Gejolak Jiwa Aksara

Oleh: Evan Satria (SMPN 7 Sungaiselan)

 

Hujan turun deras sore itu. Di balik jendela perpustakaan tua hampir roboh. Aku memandangi lembaran – lembaran buku yang berserakan. Bangunan ini sepi, hanya suara gemertak kayu lapuk yang menemani. Aku, Evan Satria, hanya siswa biasa yang ditugaskan untuk merapikan buku-buku kuno yang nyaris terlupakaan.

Setelah itu muncul teman-temanku datang menghampiri diriku. “Kasian banget kamu, membersihkan perpustakaan kotor ini. Makanya jangan terlalu rajin, lihat kami asyik bermain.” Aku pun terdiam.

“Kenapa aku harus mendapatkan tugas ini tenan-teman? Temanku asyik bermain, sementara aku harus berjibaku dengan debu,” gerutu dalam hati.

Namun, setelah itu muncul seorang guru dan berkata, “pergi kalian, jangan menggangu anak ini!”

Teman-temanku berlari lalu pergi ke kelasnya masing-masing. Lalu gurupun mendekat dan menghampiriki lalu bertanya,

“Kamu gak papa nak?”

Lalu aku menjawab, “aku gak papa ibu guru” dengan suara kecil.

Ibu guru pun menanyakan nama ku dan asal.

Perkenalkan nama aku Evan Satria, Bu. Asalku dari bangka Belitung.”

“Oh. Kalo nama ibu nama Berliana asal dari Jawa Barat.

Lalu ibu guru bertanya lagi, “kamu lagi ngapain, Nak.?”

“Aku lagi membersihkan perpustakaan tua ini, ibu. Soalnya perpustakaan ini sangat kotor, aku pun membersihkannya, Bu.”

Ibu guru tersenyum. “Rajin-rajin ya, Nak! Ibu mau pamit dulu ya nak.”

Ibu guru pergi mengajar ke kelasnya.

Saat menyapu rak paling pojok tanganku menyentuh sebuah buku tipis bersampul hitam, tanpa judul dan tanpa nama penulis. Aku terus memandangnya aneh, tapi kenapa aku merasa buku itu memanggilku. Begitu aku membuka halaman pertama, mataku membelalak.

Tulisan di dalamnya bukan huruf yang ku kenal. Bentuknya aneh seperti campuran aksara kuno dan simbol yang hidup. Bahkan anehnya lagi aku bisa membacanya.

“Aksara adalah jiwa siapa yang mengusainya pasti menguasai cerita dunia.”

Jantung berdetak cepat. Saat membaca kata-kata itu. Huruf-huruf mulai bercahaya di halaman, lalu keluar dari buku, melayang di udara. Aku panik, buku itu terlepas dari tangan ku dan BLAAAR!

Aku terlempar ke belakang. Saat membuka mataku, aku tidak lagi berada di perpustakaan. Aku berdiri di hutan yang dipenuhi gulungan kertas, pena tertancap di tanah, seperti pohon dan suara-suara samar yang berisik. “Apa ini?…… dunia di dalam buku,”gumamku ketakutan.

Dari balik kabut, muncul sosok berjubah putih. Wajahnya tak terlihat jelas tapi suaranya dalam dan bergema. “Selamat datang penjaga baru,” katanya.

“Apa? Aku cuma anak sekolah biasa,,” protes ku.

“Dengarkan dulu, wahai manusia!”

“Sejak dulu aksara bukan sekedar tulisan, ia hidup, ia menyimpan kenangan, bahasa dan identitas manusia. Tapi kini aksara-aksara mulai punah dari dunia manusia. Jika aksara hilang, manusia akan kehilangan bahasa, tanpa bahasa, dunia akan terasa hampa.” Jelas sosok berjubah putih itu.

Aku tercengang. “Kenapa aku yang dipilih?”

“Karena kau bisa membaca aksara kuno ini. Itu berarti kau memiliki ikatan jiwa yang terhubung cerita dunia.”

Belum sempat aku menjawab suara gemuruh mengguncang di tanah. Dari kejauhan, muncul sosok makhluk hitam besar berbentuk tinta yang bergolak, matanya merah menyala.

“Itu sang penghapus yang ingin memusnahkan semua bahasa,” ujar sosok berjubah putih itu, suaranya tegang, jika sang penghapus berhasil menghancurkan semua kata, manusia akan tidak lagi bisa memahami satu sama lain.

Aku gemetar hebat. Aku, Aku harus gimana.

Sosok berjubah putih itu mendekat dan memberikan sebuah pena emas bersinar.

“Tulislah dengan hatimu, kata-katamu, akan menjadi senjata!”

Pertarungan pun dimulai. Sang penghapus mengaum, menyeburkan tinta hitam yang mencoba menghapus segala yang berada di sekitarnya. Aku pun menulis di udara menggunakan pena emas dengan gelisah. Huruf-huruf bercahaya muncul dan membentuk sebuah perisai kata.

“Aku tidak akan membiarkanmu menghapus dunia ini!” teriakku.

Sang penghapus semakin marah. “Jangan menghalangi jalanku ini dasar manusia lemah.”

Lalu sang penghapus meremehkan diriku. “Kamu hanya manusia tak berdaya dan lemah.”

Sang penghapus pun tertawa. “HAHAHAHA.”

Dalam keputusasaanku, aku teringat pesan dari sosok berjubah putih itu. “Tulislah dengan hatimu.” Aku pun menutup mata dan membayangkan, lalu menulis kata paling berarti bagiku yaitu persatuan.

Huruf-huruf itu, bersinar terang sehingga menyilaukan pandangan mata. Sang penghapus berkata, “mustahil kau bisa mengalahkanku.”

Lalu aku menjawab, “karena aku memiliki tekad yang kuat, aku terus melawanmu, semaksimal mungkin, walaupun diriku ini selalu gagal dan gagal lagi,” teriakku.

Sang penghapus tercengang. Sebelum akhirnya dia berkata lagi, “kau memang manusia berjasa, tekad dirimu kuat. Maaf kan perbuatanku ini wahai manusia. Aku tahu sebenarnya bahasa dan kata memiliki makna.”

Sang penghapus pun tersenyum di depan diriku, lalu meledak menjadi debu tinta. Debu tinta itu, terbawa angin berhembusan. Hutan aksara kembali tenang.

Aku menatapnya bingung, tetapi aku tahu maksud dari sang penghapus.

Sosok berjubah putih itu mendekat, lalu berkata. “Kau berhasil, kau telah menyelamatkan bahasa dan dunia manusia.

Aku tersenyum lega, tetapi merasa bingung. “Apakah ini semuanya nyata?”

Sosok berjubah putih itu berkata lagi. “Cerita selalu nyata bagi mereka yang mempercayainya.”

Setelah itu aku merasa pusing. Lalu terkapar di tanah. Sosok berjubah putih itu mendekat, lalu menutup mata ku.

Saat aku membuka mata, aku kembali lagi berada di perpustakaan. Buku itu tergelatak, di pangkuanku.

Aku menatapnya tak percaya baru saja apa yang terjadi, tapi ketika aku membuka halaman terakhir, aku terkejut, melihat tulisan tanganku sendiri di sana.

“Persatuan adalah kata menjaga dunia. “Ikatan aksara untuk menyatukan dunia dalam bahasa.”

Aku tersenyum kecil. Aku tahu, setiap aksara memiliki jiwa setiap kata yang kita ucapkan, bisa menyelamatkan atau menghancurkan.

Sejak hari itu aku berjanji untuk menjaga bahasa dan kata-kata, karena setiap aksara pasti memiliki kisah yang tak ternilai. (BP/ KM)*

 

Cerpen ini merupakan karya peserta Lomba Menulis Cerpen dalam rangka memperingati Bulan Bahasa yang diselenggarakan oleh MGMP Bahasa Indonesia, Bangka Tengah di Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, 23 Oktober 2025. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *