Dulang Di Negeri 

Karya siswa SMPN 1 Simpangkatis

 

Matahari baru saja terbangun dan menggantung malas di ufuk timur. Seketika suara dentingan sendok beradu dengan piring terdengar dari dapur rumah Nek Dayang. Aroma ikan lempah kuning yang kaya rempah berpadu dengan wangi nasi putih yang baru mengepul menyelimuti udara pagi di salah satu rumah yang berdinding papan dan beratapkan daun rumbia yang dijalin dengan tangan di Desa Simpangkatis.

Desa ini, seperti kebanyakan desa di Pulau Bangka, terlahir dari rahim timah. Bekas galian tambang yang membentuk kolong-kolong biru kehijauan menjadi pemandangan sehari-hari, saksi bisu kejayaan dan juga lara.

Hari ini bukanlah hari biasa. Hari ini adalah hari nganggung, tradisi gotong royong membawa makanan ke masjid atau balai desa untuk merayakan hari besar. Entah itu Maulid Nabi, Idul Fitri, atau syukuran desa. Di tengah hiruk pikuk modernisasi dan aktivitas penambangan yang tak pernah padam, nganggung adalah jangkar yang menahan mereka pada adat, pada rasa persaudaraan yang telah diwariskan turun-temurun.

Kerutan halus di wajah Nek Dayang menjadi bukti bahwa puluhan tahun ia menahan panas terik matahari dan dinginnya embun. la sibuk menata hidangan di dalam sebuah wadah seng bundar besar dengan motif bunga warna-warni yang disebut dulang. la melapisi dulang dengan kain penutup berwarna merah marun, lantas meletakkan baskom nasi di tengah, dikelilingi piring berisi ikan lempah kuning, sambal terasi cabai rawit yang diulek kasar, dan lauk-pauk lainnya. Semua harus rapi, semua harus sempurna, karena ini adalah persembahan terbaik dari keluarganya.

Cucunya yang berumur sepuluh tahun, Rasyid, berdiri disamping Nek Dayang dan asyik mengamati. Rasyid tumbuh di era di mana mainan dan video daring lebih menarik daripada sejarah tanah kelahirannya. “Nek, kenapa harus repot-repot bawa begini? Kenapa tidak makan saja di rumah?” tanyanya lugu.

“Cucuku sayang. Nganggung ne bukan masih menambang timah di laut, hidup itu keras. Kalau tidak rukun, tidak saling bantu, kita bisa tenggelam. Timah itu memberi kehidupan, tapi juga menuntut pengorbanan. Lewat dulang ini mengingatkan kita tentang rezeki yang kita dapat. Sekecil apa pun rezeki yang kita dapat harus dibagi. Kita semua bersaudara, satu tanah, satu rasa. Ini cara kita berterima kasih pada Tuhan dan pada tanah ini.”

Setelah selesai, dulang itu ditutup rapat dengan tudung saji anyaman daun mengkuang. Nek Dayang memanggil suaminya, Tok Bujang, yang sedang bersiap di teras. Tok Bujang adalah mantan penambang, tangannya kasar dan kuat, bekas menyentuh lumpur dan pasir timah selama separuh hidupnya. la mengambil dulang berisi makanan yang cukup berat itu. meletakkannya di atas kepalanya, dan memegangnya dengan kedua tangan. Tok Bujangpun membawa dulang yang berisi masakan Nek Dayang menuju balai desa.

Puluhan dulang sudah tertata rapi di atas tikar panjang. Aroma lempah kuning, tumis petai sambal terasi, dan aneka kue bercampur menjadi satu Tak ada batasan kaya atau miskin, dulang dari keluarga penambang timah yang sukses berdiri berdampingan dengan dulang dari keluarga nelayan atau petani. Semua sama. Saat doa selesai dilantunkan, dan tiba saatnya makan bersama. Mereka duduk melingkari dulang, berbagi lauk pauk makan bersama dari piring yang sama, atau bahkan langsung dari dulang.

Rasyid yang tadinya enggan, kini merasakan kehangatan yang tak ia dapatkan saat makan sendirian di rumah. la melihat tetangganya, Mang Pen, yang dulunya sering berseteru dengan kakeknya karena masalah batas lahan tambang, kini duduk berbagi lauk dengan tawa riang.

Ketika hari beranjak siang dan nganggung usai, Tok Bujang mengambil dulangnya yang kini telah kosong. la tersenyum pada Rasyid. “Nah, sudah kenyang kan? Itu rasa solidaritas. Timah boleh membuat kita lupa diri, tapi nganggung selalu mengingatkan kita. Rezeki itu bukan milik sendiri, tapi milik bersama.”

Rasyid mengangguk. Di benaknya, dulang itu bukan lagi sekadar wadah makanan, melainkan lambang ikatan tak terputus yang mengikat masyarakat di tanah timah, di tengah panas terik dan kerasnya kehidupan yang diwariskan oleh bumi. (BP/ KM)*

 

 

Cerpen ini diambil dari mading SMP Negeri 1 Simpangkatis saat Lomba Mading Cinta Tanah Air, 30 Oktober 2025. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *