Oleh: Muhammad Fahri (Siswa SMPN 1 Koba)
“La, la, la…ombak datang, pasir hilang, angin pulang.”
Aku bersenandung pelan, lagu yang tak tahu kapan pertama kali ku dengar. Mungkin lagu ini milik laut, atau milik Bangka itu sendiri. Setiap nada yang terlantun membuatku merasa dekat pada rumah, pada kata dan pada kenangan yang lama hilang.
Di tempat seperti inilah aku tumbuh: bersama debur ombak dan pasir putih yang meninggalkan jejak masa kecilku. Mereka memanggilku Erin, gadis yang lebih suka mendengar bisik laut daripada keramaian kota.
Hubunganku dengan Bangka tak sekedar sebagai tempat tinggal. Aku pernah menapaki danau kaolin, menyusuri linau, dan menatapi berbagai bukit rendahnya, menurutku menjelajah tak harus dengan pergi ke alam bebas, menjelajahi kata-kata yang hampir hilang juga termasuk petualangan, bukan?
Bagi sebagian orang, Bangka hanyalah pulau kecil di antara beribu pulau di negeri ini. Tapi bagiku, Bangka adalah nadi yang berdetak pada ombak laut dan langit.
Sore itu aku berjalan di sepanjang pantai. Ombak pelan menyentuh batu, dinginnya mengalir ke kaki. Setiap batu di tepi pantai ini seolah menyimpan kisahnya sendiri. Entah itu tentang kapal yang tak pernah kembali, entah tentang kata-kata yang kini jarang diucapkan.
Aku teringat dengan masa kecilku; ketika berlari dan mencari kerang yang bersinar pada tumpukkan pasir. Kini, pantai yang ku datangi masih sama, hanya langkahku yang berbeda.
Aku tak mencari kerang lagi, melainkan meratapi kenangan yang telah lama hilang saat terbenamnya matahari.
Dan pagi itu datang dengan bau asin yang sama. Angin menyibak tirai jendela, mendatangkan udara laut yang menyegarkan. Tapi ada sesuatu yang janggal.
Aku melihat jam dinding. Terlambat.
“Ish…Makan dulu Erin! Jangan keluar rumah dengan perut kosong, nanti kamu kepunen!”
Aroma nasi panas dan sambal terasi memenuhi ruangan. Ibu telah di dapur.
Kepunen?
Kata apalagi itu?
Aku mengiyakan ucapan ibu lalu menyambar tas dan pergi dengan perut yang memberontak.
Tepat pada pukul setengah delapan, aku bergegas berlari yang sebentar lagi gerbang akan ditutup.
“Pak! Tunggu dulu! Jangan ditutup!” teriakku dari kejauhan. Untungnya aku masih dapat masuk meski dengan keadaan yang tergesa-gesa. Ternyata aku tak sendirian. Yosep pun ikut telat. Namun perhatianku bukan padanya, melainkan pada sebuah tanda atau simbol. Atau sekadar ilusiku saja.
Setibanya memasuki kelas, aku heran simbol itu juga tak kunjung hilang. la datang dari segala arah secara membabi buta. Bahkan saat aku memejamkan mata sekalipun, ia datang dalam pandangan yang gelap gulita. Muak, sungguh muak, simbol yang menjengkelkan.
“Kringgg!”
Bel istirahat berbunyi. Tak tahan lagi aku bergegas pergi ke kamar mandi, bukan untuk buang air kecil ataupun besar, namun mencuci muka berharap simbol itu luntur dalam aliran air.
Di kamar mandi, hanya ada aku, cermin, dan simbol itu. Simbol bertitik dua bermotif ombak yang melengkung. Aku mencoba mengusapnya, malahan ia berpindah.
Saat mengguyurkan muka dengan derasnya air mengalir, ternyata masih sama saja. Simbol itu tetap bersikeras tak menghilang.
Tibalah saat simbol itu terdiam, mungkin tengah lengah. Aku mengusapnya perlahan dalam diam
Dan seketika…
Yang awalnya cermin memantulkan diriku sekarang telah berubah menjadi cahaya silau yang membawaku pada tempat yang terdapat tulisan-tulisan asing.
Lalu saat pasir dan debu menutupi pandanganku, muncul seorang kakek tua berambut putih panjang dengan wajah yang penuh kerutan.
“Erin, selamat datang di alam kata!” sambutnya dengan suara serak.
“A-Alam kata? Tempat apa ini?” tanyaku bingung.
“Ya, alam kata. Di sinilah kata-kata yang dilupakan tinggal dan menunggu untuk di kenang kembali.”
Aku menelan ludah, terdiam sejenak. Dan kakek itu berbisik lirih lagi.
“Erin, ingatlah kata-kata yang mulai hilang di bibir orang Bangka. Itulah kunci untuk dirimu pulang.” bisiknya lagi dan catatlah setiap kata dengan maknanya di bukumu.”
Angin tiba-tiba berembus dingin, menandakan bahwa ia datang saat kepergian sang kakek.
Lalu angin berubah menjadi kabut gelap. Kabut itu berputar membuat jalan setapak yang melintangkan garis lurus yang bercabang.
Pandanganku tertuju pada kata pasar, pantai, dan rumah tua.
Aku melangkah, terus melangkah, tanpa arah. Hanya berjalan lurus dan mendapati bangunan-bangunan pusat pembelajaan tua; pasar yang berada di setiap sudut.
Aku melewati deretan warung kosong, hingga tiba pada satu lapak yang kelihatan agak hidup dan masih buka.
Ku temukan seorang wanita, wanita tua yang sedang mengolah sesuatu.
“B-Bu! Permisi!” panggilku.
Tapi apa, dia hanya menoleh dengan mata sayunya dan tak menjawab apa-apa. Tak pernah aku diabaikan seperti ini.
Lalu datang suara berat dari balik meja.
“Belacan.”
Di sana terdapat seorang lelaki tua berpakaian lusuh penuh noda garam.
“B-Be-lacan?” ulangku ragu.
Kedua pasangan itu mengangguk lalu mulai dari salah mereka memegang toples sembari menjelaskan.
“Dulu belacan dikenal oleh semua orang Bangka. Tapi seiringnya zaman berlalu, istilah terasi tak lagi digunakan dengan sebutan belacan. Walaupun belacan bukan asli dari sini, kita punya terasi dan belacan khas. Proses pembuatannya adalah dengan menumbukkan udang lalu diawetkan dengan garam, dan itulah alasan mengapa baunya sangat menusuk hidung. Dan biasanya orang Bangka membakarnya terlebih dahulu sebelum diolah lebih lanjut.” Jelasnya panjang lebar, sangat rinci.
“Oh aku mengerti sekarang! Terasi yang digunakan ibu biasanya adalah belacan khas Bangka. Dan juga aku pernah melihat ibu membakarnya.” ujarku antusias.
Mereka berdua tersenyum seakan lebih lega.
Cepat-cepat aku mengeluarkan buku catatanku yang ku simpan dalam kantong celana lalu menulisnya:
Belacan, udang tumbuk yang diawetkan dengan garam. Dan biasanya orang Bangka membakarnya terlebih dahulu sebelum dimasak.
Kemudian, aku keluar dari lapak itu dan jalan tadi mengeluarkan cabangnya, namun sedikit memendek.
Tujuanku berikutnya adalah pantai.
Aku melangkah lagi dan keluar dari area pasar tadi.
Sebelum setapak kaki menyentuh pasir, suara ombak terlebih dahulu menyertai.
Dari kejauhan, terlihat seorang Ibu dan dua anaknya yang sedang makan dari bawah naungan pohon kelapa.
Satu anak lahap, tengah mengunyah. Satunya lagi tengah bermain bersama pasir dan ombak.
“Nak, kemari biar Ibu menyuapkan kamu makan!” panggil sang Ibu pada anak yang sedang bermain.
Anak itu menghampiri lantas mengatakan,
“Tak Ibu! Aku tidak mau makan!” ujar sang anak.
Sebelum hendak anak itu kembali bermain, Ibunya menarik tangannya pelan lantas menyuapkannya sesendok nasi.
“Biar tidak…, Nak!”
Aku tertinggal satu kata, seolah laut membuatku tuli sejenak.
Lalu keajaiban datang, ombak menggulung menghampiriku, dan pasir putih yang mengikat kakiku dari bawah. Datanglah sang Ibu yang tadi menyuapkan anaknya makan.
“Gadis cantik, aku ingin bertanya sesuatu.” katanya.
“Pertanyaaan apa dan tentang apa?” tanyaku ambigu.
“Apa sebutan mitos atau pamali yang merujuk pada kesialan yang akan ditimpa seseorang apabila menolak tawaran makanan ataupun minuman?”
Benakku teringat dengan kejadian tadi pagi. Kata itu, k-ke-pu-pu-nen?
“Kepunen!
“Apakah benar?” tanyaku lagi.
Dia mengusap kepalaku lantas mengangguk.
Ku tuliskan kata itu:
Kepunen; mitos atau pamali yang merujuk pada kesialan yang akan ditimpa seseorang apabila menolak tawaran makanan ataupun minuman.
Lalu laut mengibas tubuhnya dan hilang.
Seketika jalan bercabang tadi memendek lagi. Ombak mengantarku pada rumah tua.
Dari luar jendela, nyanyian lembut terdengar layaknya lagu pengantar tidur.
Ak ke dalam, seorang nenek penjaga rumah tengah mengayunkan rotan kecil di sisi ruang.
Aku menghampirinya.
“Ambin.” katanya.
Aku mendekat dan menatapi ayunan itu, tak ada anak ataupun bayi?
“Ayunan tempat bayi tidur dan sebuah gendongan lembut? Tapi kenapa tidak ada bayi di sini?” tanyaku bingung menatapi nenek itu.
“Aku hanya menidurkan kenangan yang telah lama hilang, Rin.” jawabnya menatapku lembut.
Aku tuliskan kata itu di halaman baru:
Ambin, sebuah ayunan tempat bayi tidur juga sebuah gendongan, simbol kasih sayang rumah Melayu Bangka.
Nenek itu perlahan berpendar, sedikit demi sedikit ia hilang dan sirna dalam satu kedipan mata.
Hari berganti wajah menjadi malam. Mataku tertuju pada api kecil yang menari di halaman lumbung tua. Aku mendekatinya dan nampak seorang anak yang sedang menyantap berbagai hidangan laut.
Dari pagi perutku belum sempat merasakan rasa kenyang, yang ada rasa lapar yang memberontak.
“Nak, apakah boleh kita berbagi makan? Perutku sangat lapar.”
Anak baik itu tanpa ragu menaruh makanan laut di atas daun pisang. Kami makan bersama sambil menyaksikan bintang-bintang. Hingga tak sadar bahwa aku makan terlalu banyak. Tapi keanehan terjadi di sini, kepalaku berputar, pandangan buram, dan ingin muntah tapi tertahan.
“Ah makanan ini sangat lezat.” ucapku sebelum pingsan.
“Kak! Kamu makan terlalu banyak, jadi kedadak!” ujarnya dengan suara keras.
Aku bangun, mencoba memahami kata itu dengan keadaan kepala berat.
Mungkin apa yang ku tulis benar.
Kedadak: berlebihan makan terutama makanan laut yang bisa membuat keracunan. Gejalanya pusing, mual, dan bahkan muntah.
Aku berpamitan pada anak polos tadi dan meninggalkan lumbung tua lalu menuju sumur. Aku tak tahu pasti mengapa aku datang ke sumur ini, yang ku tahu hanya bahwa dahagaku sangat haus.
Aku menatap air lalu ada suara yang menggema.
“Erin, satu kata lagi. Kau akan selesai!”
Kakek itu di belakangku, membisikkan kalimat itu. Entah kenapa ia hilang saat mataku ingin melihatnya. Aku mengambil air itu dengan kedua tangan yang di satukan.
“Sauk.”
Suara kakek itu lagi, tapi kini tak ada keberadaannya, hanya angin yang singgah sebentar.
“Sauk ya? Gerakan tangan dalam mengambil air atau menimbanya?”
Kakek itu datang kembali lantas berkata.
“Benar, sekarang kau boleh pulang.”
Saat kakek itu mengatakan sepatah kalimat tadi, aku spontan menulis di buku catatan lagi: Sauk; gerakan tangan dalam mengambil atau menimba air.
Begitu tinta terakhir tergores, dunia menggetarkan isinya layaknya mengeluarkan semua asa yang tersimpan. Cahaya pun melingkupi semesta, dan saat itulah mata kututup dengan rapat. Serta kata-kata yang ku temukan tadi: belacan, kepunen, ambin, kedadak, dan sauk terbang dari buku catatan lalu berubah menjadi bintang-bintang kecil.
Saat aku membuka mata, aku telah terbaring di lantai kamar mandi. Aku bergegas untuk pulang, waktu menunjukkan bahwa sebentar lagi akan malam.
Di rumah, aku melihat Ibu sedang memasak sambal belacan. Ibu menyuruhku untuk mengambil air dari kendi. Aku meraupnya dan Ibu terheran melihat aku melakukannya.
“Sekarang kau tahu caranya, Rin?” ujar Ibu.
“Hehe, baru belajar Bu!” sautku.
Aku berjalan menuju kamar, tapi ambin tua seakan menyuruhku mampir. Aku mengayunya pelan seperti menidurkan kenangan lama yang hilang.
Dari jendela aku melihat rasi bintang yang sama dengan simbol saat itu. Berbentuk ombak bertitik dua melengkung. Dan perlahan lenyap saat aku memejamkan mata.
Dari angin yang menerobos sisi jendela terdengar ucapan terimakasih dari mereka. Mereka di alam kata.
“Malam, Bangka!” ucapku lirih. “Aku takkan lupa.” (BP/ KM)*
Cerpen ini merupakan karya peserta Lomba Menulis Cerpen dalam rangka memperingati Bulan Bahasa yang diselenggarakan oleh MGMP Bahasa Indonesia, Bangka Tengah di Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, 23 Oktober 2025.












