Puisi  

Dua Rakaat Yang Melebihi Dunia

Karya: Yanto In Action 

 

Di keheningan buta menjelang fajar menyapa,

Saat lelap masih memeluk raga dengan mesra,

Ada langkah kecil yang menembus kelam,

Meninggalkan empuknya ranjang demi Sang Pemeluk Alam.

 

Hanya dua kali berdiri, dua kali sujud menyentuh bumi,

Singkat geraknya, namun berat niat di hati,

Kata Nabi yang benar takkan pernah berdusta,

“Dua rakaat ini lebih indah dari dunia dan seisinya.”

 

Dunia yang kau kejar dengan keringat dan air mata,

Harta, tahta, permata yang berkilauan mempesona,

Semua itu bayang, asap yang cepat hilang,

Takkan selamatkan diri saat liang kubur mulai terhampang.

 

Tapi dua rakaat itu? Ia adalah cahaya abadi,

Bekal yang menyala saat cahaya dunia mati,

Nilainya tak terukur oleh angka atau harga,

Karena ia dibeli dengan harga menaklukkan hawa nafsu belaka.

 

Jika dunia ditimbang dengan satu sajadah itu,

Dunia akan terasa debu, tak berarti, dan berlalu,

Karena dunia pemberian makhluk yang fana dan rusak,

Sedang pahala shalat, karunia Allah yang tak pernah habis dan habis.

 

Di waktu malaikat malam dan siang saling bersua,

Di waktu Rahmat turun menyapa jiwa yang lupa,

Kau yang bangun saat orang lain masih bermimpi,

Akan dapat keutamaan yang tak terbayang oleh nadi.

 

Jangan pandang kecil amal yang sebentar itu,

Di sisi Yang Maha Besar, nilainya mengalahkan raya raya harta,

Ia penolong di hari segala hubungan terputus,

Ia pelita di kubur yang gelap dan terkurus.

 

Maka pilihlah: kenikmatan tidur yang sebentar saja,

Atau kebahagiaan abadi yang takkan ada akhirnya?

Dua rakaat sebelum subuh, kunci pintu kemuliaan,

Lebih baik dari dunia, dan segala yang ada di dalamnya.

Babel,25 Mei 2026

Exit mobile version