Fatir Si Anak Seni 

Oleh : Hafiza Khaira Mina (Siswa SDN 7 Mendobarat)

 

Di sebuah desa pesisir timur yang tenang di Bangka Belitung, hiduplah seorang anak yang bernama Fatir. Desa itu bernama Desa Air Anyir. Desa ini terletak di timur kabupaten Bangka yang memiliki kehidupan sangat erat dengan alam dan juga tradisi yang telah diwariskan secara turun temurun.

Fatir anak yang cerdas tetapi ia sering menghabiskan waktunya bermain game di ponsel daripada mempelajari budaya daerahnya sendiri. la sering menganggap bahwa tradisi adalah sesuatu yang kuno, baginya hal yang modern jauh lebih menyenangkan.

Beda dengan Fatir, nenek Fatir justru menyukai budaya Bangka Belitung. Setiap hari nenek sering duduk di beranda rumah sambil menganyam daun pandan atau membersihkan rempah-rempah untuk membuat makanan tradisional.

“Nak, budaya itu seperti akar pohon. Kalau tidak dipelajari pohon itu akan mudah diterpa angin,” kata nenek suatu sore.

Fatir hanya mengangguk sekilas tanpa memahami maksud perkataan neneknya.

Suatu hari sekolah Fatir mengadakan festival budaya daerahnya sendiri. Festival itu seperti tari, cerita rakyat, lagu daerah, dan memasak makanan tradisional.Guru mereka menegaskan bahwa setiap siswa wajib menampilkan salah satu dari festival tersebut. Fatir mulai cemas. la bahkan tidak pernah belajar tari maupun memasak makanan tradisional. la tidak mau tampil memalukan di depan teman-temannya sendiri.

Melihat wajah Fatir yang murung, nenek bertanya dengan lembut, “Ada apa nak?” Fatir pun menceritakan semua masalahnya kepada Nenek. Nenek tersenyum hangat, “Ini kesempatan bagus untuk kamu belajar Fatir, bagaimana kalau kamu ikut nenek ke balai desa besok, kamu bisa berlatih tari di sana!” ajakan nenek kepada Fatir. Fatir sempat ragu tapi akhirnya ia menyetujui ajakan neneknya untuk berlatih di balai desa.

Keesokan harinya nenek mengantar Fatir ke balai desa. Di sana Fatir melihat anak-anak berlatih dengan sungguh-sungguh. Fatir disambut hangat oleh pelatihnya.

“Ayo berlatih menari, tidak apa-apa kalau masih pemula,”

Fatir pun ikut pelatihnya untuk berlatih menari di balai desa.

Hari demi hari ia terus berlatih. Disetiap gerakan yang diajarkan oleh pelatihnya ia mulai termotivasi. Tidak hanya berlatih menari, Fatir juga berlatih memasak makanan tradisional. Ia diajarkan oleh ibunya dengan mengikuti resep dari ibu. Dengan sabar, ibunya mengajarkan cara membuat makanan tradisional dengan bahan-bahan yang sederhana seperti tepung gula dan santan.

Malam itu nenek melihat Fatir yang begitu ceria tidak biasanya ia seceria ini. Hari festival semakin dekat, warga bergotong royong menyiapkan panggung dan juga membuat makanan tradisional dengan jumlah yang sangat besar. Fatir dan teman-temannya ikut membantu warga mempersiapkan hal yang dibutuhkan saat festival nanti.

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Festival berlangsung sangat meriah. Banyak warga yang menyaksikan pertunjukan lainnya. Nenek dan orang tua Fatir memberi semangat, “Ayo Nak kamu pasti bisa!”

Saat giliran Fatir yang maju ke panggung, jantungnya berdebar kencang. Ia berlatih di belakang panggung sambil mengingat semua gerakan yang diajarkan oleh pelatihnya. Perlahan-lahan ia maju ke panggung, musik mulai dimainkan. Ia menari seolah-olah sedang bercerita melalui tarian.

Penonton terdiam menyaksikan penampilan Fatir. Saat Fatir selesai menari, tepuk tangan dari penonton pun terdengar sangat meriah. Fatir tersenyum lebar atas keberhasilannya. Teman-teman Fatir memberi pujian, “Kamu hebat Fatir!” kata salah satu temannya.

“Terima kasih, aku juga baru belajar.”

Nenek dan orang tua Fatir pun ikut bahagia.

Malam hari Fatir berkumpul bersama keluarganya. Baru pertama kali Fatir merasa sebahagia ini.

“Nek, ternyata benar apa yang nenek katakan dulu, budaya memang seperti akar pohon. Jika kita tidak melestarikannya kita bisa kehilangan jati diri.”

“Nenek bangga padamu, Nak.”

Bertahun-tahun kemudian, Fatir menjadi pemuda yang peduli terhadap budaya Bangka Belitung. Ia sering terlibat dalam pelestarian budaya seperti mengajarkan anak-anak menari di balai desa, mengajak warga bergotong royong membangun kehidupan masyarakat dan lain sebagainya. Setiap ia melakukan pelestarian budaya ia teringat dirinya yang dulu betapa seringnya ia berlatih. Kini ia berhasil membanggakan diri sendiri, nenek dan orang tuanya.

Cerita Fatir menjadi bukti bahwa melestarikan budaya itu memang perlu perjalanan yang panjang asalkan ada kemauan yang kuat. Dan di desa kecil itu diantara suara ombak dan angin yang begitu segar, Desa Air Anyir kini menjadi tempat wisata yang cocok dan juga desa itu kaya akan budaya khas Bangka Belitung yang telah diwariskan dari generasi ke generasi yang akan datang. (BP/ KM)*

 

Catatan : Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kecamatan Mendobarat Tahun 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *