Kakek yang Menyeberang Jalan

Oleh : Mersinta (Siswa SDN 8 Namang)

 

Di suatu hari di pagi yang cerah, aku terbangun dari tidurku.Saat aku terbangun ada yang memanggilku. Suara itu berasal dari dapur rumahku. Ternyata itu ibuku yang ingin membangunkanku karena hari ini adalah hari di mana aku bersekolah di sekolah baruku.

Aku pun pergi ke kamar mandi karena saat itu aku sudah bersemangat untuk bersekolah di sekolah baruku. Selesai aku berada di kamar mandi, aku memakai seragam sekolahku dengan rapi dan wangi. Selesai dari itu aku dipanggil oleh ibu untuk sarapan bersama-sama.

Aku pergi ke dapur untuk sarapan bersama-sama yaitu dengan ayah dan ibuku. Saat kami sarapan bersama-sama, ibuku bertanya kepadaku.

“Nak apakah kamu siap bersekolah di sekolah barumu?”

Dan aku menjawab, “Ya bu, tentu saja aku siap untuk sekolah di sekolah baruku.”

Ayah bilang kepadaku, “Wah, sepertinya kamu sudah bersemangat sekali!”

Aku menjawab lagi, “Tentu saja aku semangat, karena aku akan mendapat teman baru.”

Selesai kami sarapan bersama, aku pamit kepada bu dan ayahku.

“Ibu, ayah…aku pamit ya!”

Mereka menjawab, “Ya Nak, berhati-hatilah.”

Setelah aku pamit ke ayah dan ibu, aku berangkat ke sekolah baruku dengan berjalan kaki karena ingin mencari udara segar. Di setengah perjalanan aku melihat seorang kakek yang kesusahan menyeberang jalan raya yang begitu ramai. Aku tidak hanya diam, aku menghampiri sang kakek, lalu bertanya, “Permisi, Kek. Apakah Kakek saat ini sedang kesusahan menyeberang jalan?”

Kakek itu tersenyum dan berkata, “Kamu benar, Cu. Kakek ingin menyeberang jalan tetapi jalan ini terlalu ramai untuk kakek lewati sendirian.”

Aku menawarkan bantuan, “Kalau begitu, aku akan membantu kakek untuk menyeberang jalan.”

Aku memegang tangan sang kakek tersebut lalu menyeberang bersama-sama. Selesai kami menyeberang, kakek itu tersenyum dan berkata, “Terima kasih, Cu karena kamu, Kakek bisa menyeberang jalan yang begitu ramai ini!” ujar kakek itu sambil tersenyum lebar.

Aku menjawab, “Sebenarnya Kakek tidak perlu berterima kasih karena aku hanya ingin menolong. Dan sebenarnya menolong orang itu adalah kewajiban semua orang.” Tak lupa aku membalas senyuman lebarnya. Lalu kakek itu bertanya, “Cu, jawab pertanyaan kakek, ya! Mengapa kamu memakai seragam yang begitu rapi?” Aku menjawab, “Soal itu karena aku di hari ini akan bersekolah di sekolah baruku.”

“Wah kalau begitu semangat ya, Cu untuk sekolah barunya!” jawab si kakek.

Lalu kakek itu melambaikan tangannya, sambil berkata, “Dadahh!”

Aku pergi sambil membalas lambaian tangannya.

Sesampainya aku di sekolah baruku, aku mendapatkan teman baru. Dia bertanya kelas ku…aku pun menjawab. Ternyata aku sekelas dengan temanku tersebut. Tidak lama kemudian, bel masuk kelas pun berbunyi.

Kami memasuki kelas, dan wali kelasku memanggilku untuk memperkenalkan diri. Aku maju ke depan kelas dan memperkenalkan diri. Selesai aku memperkenalkan diri, wali kelasku menyuruhku untuk bercerita apa yang terjadi di pagi hari tadi. Ternyata wali kelasku melihat apa yang terjadi di pagi hari tadi. Aku menceritakan semuanya. Semua bertepuk tangan, apa yang wali kelas ku bilang? “Hebat, Nak, kamu adalah pahlawan!”

Setelah itu kami berdoa dan memulai pelajaran. Tidak lama kemudian, bel istirahat berbunyi. Aku ikut bersama teman-temanku menuju ke kantin sekolah. Di saat kami sedang duduk salah satu temanku bilang, “Wah, coba saja aku bersamamu di pagi hari tadi, pasti aku akan melihat semua yang terjadi!”

Tidak lama kemudian bel masuk kelas berbunyi, kami pun memasuki kelas.

Di kelas kami melanjutkan pelajaran. Setelah pelajaran selesai, bel pulang sekolah berbunyi, aku pulang kerumah.

Sesampainya aku di rumah, aku menceritakan semua nya ke ibu dan ayahku. Bahwa aku menolong kakek dan aku diberi tepuk tangan lalu wali kelasku bilang kepadaku bahwa aku adalah seorang pahlawan. Ibu dan ayahku menjawab, “Yang dikatakan wali kelasmu itu benar, Nak. Kamu adalah seorang pahlawan. Sejak saat itu aku dikenal sebagai hero seorang kakek, dan sejak saat itu aku disayangi semua orang. (BP / KM)*

 

Catatan : Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kecamatan Namang Tahun 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *