Keajaiban Qārūn dalam Pandangan Ahli Ma‘rifat

Oleh:  Ustadz Yanto  (Guru, Motivator & Da,wah Indonesia) 

Bekaespedia.com, Dalam pandangan ahli ma‘rifat, Qārūn bukan hanya kisah tentang orang kaya yang binasa oleh hartanya. Ia adalah pelajaran batin paling halus tentang tipu daya nikmat , ketika karunia berubah menjadi hijab, dan keberhasilan menjelma menjadi ujian paling berat.

Qārūn diberi Allah kekayaan yang luar biasa.

Bukan sekadar cukup, tetapi melimpah hingga kunci-kunci gudangnya dipikul oleh banyak orang. Namun keajaiban Qārūn dalam makna pelajaran rohani, terletak pada satu kalimat yang keluar dari lisannya:

إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِي

“ _Sesungguhnya aku diberi semua itu karena ilmuku_ .”

(QS. Al-Qashash: 78)

Di sinilah ahli ma‘rifat membaca rahasia besar:

ketika nikmat dinisbatkan kepada diri, saat itulah ia berubah menjadi bencana

Qārūn tidak mengingkari Allah secara terang-terangan seperti Fir‘aun, tetapi ,menggeser peran Allah secara halus dari Pemberi menjadi sekadar latar, dan dirinya tampil sebagai pusat sebab.’

Ahli ma‘rifat melihat “keajaiban” Qārūn bukan pada kekayaannya,

melainkan pada bagaimana harta dapat menipu hati yang lalai.

Harta membuatnya:

– merasa aman dari takdir

– merasa unggul dari sesama

– merasa tak butuh nasihat

– dan akhirnya lupa bahwa semua yang ia genggam hanyalah titipan.

Padahal para arif tahu:

harta bukan ujian saat sedikit, tetapi saat berlimpah.

Qārūn tidak jatuh karena miskin,

ia jatuh karena tidak mampu membawa amanah nikmat.

Ia menolak nasihat orang-orang saleh yang berkata:

“Janganlah engkau berbuat sombong, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong”

Namun ada pelajaran batin yang lebih dalam:

Allah menenggelamkan Qārūn bersama hartanya ke dalam bumi.

Ahli ma‘rifat memaknainya sebagai simbol:

apa pun yang terlalu dicintai dunia akan menarik pemiliknya jatuh bersamanya.

Keajaiban Qārūn adalah peringatan keras namun penuh rahmat:

– bahwa sukses tanpa syukur adalah jebakan

– bahwa prestasi tanpa tawadhu’ adalah kehancuran

– bahwa kaya tanpa zakat, empati, dan amanah adalah kebinasaan yang ditunda.

Ahli ma‘rifat tidak mencela kekayaan,

karena mereka tahu banyak nabi dan wali yang kaya.

Yang mereka takuti adalah kaya yang memisahkan hati dari Allah.

Maka mereka berdoa: “Ya Allah, jangan Engkau jadikan apa yang Engkau beri sebagai hijab antara kami dan Engkau”

Itulah “keajaiban” Qārūn dalam pandangan ahli ma‘rifat:

bukan kisah tentang harta, tetapi kisah tentang hati yang gagal menanggung cahaya nikmat.

Karena sejatinya,

nikmat terbesar bukan apa yang berada di tangan, tetapi apa yang tetap membuat hati tunduk kepada Allah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *