdi negara atau durjana pilu. (BP/ KM)*

Exit mobile version