Oleh : Naura Mahira (Siswa SDN 18 Mendobarat)
Cerita ini menceritakan tentang Naura Mahira, siswa kelas 5 SD Negeri 18 Mendobarat. Naura seorang anak periang, penyabar dan baik. Naura tinggal bersama ayah dan ibunya di Desa Cengkong Abang.
Matahari mulai terbit, Naura masih tertidur lelap di atas tempat tidurnya. Terdengar suara ibunya dari luar kamar yang memanggil nama Naura.
“Naura bangun, nanti kita mau pergi ke kubur kakek,” ucap ibu yang memanggil nama Naura dengan sedikit teriakan.
“lya bu, bentar lagi masih ngantuk,” jawab Naura kepada Ibunya.
Naura pun terbangun dari tempat tidurnya sambil mengusap matanya yang terlihat masih sangat ngantuk. Saat berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka agar tidak ngantuk lagi, Naura berpapasan dengan ayahnya. Naura langsung bertanya kepada ayahnya.
“Yah, nanti kita pergi kan ke kubur kakek?” ucap Naura sambil tersenyum kecil.
“Iya, tapi sebelum pergi ke kubur kita pergi nganggung dulu ya,” jawab ayah sambil mengusap kepala Naura.
“Iya, Ayah, tapi Naura mandi dulu ya,” ucap Naura kepada ayahnya.
“Iya, Ayah juga mau bersiap-siap untuk nganggung,” jawab ayah kepada Naura sambil tertawa kecil.
Saat selesai semuanya, Naura dan ayahnya bersiap-siap untuk pergi ke Masjid Al-Marhamah yang dekat dari rumahnya. saat berjalan menuju masjid, Naura tercengang melihat keramaian orang-orang yang membawa dulang di atas kepala yang berisi makanan khas Bangka Belitung. Saat sesampainya di masjid, Naura langsung bertanya kepada ayahnya.
“Yah, mengapa setiap ruwahan kita nganggung?” bisik Naura kepada ayahnya dengan kebingungan.
Jawab ayah kepada Naura, “Karena tradisi ruwahan dapat menciptakan kebersamaan dan mempererat tali silaturahmi antarmasyarakat.”
Saat selesai nganggung, Naura dan ayah pulang untuk menaruh dulang ke rumah. Sambil menunggu ibu bersiap-siap untuk pergi ke kubur, Naura dan ayah mengambil plastik yang ada di rumah untuk memetik daun pandan dan bunga melati putih untuk ditabur di kubur kakek. Saat selesai memetik daun pandan dan bunga melati putih, Naura dan Ayah berteriak memanggil Ibu.
“Bu, sudah siap belum?” teriak Naura dan ayahnya.
“lya, ini sudah siap kok, ayo kita pergi ke kubur kakek!” jawab Ibu yang membawa sebotol air untuk disiram di kubur kakek.
Saat berjalan menuju ke kubur kakek yang dekat dari desa, Naura, ayah, dan ibu melihat orang-orang yang membersihkan kubur keluarga mereka yang telah tiada dan membaca doa. Saat sesampainya di kubur kakek, Naura, ayah, dan ibu duduk dekat kubur kakek. Saat duduk di pinggir kubur kakek, Naura berkata kepada ibunya.
“Bu, biar Naura saja ya nanti yang menabur bunga dan menyiram airnya,” ucap Naura kepada ibu sambil tersenyum kecil.
“lya, Naura,” jawab ibu kepada Naura dan menyerahkan sebotol air kepada Naura.
Saat menabur bunga, Naura sedikit bergumam, “Kek, Naura janji tahun ini akan puasa penuh,” gumam Naura kepada kakeknya yang telah tiada.
Saat selesai berziarah ke kubur kakek, Naura bersiap-siap untuk menyambut kedatangan saudara dan teman-temannya. Saat membuka pintu Naura melihat rumah-rumah tetangga yang terbuka lebar untuk menyambut kedatangan saudara-saudaranya yang berkunjung ke rumah masing-masing. Ruwahan ini terasa seperti hari raya Idulfitri. Dari kejauhan Naura melihat Delisa yang berjalan ke rumahnya. Saat sesampainya di rumah Naura, Delisa sedikit berteriak memanggil Naura.
“Naura, Aku mau namu,” teriak Delisa kepada Naura.
“Iya, masuk saja Del!” ucap Naura kepada Delisa.
“Wah, rumahmu harum sekali, pasti ibumu masak lempah kuning! Aromanya membuat aku berasa berada di restoran mewah!” ucap Delisa sambil tertawa kecil.
“Ih, kamu bisa saja Del!” ucap Naura sambil mencubit tangan Delisa dengan lembut.
“Makan saja apa yang kamu suka Del! Ibuku masak banyak loh. Selain ada kue, ibuku masak ketupat lepat loh, ada juga makanan ringan seperti bakso, tekwan, dan otak-otak,” ucap Naura sambil menarik tangan Delisa untuk masuk.
Saat selesai makan bersama di rumah, Naura dan Delisa pergi untuk namu ke rumah teman-teman yang lain yang tidak jauh dari rumah Naura.
“Del, nanti kita ke rumah Finia, ya!” ucap Naura kepada Delisa sambil tersenyum kecil.
“Oke Nau, nanti kita pergi bersama-sama ya!” ucap Delisa sambil tersenyum kecil.
Saat berjalan keluar rumah, Naura melihat keramaian orang-orang. Naura bahagia melihatnya. Ruwahan bukan hanya kesedihan mengenang yang telah tiada, tapi tentang mempererat tali silaturahmi antarmasyarakat. (BP / KM)*
Catatan : Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kecamatan Mendobarat Tahun 2026.
