Jagalah Aku Maka Aku Akan Menjagamu

Karya: Intan Lestari (Siswa SDN 8 Pangkalanbaru)

 

Pagi itu di Desa Jati, udara terasa cukup segar. Sinar matahari baru saja menyelinap di antara celah-celah daun pohon mahoni yang berjajar rapi di sepanjang jalan desa. Keysha dan adiknya, Lily bersiap-siap untuk pergi bermain ke taman bermain. Bagi Lily yang masih duduk di bangku sekolah dasar, Sabtu pagi adalah waktu yang sakral untuk menikmati ayunan di taman desa.

Di tengah jalan, mereka mampir ke sebuah toko kelontong milik Wak Minah untuk membeli beberapa cemilan. Namun, suasana ceria itu mendadak terganggu. Saat mereka baru saja keluar dari toko, aroma busuk yang menyengat tiba-tiba menusuk hidung. Bau itu bukan berasal dari tumpukan kompos, melainkan bau sampah yang membusuk terkena air.

Tak jauh dari mereka, seorang ibu terlihat membawa bungkusan kantong plastik hitam yang sangat besar. Tanpa rasa bersalah, ia melemparkan bungkusan itu langsung ke dalam selokan di pinggir jalan.

Plung! Suara air yang terpercik terdengar kasar. Air selokan yang tadinya mengalir lambat, seketika tersumbat dan mulai meluap ke badan jalan.

“Ibu, kenapa sampahnya dibuang ke selokan?” tanya seorang warga, Pak Bambang, yang kebetulan lewat membawa cangkul.

Ibu itu bukannya malu, malah memegang pinggang. Wajahnya memerah karena emosi yang tidak jelas asalnya.

“Ya suka-suka saya! Ini kan hidup saya, urusan saya. Kenapa Bapak yang repot?”

Keysha yang melihat itu merasa dadanya sesak. Ia tidak tahan untuk ikut bicara.

“Tapi Bu, ada tempat sampah besar di ujung gang, hanya sepuluh meter dari sini. Kalau dibuang ke selokan, nanti airnya mampet dan bau. Kasihan warga yang rumahnya di bawah sana, pasti kena luapannya.”

“Iya, Bu. Benar kata Kakak. Nanti selokannya jadi sedih karena perutnya penuh sampah,” tambah Lily polos, mencoba mencairkan suasana dengan logikanya yang kekanak-kanakan.

Namun, teguran itu justru membuat si ibu makin meradang. “Ah, anak kecil tahu apa? Kalian semua ini sok suci!” serunya ketus. Ia segera menyalakan motornya dan memacu gas dengan sangat kencang—ngenggg!—asap knalpotnya mengepul hitam, meninggalkan bau hangus yang menyesakkan. Karena terlalu terburu-buru dan emosi, motornya sempat oleng dan ia hampir terjatuh di tikungan, namun ia terus melaju tanpa menoleh lagi.

Setelah kejadian itu, warga membubarkan diri dengan gelengan kepala. Keysha dan Lily melanjutkan perjalanan ke taman bermain, meski suasana hati mereka sedikit mendung. Sesampainya di taman bermain, Lily memakan jajannya. Setelah selesai, ia tidak membiarkan bungkus plastiknya terbang tertiup angin. Ia segera berlari kecil dan membuangnya ke tempat sampah berwarna hijau.

Sambil duduk di bangku taman di bawah pohon rindang, Lily menatap kakaknya dengan penuh rasa ingin tahu.

“Kak, kenapa sih kita harus menjaga bumi dengan baik? Padahal kan bumi itu besar sekali, apa pengaruhnya kalau cuma satu bungkus sampah?”

Keysha tersenyum lembut, merapikan rambut adiknya yang berantakan.

“Bumi memang besar, Ly. Tapi bumi itu seperti tubuh kita. Kalau ada satu duri kecil saja yang menusuk jempol kaki, seluruh tubuh kita akan merasa sakit, bukan? Begitu juga dengan sampah. Dengan menjaga bumi, hidup kita jadi nyaman. Udara jadi bersih untuk paru-paru kita, dan kita terhindar dari penyakit yang dibawa lalat atau banjir.”

“Terus, gimana cara kita melindunginya selain nggak buang sampah?”

“Banyak caranya. Kita bisa rajin gotong royong bersihkan lingkungan setiap Minggu, tidak menebang pohon sembarangan, dan kalau bisa menanam pohon di halaman rumah,” jelas Keysha. “Oh iya, satu lagi pesan Kakak. Kita tidak hidup sendirian di sini. Ada hewan-hewan juga. Kalau kamu melihat kucing atau burung yang lapar atau sakit, jika ada rezeki, berilah mereka makan. Kita harus menjaga sesama makhluk hidup agar mereka tidak punah dan ekosistem kita tetap seimbang.”

Lily mengangguk paham, namun dahinya berkerut. “Tapi Kak, kalau Lily lagi nggak punya uang saku gimana? Apa harus dipaksa beli makanan hewan?”

“Ya jangan dipaksa, sayang. Kebaikan itu tidak harus mahal. Kalau kamu kebetulan punya sisa makanan yang masih layak di rumah, itu pun sudah sangat membantu,” jawab Keysha sambil mengusap kepala adiknya.

“Siap, Kakak cantik! Lily akan jadi pahlawan bumi!” seru Lily riang, membuat beberapa orang di taman menoleh sambil tersenyum.

“Dih, bisa aja kamu!” Canda Keysha.

Malam pun tiba. Setelah seharian bermain, mereka merasa lapar dan memutuskan membeli mie instan dan telur di warung dekat rumah untuk makan malam sederhana. Namun, karena kelelahan setelah berjalan jauh, sesampainya di rumah mereka justru duduk bersandar di sofa dan berakhir tertidur pulas sebelum sempat menyalakan kompor.

Keesokan paginya, Keysha bangun lebih awal. Matahari belum sepenuhnya tinggi. Ia berniat mencuci baju di sungai desa yang letaknya di perbatasan hutan, tempat yang biasanya menjadi sumber air bersih warga. Namun, sesampainya di sana, Keysha terkejut bukan main. Sungai yang biasanya bening hingga batu-batu di dasarnya terlihat, kini penuh dengan sampah plastik, sterofoam, dan kain-kain bekas. Airnya berubah menjadi keruh kecokelatan dan berbusa.

Pak RT yang sudah berada di lokasi tampak sibuk mengarahkan beberapa pemuda. Wajahnya terlihat gusar.

“Jangan ada yang mandi atau mencuci di sini dulu! Airnya kotor dan beracun. Sepertinya ada yang membuang limbah rumah tangga massal semalam. Besok kita harus gotong royong besar-besaran untuk membersihkan sungai ini!” seru Pak RT lewat pengeras suara musala.

Keysha menghela napas panjang. Ia pun terpaksa pulang dan memilih pergi ke laundry untuk mencuci baju, sesuatu yang sebenarnya ingin ia hindari demi menghemat uang saku.

Di rumah, Lily sudah terbangun dan menyambut kakaknya dengan wajah bantal.

“Kakak tadi ke mana kok nggak ajak Lily?” tanya Lily sambil menggosok mata.

“Kakak tadi ke sungai, tapi sungainya sakit, Ly. Kotor sekali karena sampah. Jadi Kakak ke laundry saja,” jawab Keysha sambil menaruh keranjang baju.

“Oh… kok nggak bangunin Lily?”

“Habisnya kamu tidurnya nyenyak banget, mirip kerbau!” goda Keysha, mencoba menghibur diri dari rasa sedih melihat sungai yang rusak.

Lily hanya tertawa kecil. Namun, di balik tawa itu, ia mulai sadar bahwa menjaga bumi bukan hanya sekadar teori di buku sekolah atau nasihat kakaknya, tapi sebuah keharusan yang nyata. Jika mereka tidak memulai dari sekarang, mungkin besok-besok bukan hanya sungai yang kotor, tapi taman tempatnya bermain pun akan hilang tertutup sampah.

Hidup di dunia ini memang harus adil. Tidak hanya kepada sesama manusia yang bisa memprotes, tapi juga kepada alam dan hewan yang hanya bisa menerima perlakuan kita secara diam. Keysha dan Lily kini paham bahwa kebersihan adalah bentuk syukur yang paling nyata atas nafas dan air yang mereka terima setiap hari. Dari hal kecil seperti memungut satu tutup botol, hingga gotong royong membersihkan sungai, semua itu adalah investasi agar bumi tetap lestari bagi anak cucu mereka kelak. (BP/ KM)*

 

 

Catatan: Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kecamatan Pangkalanbaru Tahun 2026 Cabang Menulis Cerita. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *