Oleh: Rifqi Hafis Salsabil (Siswa SMPN 7 Sungaiselan)
Pagi itu angin menyapaku dengan lembutnya. Matahari seolah-olah tersenyum di balik awan. Pandanganku tertuju kepada sosok laki-laki yang sedang duduk di kantin. Tubuhnya yang kurus dan tinggi mengingatkanku kepada sahabatku dulu. Tanpa ragu aku pun langsung menghampirinya dan ingin mengenalnya.
“Hei lagi ngapain, nungguin seseorang ya?” Sambil menepuk pundaknya.
“Hmm… lagi duduk aja.” Jawabnya dengan suara pelan.
“Siswa baru ya?” Tanyaku penasaran.
“Iya, aku baru pindah.” Jawabnya malu-malu.
Bel masuk pun berbunyi tanda masuk kelas. Seketika percakapan kami terhenti. Aku langsung bergegas masuk ke kelas dan meninggalkan siswa baru itu. Pagi ini jam pelajaran pertama adalah olahraga. Aku langsung bergegas mengganti seragam sekolah dengan pakaian olahraga dan pergi ke lapangan. Karena aku tidak ingin dihukum oleh guruku.
“Cepat baris, yang terlambat Bapak hukum!” Terdengar suara tegas dari guruku.
“Iya, siap pak” Jawab kami sekelas.
“Berhitung mulai!”
“Satu, dua, tiga…”
“Baiklah, dengarkan anak-anak hari ini kita kedatangan teman baru. Silakan maju dan perkenalan.”
“Halo teman-teman. Perkenalkan nama saya Fransisco, teman-teman bisa memanggil saya Fran saja. Saya berasal dari Flores. Sekarang saya tinggal di sini. Mohon kerja samanya ya teman-teman agar kita bisa berteman akrab.”
“Halo juga Fran, nanti kalau butuh bantuan jangan malu-malu, ya.” Jawab kami semua serentak.
Bel pergantian pelajaran pun berbunyi. Kami semua mengajak Fran untuk masuk ke kelas bersama. Aku melihat Fran begitu pendiam di dalam kelas, mungkin karena Fran baru masuk ke sini. Kebetulan kursi di sampingku kosong. Karena siswa di kelas kami ganjil, aku mengajak Fran untuk duduk bareng. Akhirnya sekarang aku memiliki teman sebangku setelah sekian lama aku sendirian. Aku ingin mengenal Fran lebih dekat. Tetapi, aku bingung harus memulainya dari mana.
“Fran, kemarin kamu sampai di sini hari apa?”
“Hari Sabtu kemarin.”
“Oh… berarti sudah seminggu di sini. Kenapa kamu pindah sekolah?”
“Karena ayahku berpindah tugas di daerah sekitar sini.”
“Oh… ayah kamu berpindah tugas. Sudah berapa kali kamu pindah?”
“Sudah tiga kali aku pindah.”
“Wah asyik dong dapat teman baru terus. Kalau boleh tahu di mana saja pindahnya?”
“Bangka, Palembang, Flores, dan berakhir lagi di Bangka.”
“Bangka? Kapan kamu ke Bangka? Tanyaku semakin penasaran.
“Kalau tidak salah waktu kelas tiga SD dulu. Aku juga SD di kampung ini.”
“Ha.. jangan-jangan kamu sahabatku dulu. Soalnya nama kalian sama.”
“Kamu Davvi, ya?” Sambil tersenyum.
Seketika kami berdua tertawa bersama. Ternyata dia adalah sahabat yang ku kenal dulu. Persahabatan kami pun semakin erat. Sepulang sekolah kami bermain bersama dan belajar bersama. Kami saling berbagi cerita, pengalaman, dan mempelajari budaya satu sama lain. Persahabatan kami tidak memandang suku, ras, agama, budaya, dan adat Istiadat Hari-hariku semakin terasa menyenangkan karena aku memiliki sahabat. Tidak peduli sahabat itu dari dalam maupun luar daerah.
Pada suatu hari, saat kami berdua sedang mengikuti kegiatan pramuka. Aku, Fran, dan kawan-kawan lainnya dipilih untuk mengikuti Perkemahan Jumat Sabtu (PERJUSA). Kami berdua sangat senang karena bisa berpetualang menyusuri hutan, sungai, dan rawa-rawa. Kami lompat-lompat kegirangan memikirkan hal itu. Sehingga kami ditegur oleh Kakak Pembina kami.
“Hei kenapa kalian berisik? Hormati orang yang sedang berbicara di depan. Coba kalian yang berbicara di depan dan tidak dihormati, mau!” Kata Kakak Pembina dengan tegas.
“Tidak Kak, kami janji tidak akan mengulanginya lagi.” Jawab kami berdua ketakutan.
“Baiklah, nanti jika kalian sudah sampai di lokasi perkemahan kalian harus menjaga sikap kalian, seperti tidak berkata kotor, jangan buang air besar dan kecil sembarangan, dan tidak membuang sampah sembarangan. Karena perkemahan kalian dekat dengan hutan dan kampung orang, paham!” Nasihat dari Kakak Pembina kami
“Paham Kak” Jawab kami serentak.
Keesokan harinya, aku, Fran, dan kawan-kawan lain berkumpul di sekolah. Kami pergi menggunakan mobil. Perjalanan kami begitu bosan. Kami mempunyai ide untuk saling berbagi cerita seram agar perjalanan kami tidak membosankan. Kini saatnya giliran aku yang bercerita.
“Kalian tau tidak, kalau lokasi perkemahan yang kita tuju itu dekat dengan hutan angker, loh. Ada penduduk sekitar pernah mencium aroma ubi bakar dan bunga melati. Padahal tidak ada orang yang sedang membakar ubi dan tidak ada juga bunga melati di sekitar situ. Penduduk setempat juga pernah melihat sesok hantu kuntilanak dan genderuwo lo di pohon beringin yang sangat tus dan besar. Mengerikan teman-teman.” Aku bercerita dengan ekspresi wajah yang serius.
“Apakah cerita itu benar?” Fran bertanya penasaran.
“Tergantung kamu mau mempercayainya atau tidak.” Aku menjawab dengan datar.
Ternyata perjalanan kami tidak terasa. Kami sudah sampai di lokasi perkemahan tersebut. Tempatnya kotor penuh dengan semak-semak, rumput jalar, dan buah liar. Kami semua bergegas membersihkan tempat itu karena kami ingin membangun tenda. Setelah kami semua membersihkan tempat itu kami langsung membangun tenda dan mempersiapkan peralatan kami.
Malam pun tiba, kami semua bergegas memakai seragam pramuka. Karena acara yang kami tunggu-tunggu adalah api unggun. Tetapi lokasi api unggun itu lumayan jauh. Sehingga harus melewati hutan yang aku ceritakan tadi di perjalanan. Angin malam begitu dingin sehingga menembus baju kami yang berlapis dua. Tiba-tiba tercium aroma ubi bakar dan bunga melati. Fran langsung bergegas mencari keberadaaan kedua bau tersebut.
“Fran… hati-hati jangan terlalu cepat berlari. Karena banyak lubang. Aku begitu mengkhawatirkan!”
“lya, santai aja!” Jawabnya dengan santai.
“Kresek, kresek, kresek.” Terdengar suara aneh dari semak-semak. Aku pun mengumpulkan keberanian untuk melihat isi di dalam semak-semak itu. Tiba-tiba muncul sosok putih dari dalam semak-semak. Dia menangkapku dan membiusku. Dengan tenaga terakhirku sebelum kehilangan kesadaran aku berteriak sekencang mungkin. Berharap ada yang mendengar teriakkanku.
“Tolong…..” Teriakku.
“Davvi? Davvi kamu di mana?” Teriak Fran mencariku.
Beberapa saat kemudian, aku terbangun dari pingsanku dan berkata, “Aku dimana?”
Aku mencoba berteriak sekencang mungkin meminta tolong. Namun, tidak ada seorang pun yang mendengar. Tiba-tiba ada dua orang berbaju hitam dan putih masuk ke ruangan. Aku langsung pura-pura pingsan. Di sana aku melihat ada ubi bakar dan bunga melati. Sepertinya mereka adalah dalang dari semua ini. Aku bergegas kabur dari tempat itu perlahan-lahan dengan kedua tangan terikat. Matahari pun terbit, burung-burung mulai berkicauan. Aku tidak berhenti teriak meminta tolong, dan berharap ada yang menolongku.
“Tolong! Tolong! Tolong!” Suaraku sudah hampir habis.
“Davvi? Apakah itu kamu?” Terdengar samar-samar suara Fran.
“Fran tolong aku. Syukurlah aku bertemu kamu. Nyawaku jadi tertolong.”
“Iya syukurlah,” jawab Fran sambil mengelus dada.
Kami pun langsung pergi menuju ke perkemahan. Di sana aku langsung diberi obat dan minum untuk mengobati lukaku. Aku langsung memberitahu kepada semua orang tentang kejadian tadi malam. Orang-orang pun langsung pergi ke tempat tersebut. Namun, mereka tidak menemukan apa-apa di sana. Akhirnya kami pulang ke rumah masing-masing dengan selamat. Setelah kejadian ini, aku dan Fran berjanji untuk saling menjaga satu sama lain dan sering berkomunikasi. Malam harinya Fran menginap di rumahku.
“Sahabatku dari luar daerah bahkan lebih dekat dari pada kawan sekampung. Benarkan Fran?” Tanyaku suatu malam.
“lya, kamu benar Davvi,” Fran menjawab sambil tersenyum.
Kami akan saling menjaga persahabatan ini dalam keadaan suka dan duka. Kami berdua berjanji untuk saling menjaga persahabatan kami meski jarak memisahkan. Karena jarak bukanlah halangan bagi persahabatan kami. (BP/ KM)*
Cerpen ini merupakan karya peserta Lomba Menulis Cerpen dalam rangka memperingati Bulan Bahasa yang diselenggarakan oleh MGMP Bahasa Indonesia, Bangka Tengah di Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, 23 Oktober 2025.












