Jage Kelekak Kite: Jejak yang Hampir Padam, Harapan yang Baru Tumbuh dari SDN 09 Mendo Barat

Oleh: Belva Al Akhab 

Bekaespedia.com, Zed, Bangka – Pagi itu, SDN 09 Mendo Barat tampak seperti sekolah dasar biasa. Namun siapa sangka, di balik riuh canda anak-anak, tersimpan babak baru dari kisah panjang bentang alam Pulau Bangka yaitu sebuah kisah yang nyaris tenggelam di antara deru tambang, derap sawit, dan sunyi kebijakan.

Hembusan angin membawa aroma tanah basah, seolah memanggil masa lalu yang perlahan hilang: kelekak, kebun warisan yang dibangun nenek moyang dengan tangan-tangan sabar tempat mereka menanam durian, manggis, rempah, aren, dan aneka pohon kehidupan. Tempat yang menyimpan makanan, obat, identitas, dan riwayat keluarga.

Namun kini, kelekak berdiri di ambang kepunahan yang senyap.

Di sinilah cerita ini bermula: di halaman sebuah sekolah kecil, di mana generasi paling muda diperkenalkan kembali kepada salah satu warisan ekologis dan kultural terpenting Pulau Bangka.

Sabtu, 22 November 2025.

Puluhan siswa SDN 09 Mendo Barat berkumpul rapi di halaman sekolah. Sebagian masih menggenggam pensil warna, sebagian membawa air minum dalam botol plastik yang diikat dengan tali rafia.

Ketika tim Yayasan Cakrawala Insan Sentosa (CIS) tiba, anak-anak langsung mengerubungi seperti semut menemukan bulir gula. Mata mereka berbinar. Mereka tidak tahu betul apa itu FOLU, apa itu NIC2&3, atau apa itu Net Sink 2030 tetapi mereka tahu hari ini mereka diajak ke dalam kelas untuk belajar sesuatu yang “asik”.

Kegiatan ini adalah bagian dari kerja sama pemerintah Indonesia–Norwegia FOLU NIC Phase 2 & 3, mendukung pencapaian Indonesia’s FOLU Net Sink 2030, target besar agar sektor kehutanan mampu menyerap emisi karbon lebih banyak daripada yang dilepas.

Namun bagi CIS, target utama hari itu hanya satu: mengembalikan ingatan tentang kelekak ke dalam benak anak-anak Bangka Belitung.

Saat pemateri memaparkan tayangan bergambar flora-fauna kelekak, burung-burung kecil yang berdiri di ranting, capung merah, pohon aren, cempedak liar puluhan mata kecil membulat.

Mereka terpesona. Mereka kagum. Mereka merasa sedang menyaksikan sesuatu yang akrab namun asing seolah melihat foto-foto keluarga lama yang hampir terlupakan.

“Aku pernah lihat pohon aren di dekat sungai rumah Nek!” teriak seorang siswa kelas empat.

Namun setelah tawa pelan mereda, suasana berubah.

Fasilitator menampilkan peta-peta kelekak yang hilang:

yang kini ditumbangkan tambang timah, berubah fungsi menjadi kebun sawit, atau tergerus pembangunan.

Anak-anak terdiam. Mereka mengenal lokasi-lokasi itu.

Beberapa bahkan tinggal tak jauh dari lubang-lubang galian.

Untuk pertama kalinya, mereka menyadari bahwa perubahan lanskap di kampung mereka bukan peristiwa jauh di televisi tetapi peristiwa yang menggerus halaman belakang rumah mereka sendiri.

Fasilitator kemudian membuka cerita tentang Kelak Kek Ikak, makna filosofis di balik kelekak dalam budaya Melayu Bangka. Dalam legenda itu, kelekak adalah kebun yang tak boleh dijual sembarangan, tempat yang diwariskan turun-temurun, dan tempat di mana siapa menebang wajib menanam kembali.

Agroforestri tradisional ini bukan sekadar ruang tanam ia adalah bukti hubungan ekologis antara manusia dan tanah yang memelihara mereka.

Data penelitian Al Manar et al. (2025) menyebutkan:

Kelekak adalah bekas permukiman lama yang berubah menjadi kebun buah-buahan.

Terdiri dari durian, manggis, cempedak, kelapa, kabung (aren), rempah, dan tanaman obat.

Menjadi rumah bagi berbagai fauna kecil yang berperan menjaga keseimbangan ekosistem.

Namun kini, kelekak di Bangka Belitung menghadapi kepunahan perlahan: digantikan tambang, dijual menjadi kebun sawit, ditinggalkan karena dianggap “tidak ekonomis”.

Padahal, jika kelekak hilang, yang hilang bukan hanya pohon-pohon tetapi identitas satu masyarakat.

Ketika Bibit Aren Menjadi Doa Kecil untuk Masa Depan

Di sesi berikutnya, anak-anak dibawa mengenali fungsi ekologis dan budaya kelekak. Mereka menyentuh kulit batang aren, mencium aroma daun rempah, melihat capung hinggap di permukaan tanah lembap.

Kemudian mereka belajar membibitkan aren.

Setiap anak memegang satu bibit kecil.

Ada kesunyian yang tidak biasanya muncul dari anak-anak SD.

Mereka memegang bibit itu seperti memegang masa depan mereka sendiri.

“Kalau aku tanam, nanti tumbuh jadi pohon aren betulan, Bu?”

“Betul,” jawab fasilitator.

“Dan kalau tumbuh, itu artinya kau sudah menjadi penjaga kelekak.”

Momen itu menjadi semacam inisiasi kecil yang tak direncanakan.

Siang Hari: Para Ilmuwan Berkumpul untuk Mengurai Akar Masalah.

Selepas dari sekolah, kegiatan dilanjutkan ke Kelekak Andre Zed, tempat diskusi dihadiri peneliti, arkeolog, akademisi, dan pemerhati lingkungan.

Mengapa kelekak hilang? Apa yang membuat masyarakat meninggalkannya? Mengapa sawit lebih dominan? Apa solusi ekonomisnya?

Pertanyaan-pertanyaan itu dijawab satu per satu:

Dr. Dian Akbarni, M.Si: Ekologi UMBB

“Kelekak akan terlindungi jika masyarakat mendapatkan manfaat akhirnya. Ekologi dan ekonomi tidak bisa lagi berjalan sendiri-sendiri.”

Dr. Rozza Tri Kwatrina: BRIN

“Kelekak adalah identitas Melayu Bangka. Jika hilang, maka hilang akar budaya kita.”

Anita Riani, S.Pt., M.Si: Arkeologi Budaya

“Kelekak menyimpan jejak pemukiman. Ia bukan kebun biasa, melainkan lanskap budaya.”

Imawan Wahyu Hidayat, M.Si: Ekolog

“Di ekologi, ujian tertinggi bukan pengetahuan tetapi istiqomah.”

Firdaus Marbun, S.Ant., M.Si: BRIN menyampaikan data mengejutkan:

Tahun 1935 terdapat 135 kelekak. Kini hanya tersisa sebagian kecil.

Penyebab: ekspansi sawit, jual-beli lahan, perubahan pola hidup, hilangnya nilai ekonomis kelekak

Nurul Ichsan, M.Si: Bappeda Babel

“Arsip Belanda menunjukkan kelekak terdiri dari aren, kakao, lada, kelapa komoditas bernilai tinggi. Kita hanya perlu menghidupkannya kembali.”

Diskusi itu seperti pembacaan diagnosis medis terhadap tubuh pulau yang sedang terluka.

Pukul 15.00, semua peserta anak sekolah, mahasiswa, peneliti, masyarakat bersama-sama menanam pohon aren.

Tidak ada pidato panjang, tidak ada simbolisme formal.

Yang ada hanyalah tangan-tangan kecil menimbun tanah di atas akar bibit.

Ada sesuatu yang hening namun kuat di sana. Seakan pulau ini menghela napas lega meski sebentar.

Kelekak, Identitas yang Menunggu untuk Dihidupkan Kembali. Jika kelekak hilang, yang hilang bukan hanya kebun. Yang hilang adalah: ingatan, identitas, pengetahuan lokal, dan hubungan manusia dengan tanah. Namun hari itu, dari SD kecil di Desa Zed, muncul tanda yang berbeda: bahwa generasi muda siap mengambil alih tongkat estafet. Mereka memulai sesuatu yang mungkin lebih besar dari mereka sendiri. Dan mungkin, dari bibit aren yang mereka tanam hari itu, sebuah masa depan pelestarian kelekak benar-benar dimulai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *