Puisi  

Inferno di Ruang Belajar: Ketika Otak dan Tubuh Berperang Melawan Panas  

Karya: Yanto In Action

 

Dinding kelas memancarkan pijar neraka,

Surya membakar tanpa ampun, menyiksa.

Nalar bergelut, mencari celah logika,

Raga meronta, dalam kobaran dahaga.

 

Kipas mati, membisu, tak berdaya,

Angin sejuk hanyalah fatamorgana maya.

Buku-buku hangus, pelajaran menanti nyata,

Namun benak hangus, konsentrasi sirna.

 

Keringat mengucur, sungai asin di wajah,

Seragam melekat, bau apek menyergah.

Di balik senyum, tersembunyi rintihan parah,

Kapan datang, wahai penawar gerah?

 

Aksara menari liar, angka-angka menggila,

Di tengah uap panas, imajinasi terenggut paksa.

Guru berujar, suara samar tak bermakna,

Fokus remuk redam, terbakar suhu membara.

 

Namun nyala asa tak boleh padam,

Semangat membaja, menantang terik kejam.

Ilmu adalah suluh, penerang malam kelam,

Meski di tungku kelas, cita-cita tetap tertanam.

 

Bayangan AC, muncul bagai oase sejuk,

Dinginnya memanggil, membangkitkan senyum.

Mungkin esok hari, keajaiban kan memeluk,

Ruang ini berubah, menjadi surga teduh.

 

Wahai penguasa, pemegang keputusan,

Dengarkanlah jerit kami, di tengah kekeringan.

Berikan kami sejuk, demi kenyamanan,

Masa depan bangsa, butuh ruang pencerahan.

 

Inferno kelas, jadikan bara pengobar,

Untuk raih impian, melesat ke puncak fajar.

Guru furu, bersaksi dengan gertak,

Semangat belajar, takkan pernah retak!

Exit mobile version