Gerakan Humas Muda Cetak Generasi yang Mampu Berkarya di Era Digital

Gerakan Humas Muda Cetak Generasi yang Mampu Berkarya di Era Digital

Editor : Belva Al Akhab

Bekaespedia.com, Tasikmalaya, – Suasana ruang pertemuan di Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya (UMTAS), Jumat (31/7/2026), berbeda dari biasanya. Puluhan pelajar SMP, SMA dan SMK tampak sibuk berdiskusi, mengamati lingkungan, memotret, mencatat informasi, hingga menyusun cerita. Mereka bukan sedang mengikuti lomba jurnalistik, melainkan belajar menjadi komunikator yang mampu menghadirkan informasi yang bertanggung jawab.

Di tengah derasnya arus informasi digital, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Komisi X DPR RI menghadirkan Lokakarya “Humas Muda: Belajar Bermakna, Berkarya Bersama” sebagai ruang belajar yang mengajak murid tidak hanya memahami teori, tetapi juga mengalami langsung proses mencari pengetahuan melalui pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning).

Sebanyak 100 murid bersama guru dari Tasikmalaya dan sekitarnya mengikuti kegiatan yang diselenggarakan Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Kemendikdasmen tersebut. Mereka diajak mempraktikkan keterampilan abad ke-21, mulai dari berpikir kritis, memverifikasi informasi, menyusun narasi, bekerja sama dalam tim, hingga menyampaikan gagasan secara kreatif dan bertanggung jawab.

Pendekatan ini menjadi jawaban atas tantangan zaman ketika ruang digital lebih banyak dimanfaatkan sebagai tempat menikmati hiburan dibandingkan ruang belajar.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sebanyak 68,88 persen pelajar Indonesia menggunakan internet untuk media sosial, 68,22 persen untuk mencari informasi, sementara pemanfaatannya sebagai media pembelajaran baru mencapai 33,40 persen. Melalui Gerakan Humas Muda, Kemendikdasmen ingin mengubah kecenderungan tersebut dengan menjadikan teknologi sebagai ruang berkarya dan berbagi inspirasi.

Anggota Komisi X DPR RI, Ferdiansyah, mengatakan keberhasilan seseorang pada masa depan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik, tetapi juga kecakapan berkomunikasi.

” Humas Muda menyiapkan generasi muda menjadi komunikator yang baik. Sebab, keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh pengetahuan yang dimiliki, tetapi juga kemampuannya membangun komunikasi. Komunikasi bukan sekadar berbicara, melainkan bagaimana kita mampu memberikan manfaat, baik melalui ilmu, pengalaman, maupun jejaring yang kita miliki,” kata Ferdiansyah.

Menurutnya, kemampuan menyampaikan gagasan secara tepat akan menjadi modal penting bagi generasi muda untuk berkontribusi dalam kehidupan bermasyarakat sekaligus menghadapi tantangan dunia kerja yang semakin kompetitif.

Sementara itu, Kepala Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Kemendikdasmen, Yudhistira Nugraha, menegaskan bahwa pembelajaran masa kini harus mampu melahirkan murid yang aktif menciptakan pengetahuan, bukan sekadar menerima informasi.

Ia menjelaskan, pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) bukanlah kurikulum baru, melainkan cara belajar yang menempatkan murid sebagai subjek utama dalam proses pembelajaran.

“Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) bukanlah kurikulum baru, melainkan pendekatan pembelajaran yang terus didorong oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti. Pendekatan ini menekankan pembelajaran yang berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful). Artinya, belajar tidak berhenti di ruang kelas, tetapi perlu dikaitkan dengan kehidupan nyata sehingga menghasilkan karya yang bermanfaat dan memberi dampak. Inilah semangat yang diusung melalui lokakarya Humas Muda: Belajar Bermakna, Berkarya Bersama,” ujar Yudhistira.

Dalam kesempatan itu, Yudhistira juga memperkenalkan fitur Ruang Murid pada superaplikasi Rumah Pendidikan sebagai sumber belajar digital gratis. Selain itu, peserta dikenalkan dengan kanal @wajahpendidikan.id dan @ceritapendidikan.id yang menjadi wadah berbagi praktik baik, inovasi dan kisah inspiratif dari berbagai daerah di Indonesia.

Bagi Kemendikdasmen, ruang digital bukan hanya tempat mencari informasi, tetapi juga wahana membangun karakter, kreativitas dan kepedulian sosial melalui karya-karya yang berdampak.

Rektor UMTAS, Neni Nuraeni, menilai kemampuan membangun komunikasi yang baik menjadi salah satu fondasi penting dalam meningkatkan mutu pendidikan. Menurutnya, prestasi akademik tidak akan memiliki dampak luas tanpa didukung komunikasi yang terbuka dan dipercaya masyarakat.

” Yang terpenting adalah komunikasi yang terbuka dan terpercaya. Ini yang paling penting walaupun prestasi segudang apa pun yang dimiliki oleh sebuah sekolah, tetapi komunikasi dan kepercayaan itu sangat luar biasa. Sehingga tentunya ini menjadi sebuah reputasi yang sangat diperlukan oleh sebuah sekolah,” tutur Neni.

Kolaborasi Kemendikdasmen dan Komisi X DPR RI melalui Gerakan Humas Muda diharapkan menjadi contoh nyata bagaimana pembelajaran dapat berlangsung secara lebih kontekstual, menyenangkan, sekaligus relevan dengan kebutuhan zaman. Dari ruang-ruang lokakarya seperti inilah diharapkan lahir generasi pembelajar sepanjang hayat yang tidak hanya mahir memanfaatkan teknologi, tetapi juga mampu mengubah pengetahuan menjadi karya, inspirasi dan manfaat bagi masyarakat luas.

Exit mobile version