Oleh: Yanto,M,PD ( Guru, Motivator & Da’wah Indonesia)
Bekaespedia.com, Pada hari ke-9 Ramadhan, ketika kita sudah melewati hampir sepertiga dari bulan suci ini, seringkali kita terjebak dalam rutinitas yang membuat kita lupa akan tujuan utama dari ibadah yang kita jalani. Kalimat “Jangan Hanya Lolos, Tapi Lulus” yang disampaikan bukan sekadar slogan semata, melainkan sebuah teguran yang dalam dan panggilan untuk kembali kepada esensi Ramadhan yang sesungguhnya.
Banyak di antara kita yang merasa telah “berhasil” menjalankan puasa hanya dengan tidak makan dan minum dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Kita merasa bahwa dengan memenuhi syarat-syarat lahiriah ibadah, kita sudah “lolos” dari kewajiban yang telah Allah SWT perintahkan. Namun, pertanyaan besar yang harus kita tanyakan pada diri sendiri adalah: apakah ini semua cukup? Apakah Ramadhan hanya sebatas itu?
Hadis Rasulullah ﷺ yang menyatakan bahwa “Betapa banyak orang berpuasa, namun tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan dahaga” adalah peringatan yang amat mendesak. Lapar dan dahaga adalah konsekuensi alamiah dari menahan makan dan minum, bukanlah tujuan dari puasa itu sendiri. Puasa diciptakan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, melatih kesabaran, dan membersihkan jiwa dari segala macam kekotoran hati dan perilaku.
Hari ke-9 menjadi momen muhasabah yang sangat tepat karena pada titik ini, kita sudah memiliki cukup waktu untuk melihat perkembangan diri kita selama Ramadhan berjalan. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan—apakah shalat kita lebih khusyuk, apakah Al-Qur’an lebih sering kita sentuh, apakah hati kita lebih lembut—adalah ukuran nyata untuk mengukur sejauh mana kita benar-benar “lulus” dalam menjalani bulan suci ini.
Shalat yang lebih khusyuk bukan hanya tentang melafalkan bacaan dengan benar atau menjalankan gerakan-gerakan ibadah secara tepat, tetapi tentang bagaimana hati kita benar-benar terkoneksi dengan yang kita panjatkan kepada Allah SWT. Ketika kita shalat, apakah pikiran kita masih terombang-ambing dengan urusan duniawi, ataukah kita benar-benar fokus pada komunikasi kita dengan Sang Pencipta?
Sementara itu, menyentuh Al-Qur’an bukan hanya tentang membaca beberapa ayat setiap hari tanpa memahami maknanya. Ia adalah petunjuk hidup yang harus kita renungkan dan terapkan dalam setiap langkah kita. Ketika kita membaca Al-Qur’an, apakah kita berusaha untuk memahami pesan yang terkandung di dalamnya dan mencoba mengubah perilaku kita sesuai dengan ajarannya?
Hati yang lebih lembut adalah buah dari proses pemurnian yang terjadi selama Ramadhan. Puasa tidak hanya melatih kita untuk menahan lapar dan haus, tetapi juga untuk menahan amarah yang seringkali membuat kita melakukan kesalahan, menahan ego yang membuat kita sombong dan tidak mau menerima kesalahan, serta menahan segala macam hawa nafsu yang dapat menjauhkan kita dari jalan yang benar. Ramadhan mengajarkan kita untuk menjadi lebih kuat, bukan lebih lemah—kuat dalam mengendalikan diri dan kuat dalam menjaga hubungan kita dengan Allah SWT dan sesama manusia.
Bagi sebagian dari kita yang merasa bahwa hingga hari ke-9 ini belum ada banyak perubahan dalam diri, janganlah merasa putus asa. Ramadhan bukanlah perlombaan siapa yang paling cepat mencapai kesempurnaan, tetapi perjalanan siapa yang paling sungguh-sungguh dalam berusaha untuk menjadi lebih baik. Setiap hari di Ramadhan adalah kesempatan baru untuk memperbaiki diri, untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, dan untuk menguatkan iman kita.
“Jangan hanya lolos dari kewajiban, tapi lulus dengan peningkatan iman”—kalimat ini harus menjadi landasan kita dalam menjalani sisa hari-hari Ramadhan. Ketika kita mampu memahami dan mengamalkan makna sebenarnya dari setiap ibadah yang kita lakukan, maka Ramadhan tidak akan hanya menjadi bulan yang lewat begitu saja, tetapi akan menjadi pengalaman yang mengubah hidup kita menjadi lebih baik, lebih berkualitas, dan lebih dekat dengan ridho Allah SWT.
Semoga hari ke-9 Ramadhan ini menjadi titik balik bagi kita semua untuk lebih dalam memahami dan menjalani ibadah kita, sehingga kita dapat benar-benar “lulus” dengan membawa berkah dan peningkatan iman yang abadi.












