Oleh : Syariful Anam (Siswa SDN 6 Namang)
Di Desa Kayu Besi, kecamatan Namang, nampak seperti kanvas yang tumpah dengan warna abu-abu pekat. Angin membawa aroma tanah basah yang khas dan wangi bunga pohon pelawan yang samar. Bagi Elang, bocah berusia 7 tahun dengan mata bulatnya yang selalu ingin tahu, bahwa sore itu bukan sore biasa melainkan sore itu adalah sore terakhir di bulan April.
“Mak apakah hujan kali ini akan membawa pergi semua debu di jalanan?” tanya Elang sambil menarik ujung baju ibunya yang sedang merapikan jemuran di teras rumah panggung mereka. Ibunya tersenyum, mengusap rambut elang, “Hujan itu nafas bumi Lang. Mereka membersihkan tetapi kita juga harus membantu bumi agar tetap bisa bernafas.”
Elang tidak sepenuhnya mengerti tapi dia tahu satu hal, dia sangat mencintai hutannya. Di Namang hutan bukan sekadar sekumpulan pohon melainkan rumah bagi ribuan lebah madu dan pohon pelawan yang dahannya kemerahan. Elang sering melihat para tetua desa mengambil madu pahit yang terkenal itu dengan penuh hormat tanpa merusak dahan sedikitpun. Tiba-tiba rintik pertama jatuh.
“Tik…Tik…Tik…”
Elang berlari ke halaman tetapi seketika langkahnya terhenti di parit di depan rumahnya. Ia melihat sesuatu yang mengganggu pemandangan indahnya. Plastik bekas bungkusan makanan dan botol minuman tersumbat di celah bebatuan di parit. Air hujan yang seharusnya mengalir lancar menuju sungai kecil di pinggir desa mulai meluap.
“Jika paritnya tersumbat bumi akan sesak nafas,” gumam Elang sambil mengingat kata emak.
Tanpa mempedulikan bajunya yang mulai basah kuyup Elang pun berjongkok. Jemari kecilnya mulai memunguti sampah-sampah plastik itu satu persatu. Dinginnya air hujan meresap ke kulitnya tetapi semangatnya justru menghangat. Dia ingat cerita kakeknya tentang bagaimana tanah Bangka begitu hijau sebelum lubang-lubang tambang yang menganga mulai melukai punggung bumi di beberapa tempat.
“Elang, masuk Nak! Nanti demam!” seru emaknya dari pintu.
“Sebentar Mak. Elang sedang membantu bumi bernafas!” jawabnya lantang.
Seorang tetangga Pak Hamid yang kebetulan lewat dengan payung daun pisangnya berhenti sejenak melihat aksi bocah itu. Pak Hamid tersentuh, malu rasanya melihat anak sekecil itu peduli, sementara orang dewasa sering kali lalai. Pak Hamid pun meletakkan payungnya dan ikut membantu Elang membersihkan selokan di sepanjang jalan.
Hujan semakin deras menjadi tirai yang membasahi Desa Kayu Besi. Namun keajaiban kecil terjadi. Melihat Elang dan Pak Hamid, dua anak kecil lainnya; Siti dan Bayu ikut melakukan hal yang sama di depan rumah masing-masing. Sore itu di bawah guyuran hujan terakhir di bulan April, sebuah gerakan tanpa kata lahir dari seorang bocah berusia 7 tahun.
Satu jam kemudian hujan mereda, menyisakan suara tetesan air di daun-daun pohon mangga. Air di parit-parit mengalir jernih. Elang berdiri di jalanan yang basah. Wajahnya coreng-moreng oleh sedikit lumpur, tetapi senyumnya selebar pelangi yang mulai mengintip di ufuk barat.
“Mak, lihat buminya tersenyum!” kata Elang sambil menunjuk ke hutan yang lebih segar dan lebih hijau. Ibunya mendekat menyelimuti bahu Elang dengan handuk kering.
“Ya, Lang. Kamu sudah menjaga bagian kecil dari dunia ini. Jika setiap orang menjaga bagian kecilnya bumi tidak akan merasa sakit.”
Malam itu Desa Kayu Besi tidur dengan lelap. Hujan terakhir di bulan April telah pergi meninggalkan pesan yang tertanam kuat di hati Elang, bahwa menjaga bumi tidak membutuhkan kekuatan raksasa, cukup dengan tangan yang mau bergerak dan hati yang tulus mencintai tanah tempatnya berpijak. Malam itu di bawah naungan pohon pelawan masa depan bumi baru saja diselamatkan oleh seorang bocah bernama Elang. (BP / KM)*
Catatan : Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kecamatan Namang Tahun 2026.












