Oleh : Fathir Denis (Siswa SDN 30 Mendobarat
Klik. Cahaya biru dari layar gawaiku masih berpendar di tengah remang fajar. Menampilkan skor tertinggi dari game petualangan yang baru saja kuselesaikan. Bagiku dunia digital adalah segalanya, tempat untuk menjadi pahlawan tanpa harus berkeringat. Namun, sebuah ketukan keras di pintu kayu kamarku membuyarkan kemenangan itu
“Fathir, matikan layarmu, Nak. Hari ini ladang kita membutuhkan tanganmu bukan cuma matamu!” suara ayah terdengar hangat namun mantap.
Namaku adalah Fathir siswa kelas 5 UPTD SD Negeri 30 Mendobarat yang lebih hafal tombol kombo di pengontrol game daripada cara menggenggam gagang cangkul. Hari ini aku seperti alien yang di paksa turun ke planet bernama Kota Kapur, sebuah desa pesisir Bangka yang tanahnya menyimpan rahasia ribuan tahun. Di luaran sana sisa-sisa reruntuhan candi kuno peninggalan Kerajaan Sriwijaya berdiri membisu seolah menatapku dengan tatapan menghakimi karena aku lebih peduli dengan koneksi internet daripada sejarah bangsaku sendiri.
Udara pagi itu terasa segar, membawa harum tanah basah oleh sisa hujan semalam. Aku berdiri ragu menatap kerumunan orang dewasa yang membawa tongkat kayu runcing panjang. Di kampungku alat itu dikenal dengan nama tugal.
Jantungku berdegup kencang. Inilah nugal, tradisi menanam padi yang kata guruku sudah ada sebelum kakek-kakek buyutku lahir. Bagiku nugal hanya suatu pekerjaan yang melelahkan dan membuang waktu, mengapa puluhan warga harus berkumpul berkeringat bersama jika Kitab Isa menyewa mesin traktor yang cepat, bagiku yang serba instan nugal seperti teka-teki kuno yang tak masuk akal.
Namun saat aba-aba dimulai aku menyadari bahwa aku salah besar.
“Satu Dua Tiga… Hanyak!”
“Bruk! Bruk! Bruk!”
Suara tugal yang menghantam bumi menggetarkan kakiku yang hanya beralaskan sandal jepit. Ayah dan paman-pamanku menghujamkan tugal mereka ke tanah. Para pria bergerak maju dalam barisan yang sangat rapi seperti pasukan yang sedang menari mengikuti detak jantung alam. Mereka menciptakan lubang-lubang kecil yang akan menjadi rumah bagi benih kehidupan kelak.
Di belakang mereka, ada ibu-ibu yang bergerak gemulai. Mereka menjatuhkan benih padi ladang ke dalam lubang lalu menutupnya tipis dengan sentuhan lembut ujung kaki. Mereka seperti penari yang sedang memuja tanah, aku menyebutnya “Simfoni Bumi”
“Fathir. Jangan hanya terpaku pada layar, lihatlah ke depan!” Ayah memberikan tongkat tugal yang lebih kecil kepadaku. “Hari ini Kau bukan sedang bermain game, kau sedang menuliskan harapan di perut bumi.”
Akupun memberanikan diri mengikuti irama mereka. Keringat mulai menetes di dahiku. Baru sepuluh lubang aku sudah ingin menyerah. “Ayah, ini melelahkan,” bisikku.
Ayah menatapku dengan binar mata yang hangat.
“Fathir, lihatlah sekelilingmu. Hari ini mereka berkeringat di ladang kita, besok kita berkeringat di ladang Pak Kadus, dan lusa di ladang Mak Inang. Tradisi ini kami menyebutnya betukar hari.
Tiba-tiba langit yang tadinya cerah berubah menjadi murka. Awan hitam bergulung dari balik bukit membawa angin kencang yang menggoyang pepohonan.
“Gawat sepertinya akan turun hujan!” teriak Pak Kadus.
Jantungku berdegup kencang. Setengah dari ladang kami belum tertanam. Jika hujan deras turun sekarang, lubang-lubang akan tergenang air, tanah akan menjadi lumpur, dan benih padi tidak akan bisa tumbuh. Kita akan gagal panen tahun ini.
Aku melihat kepanikan di wajah ayah. Namun sesuatu yang tak terduga terjadi, tidak ada satupun warga yang lari pulang untuk berteduh mereka justru merapatkan barisan.
“Ayo percepat gerakan!” Irama nugal yang tadinya santai berubah menjadi bertenaga.
“Ayo semuanya percepat gerakan jangan biarkan satu jengkal pun tanah keluarga Fathir tertinggal!” teriak seorang warga dari kejauhan.
Aku tertegun. Mereka tidak dibayar tapi mereka bekerja seolah ladang ini milik mereka.
Aku berlari membawa tongkat tugalku dan menghujamkan ke tanah dengan semangat yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku tidak lagi peduli dengan gawaiku yang berada di rumah dan baju yang mulai kotor. Aku hanya ingin membantu mereka.
Saat tetesan hujan pertama jatuh ke bumi lubang terakhir berhasil ditutup. Kami semua berlarian menembus hujan deras untuk mencapai gubuk di pinggir ladang. Di dalam sana baju kami basah dan napas tersengal-sengal. Namun suasana hangat. Aku menatap tanganku yang penuh dengan tanah. Mungkin tangan kotor di daerah lain adalah hal yang memalukan namun di sini, di Kota Kapur adalah bukti janji tak tertulis tentang persaudaraan. Aku pun membasuh tanganku oleh air hujan yang mengucur deras dari talang gubuk untuk persiapan hal yang paling dinanti makan seperadik.
Kami duduk melingkar di atas lantai bambu. Di tengah kami ada lempah kuning ikan manyong yang aromanya menggugah selera. Sambal rusip yang khas dan lalapan daun pucuk ubi. Panasnya lempah kuning ikan manyong seolah melunturkan rasa dingin yang merasuk tulang. Kami makan dari satu nampan yang sama, tidak ada sekat antara anak kecil sepertiku, petani, maupun Pak Kadus, semua mulut sama-sama merasakan sambal rusip yang khas dengan daun pucuk ubi.
Aku tersenyum sambil menyeruput teh panas dan menyadari bahwa nugal adalah simbol tentang persaudaraan. Nugal bukan hanya tradisi menanam padi untuk makan tapi nugal juga adalah tentang menanam budi. Besok aku akan menjadi orang pertama yang bangun untuk membantu ladang Mak Inang dengan semangat yang sama. (BP / KM)*
Catatan : Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kecamatan Mendobarat Tahun 2026. Juara 1 tingkat Kecamatan Mendobarat. Di Tingkat Kabupaten Bangka, meraih juara 1 dan berhak mewakili Kabupaten Bangka ke tingkat nasional pada babak penyisihan. Di babak penyisihan keluar sebagai peringkat Harapan I.












