Karya: Yanto In Action
Di relung impian yang rapuh bagai daun gugur,
Kau libatkan-Nya, Tuhan, agar tak tercerabut angin.
Tanpa-Mu, mimpi hanyalah bayang pudar di malam buta,
Bersama-Mu, ia mekar jadi taman surga yang abadi.
Perasaanmu bergolak, lautan badai tanpa pelabuhan,
Kritis hati ini: mengapa kau biarkan ego jadi nahkoda?
Serahkan kendali pada Yang Maha Pengatur ombak,
Maka gelora reda, damai menyapa jiwa yang haus.
Kehilangan datang bagai petir di langit cerahmu,
Patah serpihan cinta, mimpi, atau sanak yang pergi.
Kau bertanya: “Mengapa, ya Rabb?”—itu ujian tajam,
Tapi kritis ingat: rugi besar bagi yang lupa berserah.
Meski dada retak, darah impian tumpah di tanah kering,
Tak hancur engkau, sebab tangan-Nya menyusun kembali.
Optimislah, saudaraku, di balik luka ada cahaya fajar,
Allah pelita, hati-Mu jadi benteng tak tergoyahkan.
Impian terhempas, perasaan teriris pedang waktu,
Kehilangan menjerit, tapi kau tetap berdiri tegak.
Rahasia? Libatkan Dia di setiap denyut nadimu,
Maka patah jadi pelajaran, hancur sirna dari kamus jiwa.
Kritis pada dunia yang janji manis tapi dusta abadi,
Optimis pada janji-Nya: “Aku bersama orang sabar.”
Hati patah? Itu bibit kebangkitan yang ditabur-Nya,
Bersama Allah, engkau takkan pernah benar-benar runtuh.
Di akhir malam kehilangan, terbit bintang harapan baru,
Impian bangkit, perasaan pulih, luka jadi mahkota.
Libatkan-Nya selalu, wahai jiwa yang resah,
Sebab dengan Allah, patah hanyalah ilusi sementara.
Rias, 10 Ramadhan 1447 H
