Nahkoda baru kini memegang kemudi,
Kapal besar NU siap menembus samudra.
Lima tahun mendatang masa pembuktian,
Ke mana arahnya? Kita bertanya dalam hati.
Apakah tiang kekokohan takkan goyah?
Apakah akar tradisi tetap tegak berdiri?
Di tengah ombak zaman yang terus berubah,
Bisakah kita berdiri tanpa kehilangan diri?
Ekonomi umat janji yang selalu dinanti,
Apakah benar-benar mengalir ke tangan yang butuh?
Atau hanya berputar di lingkaran yang sama saja?
Semoga berkah merata hingga ke kampung paling bawah.
Tradisi leluhur harus tetap dijaga,
Namun tak boleh jadi tembok yang menutup pandangan.
Menjawab zaman tanpa kehilangan jati diri,
Itulah seni menjaga NU tetap hidup dan tumbuh.
Yang paling dalam, yang paling ditunggu jiwa:
Apakah NU makin dekat pada rakyat kecil?
Yang selama ini berjalan bersama dalam sepi,
Apakah suara mereka tetap didengar dan dijunjung?
Bukan untuk makmur sekelompok orang semata,
Bukan untuk menjadi kekuatan yang angkuh dan jauh.
Tetap menjadi rumah bagi siapa saja yang butuh,
Tempat berlindung, tempat tumbuh, tempat berpulang.
Gus Kikin memegang kemudi dengan harapan tinggi,
Beban di pundakmu adalah doa jutaan jiwa.
Bukan beban ringan, bukan jalan yang lurus selalu,
Tapi doa warga Nahdliyyin selalu menyertai setiap langkah.
Kapal sudah siap, layar telah terbentang luas,
Anak buah sudah bersiap di setiap sisi.
Tak perlu janji manis yang hilang dibawa angin,
Cukup bukti nyata yang dirasakan hingga ke akar rumput.
Kita berdoa, semoga arahnya benar dan tepat,
Tetap di jalur yang dirintis para pendahulu dulu.
Maju membawa kemaslahatan seluruh umat,
Kembali memeluk rakyat, tumbuh dalam rahmat Allah.
Indonesia,1 September 2026












