Opini  

Hari ke-8 Ramadhan: Kapan Semangat Puasa Mulai Bohong?

Oleh: Yanto,M,Pd(Guru, Motivator & Da,wah Indonesia)

Bekaespedia.com,- Bayangkan ini: Hari pertama Ramadhan, semangat membara seperti api unggun. Takjil mewah, tadarus nonstop, shalat tarawih penuh khusyuk. Tapi masuk hari ke-8? Lelah menyusup diam-diam. Godaan camilan malam hari mulai berbisik. “Cuma sekali kok,” goda setan. Semangat awal pudar, dan ujian keikhlasan sungguh baru dimulai.

*Bunyi pantun Palembang:

Palembang nan ramai pasar lemang,

Ramadhan datang uji hati nan dalam.

Jangan puasa cuma lapar perut,

Ikhlas niatlah, dekat dengan Ilahi nan suci.*

Bukan hari pertama yang paling berat—itu cuma pemanasan. Yang bikin Ramadhan jadi medan jihad adalah saat *konsistensi diuji*. Rasulullah ﷺ beri kunci rahasia:

**إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ** (“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya,” HR. Bukhari-Muslim). Hari ke-8 momen introspeksi: Puasa untuk Allah, atau ikut-ikutan suasana?

Ramadhan bukan rutinitas tahunan. Ia *proyek transformasi diri*—bukan ubah jadwal makan, tapi renovasi hati. Rahasia besarnya? Bukan kuantitas amal, tapi kejujurannya.

Di hari ke-8, rapikan yang longgar:

– Shalat tepat waktu, jangan “nanti aja”.

– Tilawah Al-Qur’an, kembali satu juz khusyuk.

– Sedekah receh, jangan terlupa saudara.

*Bunyi pantun lagi:

Pempek Palembang enak dimakan,

Puasa Ramadhan ikhlas dijaga.

Hati tunduk, jiwa nan cerah,

Idul Fitri nanti bahagia nan abadi.*

Kemenangan bukan di Hari Raya, tapi hati yang ditaklukkan. Semoga hari ini kita lebih ikhlas, sabar, dekat Allah. Puasa Anda masih jujur?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *